JAKARTA — FPTI sambut dukungan Prabowo pada panjat tebing nasional setelah pemerintah memberi sinyal kuat untuk skema anggaran multiyears bagi pemusatan latihan nasional atlet. Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Yenny Wahid menyebut kebijakan itu penting untuk menjaga pembinaan tetap jalan, tidak putus di tengah jalan.
Yenny merespons komitmen Presiden Prabowo yang disampaikan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dalam pertemuan di Hambalang, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Dukungan itu, kata dia, tidak berhenti pada kebutuhan satu agenda pertandingan, melainkan menyasar ekosistem olahraga yang dibangun dalam jangka panjang.
Soalnya, panjat tebing nasional sedang ada di momen yang tidak biasa. Indonesia baru saja mencatat sejarah lewat emas nomor lead pada Kejuaraan Dunia Panjat Tebing 2026 di Praha, Ceko. Capaian itu memberi pesan jelas: Indonesia tidak hanya kuat di nomor speed, tetapi juga punya ruang besar di disiplin lain bila pembinaannya dijaga serius.
“Kami mengapresiasi komitmen dan dukungan penuh Bapak Presiden terhadap pelatnas jangka panjang dan kebijakan anggaran multi years,” kata Yenny saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (20/6).
Panjang napas pembinaan
Bagi FPTI, dukungan pemerintah bukan soal seremoni. Yang dicari adalah napas panjang pembinaan. Atlet butuh jadwal latihan yang konsisten, pelatih yang bisa menyusun program bertahap, dukungan sport science, dan kepastian pembiayaan agar target tidak berubah tiap tahun anggaran berganti.
Yenny menilai prestasi global hanya bisa lahir jika pembinaan dilakukan berkelanjutan. Kalimatnya tegas. Tidak ada jalan pintas.
“Karena itu, dukungan besar Bapak Presiden terhadap pelatnas jangka panjang adalah sebuah keputusan yang sangat strategis. Ini bukan hanya investasi untuk satu atau dua kejuaraan, tetapi investasi untuk masa depan olahraga Indonesia,” ujar Yenny.
Di level praktis, skema multiyears memberi ruang bagi federasi untuk menyusun program latihan yang lebih rapi. Mulai dari pemantauan performa, peningkatan kekuatan fisik, penguatan mental bertanding, sampai penyiapan kalender kompetisi internasional. Tanpa kepastian anggaran, seluruh rantai itu mudah terputus.
Dan itu mahal harganya. Atlet yang sudah dibentuk bertahun-tahun bisa kehilangan momentum hanya karena program berakhir sebelum target besar datang.
Dari speed ke lead
Indonesia selama ini dikenal sebagai kekuatan dunia di nomor speed. Berkali-kali Merah Putih berdiri di podium tertinggi pada nomor itu. Namun, emas dunia di nomor lead membuktikan pembinaan panjat tebing nasional mulai bergerak lebih lengkap.
Bagi FPTI, capaian tersebut bukan kebetulan. Ada kerja teknis yang panjang di belakangnya. Ada pemilihan atlet yang tepat. Ada latihan yang fokus. Ada pula dukungan pemerintah yang memberi kepastian. Kombinasi itu, menurut Yenny, membuat prestasi besar bisa lahir dari cabang olahraga yang selama ini identik dengan kekuatan cepat dan eksplosif.
“Emas dunia di nomor lead yang kami raih di Praha membuktikan bahwa prestasi besar bukanlah hasil kerja sesaat. Dengan pembinaan yang fokus, berkelanjutan, dan didukung penuh oleh negara, Indonesia mampu menciptakan sejarah baru dan terus mengibarkan Merah Putih di panggung dunia,” tambah Yenny.
Prestasi lead juga penting dari sudut pembinaan nasional. Jika satu nomor bisa berkembang, maka peta kekuatan Indonesia di cabang ini ikut melebar. Artinya, peluang medali di ajang multi-event dan single-event internasional tidak bergantung pada satu spesialisasi saja. Ini kabar baik bagi pembinaan jangka menengah dan panjang.
Kenapa anggaran multiyears krusial
Skema anggaran multiyears kerap jadi kunci dalam pembinaan atlet elite. Cabang olahraga seperti panjat tebing tidak bisa dibangun dengan pola dadakan. Atlet perlu periode adaptasi yang jelas, pengukuran bertahap, serta dukungan fasilitas yang stabil. Kalau anggaran tersendat, kualitas program ikut turun.
Dalam konteks pelatnas, kepastian pembiayaan juga mempengaruhi psikologi atlet. Mereka bisa fokus berlatih tanpa harus menebak apakah program akan berlanjut sampai target berikutnya. Pelatih pun lebih leluasa menyusun periodisasi latihan. Semua ini berujung pada satu hal: peluang prestasi yang lebih besar.
Yenny mengatakan FPTI optimistis pembinaan yang konsisten akan melahirkan lebih banyak prestasi dunia. Ia menempatkan dukungan negara sebagai fondasi, bukan pelengkap. Negara, kata dia, punya peran menentukan agar capaian emas tidak berhenti di satu kejuaraan.
“Kami percaya, dengan kesinambungan pembinaan, semakin banyak prestasi dunia yang akan lahir dan semakin sering Merah Putih berkibar di panggung internasional di masa depan,” pungkas Yenny.
Pesan itu sejalan dengan kebutuhan cabang olahraga prestasi di Indonesia. Target jangka pendek penting, tetapi fondasi pembinaan jauh lebih menentukan. Dan pada panjat tebing nasional, fondasi itu kini sedang diuji lewat dukungan anggaran, pelatnas, dan hasil di arena dunia.
Di Praha, satu emas sudah tercatat. Satu sejarah baru lahir. Sisanya, tinggal dijaga.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.