Ia juga menyoroti dampak timbal pada tubuh. “Kalau Anda terpapar timbal, penyerapan zat besi jadi sangat sulit. Orang bisa tetap anemia dan lemah. Hal yang sama berlaku pada perempuan dan anak-anak, karena mereka tinggal di ruang yang sama tempat mereka bekerja,” ujarnya.
Mengapa ini penting bagi pembaca
Kasus India memberi pelajaran yang dekat dengan banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat konsumsi gawai naik, volume ponsel lama, laptop rusak, dan kabel bekas juga ikut membengkak. Tanpa sistem pengumpulan dan daur ulang yang aman, beban itu biasanya jatuh ke sektor informal: pemulung, pembongkar barang bekas, dan pekerja bengkel kecil yang jarang punya alat pelindung.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut kegiatan daur ulang informal bisa melepaskan timbal, merkuri, kadmium, dan dioksin ke lingkungan. Paparan itu tidak berhenti di bengkel. Ia bisa masuk ke udara, menempel di debu rumah, lalu terhirup anak-anak yang tidur di ruangan yang sama.
Masalahnya, sistem seperti ini sering terlihat murah di awal. Tapi biaya sosial dan kesehatan yang muncul jauh lebih besar. Orang jatuh sakit. Produktivitas turun. Anak-anak tumbuh dengan risiko paparan racun yang lebih tinggi. Lingkarannya panjang.
Al Jazeera melaporkan sudah menghubungi Kementerian Lingkungan Hidup, Hutan, dan Perubahan Iklim India serta Delhi Pollution Control Committee soal keselamatan pekerja dan penegakan aturan, namun belum mendapat respons. Diamnya regulator membuat pertanyaan lama muncul lagi: siapa yang bertanggung jawab ketika sampah elektronik terus bertambah, sementara tangan-tangan yang memprosesnya justru paling rentan?
Ke depan, tekanan akan makin besar. Perangkat elektronik makin cepat diganti, dan volume limbah ikut melonjak. Kalau perlindungan pekerja tetap tertinggal, e-waste workers seperti Malik dan Faizan akan terus menanggung harga yang tidak pernah tercatat di label produk apa pun.
Ringkasan singkat:
1. Pekerja e-waste di India membongkar perangkat bekas tanpa pelindung memadai dan terpapar luka, asap, serta bahan beracun.
2. India menghasilkan lebih dari 1,4 juta metrik ton limbah elektronik pada 2025-2026, dengan New Delhi menyumbang porsi besar.
3. Risiko tidak berhenti pada pekerja; keluarga dan anak-anak yang tinggal di rumah-bengkel ikut terpapar.
FAQ singkat:
Apa sumber risikonya? Pembakaran kabel, pembongkaran manual, debu timbal, dan bahan kimia dari elektronik rusak.
Kenapa pekerja tetap melakukannya? Karena pekerjaan ini memberi penghasilan harian, walau kecil.
Apa pelajaran untuk Indonesia? Sistem daur ulang aman dan perlindungan pekerja informal perlu dibangun sebelum limbah elektronik menumpuk lebih jauh.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.