MENTOK — Upaya penyelamatan warisan budaya lokal yang mulai langka kini menyasar ruang-ruang kelas di ujung barat Pulau Bangka. Langkah konkret ini diwujudkan dengan cara Pemkab Bangka Barat latih pelajar menganyam kopiah resam di SMKN 1 Mentok demi mencegah kepunahan kerajinan khas tersebut. Keputusan ini diambil karena jumlah perajin terampil yang menguasai teknik anyaman rumit ini terus menyusut dimakan usia.
Tanpa adanya regenerasi cepat, identitas budaya masyarakat lokal terancam hilang dalam satu dekade ke depan. Bagi para siswa, pelatihan ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan bekal keterampilan ekonomi kreatif yang bernilai jual tinggi.
Kepala Bidang Perindustrian Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bangka Barat, Agus Setyadi, menegaskan bahwa kopiah berbahan serat resam merupakan identitas kultural yang melekat kuat dengan sejarah masyarakat. Kehadiran anak-anak muda dalam ekosistem kerajinan ini dinilai sangat krusial untuk menjaga rantai produksi tetap hidup.
“Kopiah berbahan serat resam merupakan salah satu identitas budaya Bangka Barat. Kami memberikan pelatihan ini agar anak-anak muda selain terampil juga ikut melestarikan keterampilan warisan leluhur,” ujar Agus Setyadi saat ditemui di Mentok.
Belajar Langsung dari Maestro Anyaman Desa Dendang
Keterampilan menganyam tanaman resam (Dicranopteris linearis) tidak bisa dipelajari hanya dari membaca buku teori. Serat tumbuhan paku ini terkenal ulet sekaligus kaku jika salah penanganan. Karena itu, belasan siswa dari SMK Negeri 1 Mentok dikirim langsung ke Galeri Dendang, sebuah sentra kerajinan serat resam terkemuka di Bangka Barat. Di sana, mereka dimentori langsung oleh para maestro anyam yang telah puluhan tahun menggeluti dunia ini.
Para pelajar diajarkan seluruh tahapan proses produksi yang panjang dan butuh kesabaran ekstra. Proses dimulai dari pencarian tanaman liar di hutan, membelah batang untuk mengambil serat bagian dalam, merendam, menghaluskan serat dengan alat khusus, hingga proses menganyam yang memakan waktu berminggu-minggu untuk satu buah kopiah berkualitas premium.
Sulit sekali. Tapi di sinilah letak nilai eksklusivitasnya.
Disperinaker Bangka Barat juga mendorong lahirnya desain-desain baru yang lebih kasual dan relevan dengan selera pasar anak muda masa kini. Kopiah resam tidak lagi hanya berbentuk kaku berwarna cokelat polos, melainkan mulai dipadukan dengan motif modern serta bentuk yang lebih fleksibel untuk digunakan sehari-hari.
“Kita yakin anak-anak muda memiliki sentuhan dan daya kreasi sendiri yang menarik. Dengan keterampilan yang mereka miliki, kita ingin kerajinan ini berkembang sesuai kebutuhan masa kini,” kata Agus menambahkan.
Peta Sebaran Perajin Resam di Bangka Barat
Selama ini, pemanfaatan serat resam memang masih terbatas pada pembuatan kopiah tradisional, dompet, dan tas kecil dalam skala produksi yang terbatas. Dengan masuknya tenaga kerja muda yang kreatif, potensi diversifikasi produk berbahan resam diyakini akan terbuka lebar. Nilai jual kopiah resam halus di pasaran saat ini berkisar antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah per buah, tergantung pada tingkat kerapatan anyaman.
Berdasarkan data Disperinaker Bangka Barat, sektor kerajinan resam memegang porsi penting dalam struktur Industri Kecil dan Menengah (IKM) daerah. Dari total 626 pelaku IKM kerajinan yang aktif di Bangka Barat, terdapat 102 perajin yang secara khusus fokus mengolah serat resam. Namun, mayoritas dari mereka sudah memasuki usia non-produktif.
Berikut adalah sebaran utama perajin serat resam di wilayah Kabupaten Bangka Barat yang menjadi basis pelestarian budaya ini:
| Nama Desa | Jumlah Perajin Resam |
|---|---|
| Desa Kacung | 45 Perajin |
| Desa Dendang | 23 Perajin |
| Desa Tugang | 14 Perajin |
| Desa Airbulin | 12 Perajin |
| Desa Lainnya (Ibul, Berang, dll) | 8 Perajin |
Melalui regenerasi perajin yang terstruktur seperti pelatihan untuk siswa SMK ini, pemerintah daerah berharap angka produktivitas anyaman resam dapat terus meningkat secara signifikan. Pemerintah daerah kini tengah merancang skema pemasaran digital dan kemitraan dengan sektor perhotelan serta pariwisata agar hasil karya para siswa ini langsung terserap pasar setelah mereka lulus sekolah.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.