Pada Maret tahun ini, Menteri Negara untuk Lingkungan Hidup, Hutan, dan Perubahan Iklim India, Kirti Vardhan Singh, menyampaikan di parlemen bahwa India menghasilkan lebih dari 1,4 juta metrik ton limbah elektronik pada 2025-2026. Dari jumlah itu, sekitar 979.000 metrik ton telah didaur ulang.
Data yang diserahkan Dewan Pengendalian Pencemaran Pusat India kepada National Green Tribunal, New Delhi, juga menyebut ibu kota menyumbang hampir 10 persen dari total e-waste nasional. Angkanya diperkirakan mencapai 230.000 metrik ton per tahun. Artinya, beban pengolahan sampah elektronik tidak tersebar merata. Ia menumpuk di kantong-kantong informal seperti Mustafabad.
Di balik layar itu ada jaringan besar: pedagang rongsokan, bengkel reparasi, dan pembongkar di halaman rumah. Banyak dari mereka bekerja tanpa pemahaman memadai soal racun yang keluar dari perangkat lama. Mereka membongkar barang bekas, tapi juga membongkar perlindungan terakhir tubuh mereka sendiri.
Rumah sekaligus tempat kerja
Bharati Chaturvedi, pendiri dan direktur Chintan, kelompok riset dan aksi lingkungan, mengatakan salah satu ciri paling menonjol dari ekonomi e-waste informal India adalah rumah dan tempat kerja sering menyatu.
“Sangat sering, seorang pekerja tinggal di lantai atas, sementara pembongkaran dilakukan di lantai dasar atau di atap,” ujarnya kepada Al Jazeera.
“Hal pertama yang langsung terasa adalah kedekatan dengan barang-barang ini, banyak di antaranya rusak, dibuang begitu saja dengan debu timbal dan racun lain. Barang-barang itu bisa terbakar,” kata Chaturvedi. “Pekerja juga sering memakai blow torch saat membongkarnya, yang melepaskan lebih banyak zat beracun ke udara.”
Konsekuensinya tidak berhenti di pekerja. Anak-anak dan anggota keluarga lain ikut terpapar karena tinggal di ruang yang sama. Di bengkel-bengkel kecil itu, tumpukan perangkat bekas berada nyaris sejajar dengan ruang makan, tempat tidur, atau sudut bermain anak.
“Ada dampak, terutama pada anak-anak, karena toksin ekstrem. Ada kekurangan akuntabilitas dalam memperbaiki kondisi pekerja,” kata Chaturvedi. Ia menyebut sejumlah risiko kesehatan dari daur ulang informal: luka, infeksi, paparan timbal, debu beracun, dan bahan kimia berbahaya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.