Menurut Katzenberger, AI tidak punya nilai, posisi politik, atau rasa tanggung jawab. Di situlah letak masalahnya. Mesin dapat menyusun kalimat yang rapi, tapi mesin tidak memikul akibat sosial dari isi tulisan. Bagi redaksi, itulah pagar yang tidak boleh runtuh.
Di sisi lain, ia melihat satu sisi positif dari kasus ini: pelanggaran seperti ini memaksa ruang redaksi menegakkan kebijakannya sendiri. “Kasus seperti ini menunjukkan bahwa departemen editorial menganggap kebijakan mereka serius dan pelanggaran semacam itu punya konsekuensi berat,” ujarnya.
FAZ, Döpfner, dan debat label AI
Kasus Tagesspiegel bukan satu-satunya. Beberapa hari sebelumnya, Frankfurter Allgemeine Zeitung atau FAZ juga menarik sebuah opini tamu milik perdana menteri Thuringia, Mario Voigt, setelah diketahui tulisan itu dibuat dengan bantuan AI. FAZ mengaku baru mengetahuinya setelah artikel terbit.
Vera Katzenberger menilai ada dua kewajiban yang berjalan bersamaan. Penulis atau pengirim opini harus jujur soal penggunaan AI. Tapi redaksi tidak boleh begitu saja percaya pada pengakuan penulis. Pemeriksaan internal, katanya, harus menyesuaikan dengan cara kerja AI yang kini sudah masuk ke proses jurnalistik sehari-hari.
Ia bahkan mengajukan pertanyaan yang sangat praktis: bentuk bantuan AI apa yang boleh dipakai? Kapan teks AI wajib diberi label? Seberapa besar kontribusi pribadi penulis yang masih dianggap memadai? Pertanyaan-pertanyaan itu belum punya jawaban seragam di banyak ruang redaksi.
Kontroversi ini juga memantik komentar tajam dari Mathias Döpfner, bos Axel Springer. Ia mengkritik penghapusan opini yang terkait FAZ dan, menurut laporan DW, memakai prompt AI untuk menyerang FAZ secara polemis melalui artikel yang terbit dengan byline dirinya. Isi serangannya menuduh FAZ menolak teknologi modern dan menyebutnya sebagai “upaya putus asa dari lobi kereta kuda untuk melarang mobil”.
Kalimatnya keras. Sangat keras. Dan justru menunjukkan betapa mudahnya AI dipakai bukan untuk memperkuat jurnalistik, melainkan untuk memanipulasi nada, membangun serangan, lalu menyamarkannya sebagai pendapat manusia.
Aturan, pengawasan, dan batas yang makin kabur
Dewan Pers Jerman, lembaga swakelola yang menaungi media cetak dan daring di negara itu, menegaskan bahwa tanggung jawab atas semua laporan editorial tetap berada pada ruang redaksi, apa pun cara pembuatannya. “Tanggung jawab ini juga berlaku untuk konten yang dihasilkan secara artifisial,” kata lembaga itu.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.