“Kalau pariwisata jalan, akomodasi perjalanan, ekonomi kreatif, kuliner, seni budaya juga ikut jalan,” katanya.
Efek berganda inilah yang membuat Bali tetap masuk radar investor. Ketika kunjungan wisata meningkat, hotel membutuhkan pemasok, restoran menyerap tenaga kerja, perajin mendapat pesanan, dan pelaku transportasi lokal ikut bergerak. Rantai ekonominya panjang. Tidak selalu terlihat dari satu proyek besar, tetapi terasa di banyak kantong usaha.
Bali juga memiliki keunggulan yang sulit ditiru daerah lain: budaya yang kuat dan dikenal luas. Tomy menilai kekuatan budaya lokal menjadi bagian penting dari daya tarik investasi. Artinya, pembangunan tidak bisa dilepaskan dari penerimaan masyarakat dan pelestarian identitas daerah.
“Selama masyarakat Bali menerima dan budaya Bali tetap terjaga, maka berbagai peluang pengembangan dan investasi di Pulau Dewata masih terbuka lebar,” pungkasnya.
Meski begitu, pertumbuhan pariwisata membawa konsekuensi. Tomy menyinggung tantangan di kawasan wisata seperti Kuta, termasuk abrasi pantai dan dampak pertumbuhan pariwisata. Ia mendorong kerja sama berbagai pihak untuk mencari solusi, bukan berhenti pada keluhan.
“Jangan hanya curhat masalah. Ya sudah, ada untung kurangi beberapa persen untuk CSR, peduli lingkungan,” ajak dia.
Dalam praktik bisnis, isu lingkungan makin menentukan reputasi investor. Proyek yang mengabaikan daya dukung alam bisa memicu penolakan warga, biaya pemulihan, dan gangguan operasional. Karena itu, tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR tidak lagi sekadar kegiatan tambahan, melainkan bagian dari keberlanjutan usaha.
Bagi pembaca yang bergerak di sektor usaha, pernyataan Tomy memberi dua pesan sekaligus. Pertama, peluang investasi di Indonesia dan Bali masih terbuka. Kedua, modal saja tidak cukup; investor perlu disiplin membaca risiko, patuh aturan, dan menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar.
Konteks ini penting karena investasi yang sehat biasanya tidak hanya mengejar pertumbuhan cepat. Ia perlu tahan terhadap perubahan. Dan untuk Bali, keberlanjutan pariwisata sangat bergantung pada keseimbangan antara ekonomi, lingkungan, serta budaya lokal.
Tomy merangkum sikapnya dengan nada percaya diri, tetapi tetap berhati-hati: Indonesia punya prospek, investor perlu mengikuti aturan, dan ekspansi harus sesuai kekuatan finansial. Satu angka yang paling tegas dari pesannya: jangan sampai investasi melewati batas kemampuan sendiri, atau dalam istilah Tomy, jangan overinvest.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.