Di titik ini, mahasiswa punya alasan kuat untuk mendesak. Mereka membaca MBG bukan hanya dari sisi manfaat, tapi juga dari sisi akuntabilitas. Siapa menerima, bagaimana distribusinya, seberapa besar kebocoran yang mungkin terjadi, dan apakah anggaran dipakai tepat sasaran. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang biasanya membuat demo bertahan lama.
Kalau DPR serius mengevaluasi MBG, dampaknya bisa besar. Bukan cuma pada efisiensi belanja negara, tapi juga pada kepercayaan publik terhadap program-program prioritas pemerintah. Soalnya, program yang menyentuh jutaan orang selalu rawan dipuji di atas kertas, tapi belum tentu rapi di lapangan.
BBM ikut disorot mahasiswa
Selain MBG, isu BBM ikut masuk dalam percakapan mahasiswa dengan DPR. Topik ini sensitif karena langsung menyentuh biaya hidup harian. Harga BBM memengaruhi ongkos transportasi, harga barang, sampai biaya logistik. Begitu ada sinyal kebijakan yang tidak jelas, reaksinya cepat terasa di masyarakat.
Itulah sebabnya janji DPR untuk menindaklanjuti tuntutan mahasiswa tidak bisa dibaca sebagai basa-basi politik. Publik ingin tahu apakah parlemen akan mendorong evaluasi kebijakan energi, membuka ruang kontrol lebih ketat, atau sekadar mencatat aspirasi lalu menyimpannya di laci rapat. Bedanya tipis, tapi akibatnya jauh.
Aksi mahasiswa di DPR kali ini memperlihatkan satu hal: isu makan siang gratis dan BBM bisa menyatu dalam kemarahan yang sama, yaitu rasa tidak percaya pada pengelolaan anggaran. Ketika harga kebutuhan pokok terasa menekan, setiap janji pejabat langsung diuji. Di lapangan. Bukan di podium.
Situasi di depan DPR pada hari itu juga menunjukkan bahwa mahasiswa masih memilih jalan tekanan terbuka untuk memaksa respons politik. Dalam beberapa laporan, massa aksi tetap berkumpul di sekitar kawasan parlemen sambil menunggu kepastian. Mobil komando, orasi, dan audiensi menjadi satu rangkaian yang saling mengunci. Satu langkah salah, suasana bisa memanas lagi.
Janji-janji DPR untuk mahasiswa demonstran kini tinggal menunggu pembuktian. Apakah evaluasi MBG benar-benar bergerak, apakah pembahasan soal BBM masuk ke meja kerja yang serius, dan apakah suara mahasiswa berubah menjadi keputusan? Di situlah publik akan menilai DPR. Bukan dari ramai orasinya, melainkan dari hasil akhirnya.
“Kita tindaklanjuti tuntutan mahasiswa,” kata Sufmi Dasco Ahmad saat orasi dari mobil komando usai audiensi dengan perwakilan mahasiswa di DPR RI.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.