“Baiklah. Kalau memang ibuku masih hidup, tolong panggilkan dan bawa naik ke kapal ini. Aku ingin memastikan apakah dia benar-benar ibuku!” pinta Dempu Awang kepada penduduk itu.
Tak berapa lama, penduduk itu datang bersama seorang wanita tua berpakaian compang-camping. Wanita tua itu kemudian segera naik ke kapal untuk menemui anaknya yang sudah lama dirindukannya. Dempu Awang mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya. Namun karena malu mengakui sebagai ibunya di hadapan istrinya, ia pun mengusir wanita tua itu.
“Pelayan! Usir nenek peot ini dari kapalku! Dia bukan ibuku. Dia hanya petani miskin yang mengaku-ngaku sebagai ibuku!” seru Dempu Awang sambil berkacak pinggang.
“Dempu Awang! Dia adalah ibumu yang telah kau tinggalkan sendirian selama puluhan tahun,” sahut seorang penduduk yang hadir di tempat itu.
“Benar, Anakku! Aku ini ibumu yang telah melahirkan dan membesarkanmu. Ibu sangat mengenal tanda goresan di keningmu bekas luka karena terjatuh dulu,” kata wanita tua.
Mendengar pengakuan wanita tua itu, Dempu Awang semakin marah. Istrinya pun berusaha menenangkan hatinya.
“Iya, Kanda! Mungkin saja wanita tua itu benar bahwa Kanda adalah anaknya. Janganlah menjadi anak durhaka dan tak usah malu kepada Dinda!” bujuk istrinya.
Bujukan sang Istri bukannya membuat hati Dempu Awang menjadi tenang, tetapi justru kemarahannya semakin memuncak. Ia pun menghampiri dan kemudian mendorong wanita tua itu hingga terjatuh berguling-guling di tangga kapal. Hati wanita itu hancur berkeping-keping melihat perlakuan anaknya terhadap dirinya. Dengan perasaan sedih, wanita tua malang itu segera meninggalkan pelabuhan menuju ke gubuknya. Setelah agak jauh dari pelabuhan, ibu Dempu Awang berhenti di jalan seraya menengadahkan kedua belah tangannya ke atas.
“Ya, Tuhan! Berilah balasan yang setimpal kepada anak hamba yang durhaka itu, karena tidak mau mengakui hamba sebagai ibu kandungnya,” pinta ibu Dempu Awang.
Kekuatan Doa Seorang Ibu
Doa sang Ibu benar-benar dikabulkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Ketika Dempu Awang hendak berlayar meninggalkan pelabuhan Mentok, tiba-tiba langit menjadi mendung. Kemudian turunlah hujan yang sangat deras disertai angin topan dan petir yang menyambar-nyambar. Tiba-tiba gelombang laut setinggi gunung menghantam kapal Dempu Awang yang megah itu hingga terbelah menjadi dua, lalu karam ke dasar laut.
Setelah cuaca kembali cerah seperti semula, tampaklah sebuah batu besar di tempat kapal Dempu Awang karam. Batu yang menyerupai kapal besar itu merupakan penjelmaan Dempu Awang dan kapalnya, sedangkan istrinya menjelma menjadi kera putih. Hingga kini batu tersebut masih terpelihara dengan baik. Oleh masyarakat setempat, batu tersebut diberi nama Batu Balai, karena pada zaman dahulu, di samping batu itu terdapat sebuah balai, yakni sebuah kantor pemerintahan yang biasa dijadikan sebagai tempat bermusyawarah.
Demikian cerita Legenda Batu Balai dari daerah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Bangka-Belitung, Indonesia. Pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari dari cerita di atas adalah ganjaran bagi anak yang durhaka terhadap orangtua. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Dempu Awang yang telah mengusir dan tidak mau mengakui ibu kandungnya sendiri, karena malu kepada istrinya.
Akibatnya, Tuhan pun mengutuknya menjadi batu berkat doa ibunya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu: “Siapa durhaka ke ibu bapak, celaka menimpa laknat pun banyak. Kalau ibu bapa engkau sanggah, di situlah tempat kutukan Allah“.
Penulis: Tresna Purnama Dewi (2012)
Editor: Revandi (2026)
Sumber Referensi: Perpustakaan Digital Budaya Indonesia
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.