Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Seruan Saling Hormat di Tengah Beda Awal Muharam

Seruan saling hormat beda awal Muharam 1448 H, simbol persatuan dalam keberagaman Islam Indonesia
Seruan saling hormat di tengah beda awal Muharam 1448 H. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Perbedaan penentuan awal Muharam 1448 Hijriah menjadi momen untuk saling menghormati. Kementerian Agama menetapkan 1 Muharram jatuh pada 16 Juni 2026, sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) memiliki penetapan berbeda berdasarkan metode rukyat tradisional mereka.

Kendatipun ada perbedaan tanggal, institusi dan organisasi Islam menekankan pentingnya tetap menjaga keharuman hubungan antarumat beragama. Seruan saling menghormati ini mengingatkan bahwa Tahun Baru Islam seharusnya menjadi waktu refleksi dan persatuan.

Perbedaan Metode Penentuan Awal Bulan

Perbedaan awal Muharam tidak langsung terjadi. Kementerian Agama menggunakan sistem perhitungan astronomi modern untuk menentukan kapan bulan Hijriah dimulai. Metode ini didasarkan pada posisi bulan dan matahari yang dapat diprediksi secara ilmiah.

Sementara itu, NU dan beberapa organisasi Islam lain masih mengandalkan metode rukyat, yakni pengamatan hilal (bulan sabit) secara langsung oleh petugas yang ditunjuk khusus. Metode tradisional ini telah dijalankan selama berabad-abad dan dinilai memiliki basis syariat yang kuat.

Kepala Polres Serang dan jajaran, bersama organisasi Bhayangkari, menyampaikan ucapan selamat Tahun Baru Islam kepada seluruh umat Muslim di wilayahnya. Meskipun ada perbedaan penentuan tanggal, pesan keselamatan dan keberkahannya tetap disampaikan kepada semua kalangan.

Makna Hijrah dalam Konteks Modern

Menurut penjelasan Kementerian Agama, hakikat Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah transformasi batin yang mengubah seseorang dari kabilah menuju umat yang bersatu dalam nilai-nilai universal.

Perbedaan antara kabilah dan umat terletak pada ikatan. Kabilah terikat pada garis keturunan dan wilayah geografis tertentu. Sementara umat terikat pada kesamaan kepercayaan, nilai moral, dan misi spiritual yang sama. Transformasi ini mencerminkan pergeseran dari identitas tribal menuju identitas yang lebih inklusif.

Dalam konteks Indonesia modern, makna Hijrah relevan dengan seruan untuk melampaui sekat-sekat kesukuan dan agama yang sempit. Umat Muslim diajak untuk memperkuat tali persatuan nasional berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Hormati Perbedaan, Jaga Kerukunan

Kementerian Agama secara eksplisit menghargai sikap NU dalam menjalankan rukyat sesuai tradisi mereka. Penghargaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan bahwa di dalam Islam Indonesia terdapat keragaman cara menjalankan ibadah yang tetap sah secara syariat.

Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa perbedaan penentuan awal Muharam tidak harus memecah belah. Kedua metode—perhitungan astronomi dan rukyat—memiliki landasan Islam yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang penting adalah bagaimana setiap kelompok menghormati pilihan kelompok lain.

Tradisi Tahun Baru Islam menjadi kesempatan emas untuk menunjukkan wajah Islam yang rahmah, toleran, dan matang. Ketika NU menjalankan ibadah pada tanggal yang mereka tetapkan, dan Kementerian Agama menjalankan pada tanggal yang mereka tetapkan, semua itu adalah ekspresi keyakinan yang sah selama dilakukan dengan niat tulus dan penuh kehormatan.

Bhayangkari, organisasi istri anggota Polri, turut menyebarkan pesan kedamaian ini melalui ucapan selamat Tahun Baru Islam. Pesan mereka menekankan bahwa keamanan dan ketentraman masyarakat bergantung pada kemampuan semua pihak untuk saling menghormati dalam keberagaman.

Refleksi Menyambut Tahun Hijriah Baru

Masuk ke Tahun Hijriah 1448 H menjadi momentum bagi umat Muslim Indonesia untuk mengevaluasi diri. Apakah sudah melakukan transformasi sejati seperti yang ditunjukkan dalam makna Hijrah? Apakah sudah memprioritaskan nilai-nilai umat di atas kepentingan pribadi atau kelompok sempit?

Dalam suasana pluralitas Indonesia, pertanyaan-pertanyaan ini semakin relevan. Hijrah bukan hanya mimpi spiritual, tetapi tindakan nyata menjadi lebih baik, lebih adil, dan lebih peduli kepada sesama—tanpa memandang latar belakang mereka.

Seruan saling hormat yang disuarakan berbagai institusi agama, kepolisian, dan organisasi sosial adalah pengingat bahwa persatuan Indonesia dibangun melalui saling menghargai dalam keragaman. Setiap pihak, meski memiliki cara berbeda dalam menentukan awal Muharam, tetap bergerak dalam koridor yang sama: mengamalkan Islam dengan penuh tanggung jawab dan akhlak mulia.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda