Tomy menekankan kepatuhan terhadap regulasi sebagai syarat penting. Menurut dia, peluang yang besar tetap perlu dijalankan dalam koridor aturan pemerintah dan negara. Pesan ini relevan bagi investor besar maupun pelaku usaha yang ingin masuk ke sektor-sektor baru.
Stabilitas dan Persatuan Jadi Modal Kepercayaan
Di luar hitungan ekonomi, Tomy menyoroti faktor sosial dan politik. Ia menilai persatuan nasional menjadi modal yang tidak kalah penting dalam menjaga kepercayaan investor. Ketika suasana dalam negeri stabil, dunia usaha lebih mudah membuat perencanaan.
Ia juga mengajak masyarakat tidak mudah terseret isu yang berpotensi memecah belah. Menurutnya, posisi Indonesia masih strategis di mata dunia, sehingga kepercayaan diri sebagai bangsa perlu terus dijaga.
“Indonesia dibutuhkan dunia. Yang penting kita orang Indonesia bersatu. Jangan terpengaruh oleh kompor-kompor. Kita yakin saja sebagai orang Indonesia,” tegasnya.
Bagi investor, stabilitas bukan isu abstrak. Stabilitas memengaruhi waktu penyelesaian proyek, kepastian rantai pasok, keamanan aset, sampai keberlanjutan operasional. Bila iklim usaha relatif terjaga, biaya risiko bisa ditekan. Ini yang sering menjadi pembeda dalam keputusan investasi lintas negara.
Namun Tomy tidak mendorong ekspansi tanpa batas. Ia justru mengingatkan investor agar tidak berinvestasi melebihi kemampuan finansial. Prinsip kehati-hatian, kata dia, perlu menjadi pegangan agar pelaku usaha tidak menanggung risiko yang terlalu besar ketika kondisi berubah.
“Yang penting jangan overinvest. Investasi sesuai dengan kekuatan kita yang masuk akal dan sesuai aturan pemerintah dan negara,” ujarnya.
Pesan itu terasa praktis. Dalam bisnis, momentum sering menggoda pelaku usaha untuk masuk terlalu cepat dan terlalu besar. Padahal perubahan kurs, bunga pinjaman, atau permintaan pasar bisa membuat rencana yang terlihat menarik di awal menjadi berat di tengah jalan.
Bali Tetap Punya Ruang Pertumbuhan
Secara khusus, Tomy melihat Bali masih menyimpan ruang pertumbuhan yang besar. Pulau Dewata bukan hanya menjual akomodasi dan perjalanan. Pariwisata di Bali menggerakkan banyak sektor kecil di sekitarnya, mulai dari usaha kuliner, transportasi lokal, ekonomi kreatif, seni budaya, sampai pengelolaan situs sejarah dan keagamaan.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.