PANGKALPINANG — Sebungkus cang berlapis daun pandan, dilempar ke laut. Bukan sampah. Penghormatan.
Setiap tanggal 5 bulan 5 menurut penanggalan Imlek, ritual itu terulang di delapan pantai Bangka: Buntu di Mentok, Sabang di Toboali, Komuk di Koba, Pinang di Pangkalpinang, Liusak di Baturusa, Liatkong di Sungailiat, Blijong di Belinyu, dan Nampong di Jebus. Tradisi bernama Peh Cun atau Ng Ngiat Ciat ini bukan sekadar membuat dan melempar makanan. Di balik setiap bungkusan ketan ada cerita penghormatan lintas 24 abad.
Dato’ Akhmad Elvian, sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, menjelaskan makna terdalam tradisi itu. “Peh Cun dalam dialek Hokkian berarti ‘mendayung perahu’,” ujar Elvian. Istilah itu merujuk pada simbol meninggalnya Qu Yuan, seorang pejabat negara Chu (339–277 Sebelum Masehi) yang terkenal karena kejujuran dan kecintaannya kepada rakyat.
Cerita Qu Yuan dan Pengorbanan untuk Kebenaran
Qu Yuan hidup di era negara-negara berperang di Tiongkok. Sebagai pejabat negara, ia dikenal setia dan dicintai rakyat. Namun, kekecewaan mendalam terhadap kondisi negaranya membuatnya memilih cara yang tragis: menceburkan diri ke Sungai Miluo.
Kematiannya bukan akhir dari ceritanya. Rakyat setempat, yang sedih atas kematian pejabat jujur itu, membuat kue ketan dan melemparkannya ke sungai agar ikan tidak memakan jenazahnya. Inilah asal mula tradisi yang kini dirayakan jutaan orang Tionghoa di seluruh dunia.
Di Bangka, tradisi ini dibawa oleh para pedagang dan imigran Tionghoa sejak tahun 1724. Mereka tidak hanya mempertahankan ritual, tetapi juga menyesuaikannya dengan kondisi lokal, menciptakan versi Bangka yang unik dan berpengaruh.
Kekhasan Bangka: Dari Ketan Hingga Pantai
Tidak semua daerah merayakan Peh Cun dengan cara yang sama. Di beberapa tempat, tradisi identik dengan kegiatan mendirikan telur agar berdiri tegak. Namun, masyarakat Tionghoa Bangka memilih rute lain: kue cang atau bakcang.
Proses pembuatan cang adalah ritual tersendiri. Ketan dicampur isian—daging babi, daging ayam, atau udang—kemudian dibentuk menyerupai prisma. Pembungkus adalah daun pandan atau daun bambu, diikat dengan tali dari kulit kayu. Setiap lapis memiliki makna: perlindungan, kehati-hatian, dan keindahan dalam kesederhanaan.
Bakcang bukan hanya makanan yang disantap di rumah bersama keluarga. Ia adalah pengantar pesan ke laut. Ribuan buah cang diangkut ke tepi pantai, dan dalam momen tertentu—biasanya saat air surut—cang-cang itu dilemparkan ke laut. Momen itu adalah simbol penghormatan kepada Qu Yuan yang tenggelam berabad-abad lalu.
Surut Laut dan Fenomena Alam yang Sakral
Timing Peh Cun di Bangka bukan kebetulan. Tanggal 5 bulan 5 selalu bertepatan dengan surut laut yang cukup tinggi. Hamparan pantai meluas jauh dari biasanya, seolah-olah laut memberi ruang bagi ritual kemanusiaan.
Fenomena ini terjadi karena posisi matahari mencapai titik kulminasi sekitar pukul 12.00 siang. Masyarakat lokal, terutama para sinshe atau tabib tradisional, memanfaatkan momentum itu untuk mencari tanaman obat berkualitas tinggi. Tanaman-tanaman tersebut kemudian digantung di depan rumah, menjadi pengingat bahwa Peh Cun juga terkait dengan kesehatan dan pembaruan.
Ada pula tradisi Ng Sie Sui—menyiramkan air yang telah dicampur bunga ke tubuh. Dipercaya dapat menjaga kesehatan dan memberikan kesegaran, tradisi ini menunjukkan bahwa Peh Cun bukan hanya tentang mengenang tokoh sejarah, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan hidup.
Telur Berdiri dan Logika di Balik Mitos
Fenomena alam itu memunculkan kepercayaan lain: telur lebih mudah berdiri tegak saat Peh Cun berlangsung karena gravitasi lebih kuat pada titik kulminasi matahari. Banyak yang mencoba, dan beberapa berhasil. Namun, secara ilmiah, telur dapat didirikan kapan saja di bidang datar—keberhasilannya lebih tergantung pada keseimbangan dan ketelitian.
Hal ini menunjukkan sesuatu yang menarik tentang tradisi: meskipun dasar ilmiahnya terbantahkan, nilai sosial dan psikologisnya tetap kuat. Orang tetap percaya karena tradisi itu memberi makna.
Dari Ritual Etnis Menjadi Warisan Bersama
Seiring waktu, Peh Cun berkembang melampaui komunitas Tionghoa. Perayaan ini kini menjadi bagian integral dari identitas budaya masyarakat Bangka Belitung secara keseluruhan. Orang dari berbagai latar belakang ikut serta, memahami nilainya, dan menghormati maknanya.
Bakcang adalah contoh nyata perubahan itu. Dahulu eksklusif untuk Peh Cun, kini makanan ini dijual dan dikonsumsi sepanjang tahun oleh berbagai kalangan. Warung-warung menjual bakcang dengan isian yang beragam, mencerminkan adaptasi budaya tanpa kehilangan esensi.
Dari perspektif gastronomi, bakcang bahkan memiliki potensi sebagai bagian dari gastrodestinasi dan gastrodiplomasi Bangka Belitung. Festival Peh Cun menampilkan keragaman isi, bentuk, dan cita rasa yang memperkaya khazanah budaya lokal.
Warisan yang Hidup Bukan dari Upacara Saja
Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Peh Cun adalah pengingat bahwa warisan budaya hidup bukan hanya melalui ritual, tetapi melalui nilai-nilai yang terus dijaga dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Di rumah-rumah Bangka, ibu mewariskan cara membuat cang kepada anak-anaknya. Di pantai, orang tua menjelaskan kepada anak mengapa mereka melempar makanan ke laut. Di sekolah, guru menceritakan siapa Qu Yuan dan mengapa dia penting. Dengan cara itu, tradisi tetap hidup—bukan karena wajib, tetapi karena bermakna.
Di Pulau Bangka, jejak Qu Yuan masih terasa. Bukan dari prasasti atau monumen, tetapi dari sebungkus cang yang dibawa menuju tepi laut setiap tahun. Dan setiap lemparan itu, seseorang di mana pun di dunia ini bisa memahami: ada orang yang begitu jujur dan dicintai, sehingga ribuan tahun kemudian, orang-orang masih memohon maaf kepada laut atas kematiannya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.