Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

The Fed Tahan Suku Bunga Acuan di Level 3,5%-3,75%

Federal Reserve gedung dengan angka suku bunga 3,5%-3,75% dan grafik inflasi di layar digital
The Fed tetap tahan suku bunga acuan 3,5%-3,75%. (Ilustrasi: AI)

Inflasi 3,6% dan Pertanyaan untuk Indonesia

Angka proyeksi 3,6% untuk 2026 bukan sekadar number di slide presentasi. Ini mengubah kalkulus para pembuat kebijakan di seluruh dunia. Ketika The Fed mempertahankan bunga lebih lama karena inflasi yang tidak mau turun, ekonomi emerging market seperti Indonesia harus bersiap untuk capital drain yang berkepanjangan.

Bank Indonesia sedang menghadapi dilema klasik negara berkembang: bagaimana menjaga stabilitas nilai tukar rupiah ketika daya tarik relatif dari aset lokal memudar dibandingkan obligasi AS yang yield-nya di atas 4%? Direktur Kebijakan Moneter BI akan menyusun skenario dengan asumsi The Fed tetap di level tinggi setidaknya hingga kuartal kedua 2025. Ini bukan prediksi senang-senang, melainkan kalkulasi pragmatis yang akan membentuk keputusan suku bunga rupiah.

Rupiah telah melemah ke level terendah sejak 1998 di beberapa titik, dan tekanan akan terus ada jika The Fed tidak memberi sinyal dovish yang kuat. Investor asing yang memegang SUN (Surat Utang Negara) akan mengevaluasi kembali portofolio mereka. Seberapa lama mereka rela menunggu penurunan bunga The Fed untuk mendapat capital appreciation? Pertanyaan ini akan menentukan aliran modal ke pasar Indonesia dalam enam bulan ke depan.

Pekerjaan, Harga, dan Pertumbuhan

The Fed telah menetapkan tiga pilar pengawasan utama: laporan ketenagakerjaan, inflasi inti (core PCE), dan pertumbuhan GDP. Pasar tenaga kerja AS tetap kuat dengan pengangguran di bawah 4%, sementara inflasi inti masih menggantung di atas target 2% The Fed.

Ini menjelaskan mengapa pejabat The Fed berbicara dengan nada yang sedikit frustasi dalam beberapa minggu terakhir. Mereka telah menaikkan bunga 11 kali sejak Maret 2022, namun inflasi tetap membandel. Data terbaru menunjukkan kenaikan harga layanan masih sangat kuat, khususnya di sektor kesehatan dan real estate. Setiap kali The Fed merasa inflasi akhirnya akan menurun, data baru datang dan menunjukkan perjuangan yang lebih panjang menanti.

Pertumbuhan GDP AS—yang masih kokoh di atas 2% per tahun—memberikan The Fed sedikit kelegaan psikologis. Bank sentral tidak melihat resesi yang imminent. Namun, mereka juga tahu bahwa tidak ada free lunch dalam ekonomi. Suku bunga tinggi pasti akan meninggalkan jejak luka di suatu tempat, entah dalam bentuk kredit yang lebih ketat atau investasi bisnis yang melambat.

Halaman:123Semua Halaman

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda