Kamis, 25 Juni 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Donald Trump Akan Serahkan Trofi Piala Dunia 2026 Bersama FIFA

Trofi emas Piala Dunia yang akan diserahkan Donald Trump di final 2026
Presiden AS Donald Trump akan serahkan trofi Piala Dunia 2026 bersama Presiden FIFA Gianni Infantino pada laga final di New Jersey. (Ilustrasi: AI)

NEW JERSEY β€” Panggung sepak bola global bersiap menyaksikan sejarah baru setelah dikonfirmasi bahwa Donald Trump akan serahkan trofi Piala Dunia 2026. Keputusan ini mendobrak protokol tradisional federasi sepak bola dunia yang biasanya menempatkan presiden badan pengatur tersebut sebagai penyerah tunggal trofi emas ikonis itu.

Kepastian keterlibatan orang nomor satu di Amerika Serikat itu dikonfirmasi langsung oleh Gianni Infantino dalam wawancaranya dengan media Fox and Friends. Pertandingan final yang dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli mendatang di Stadion New York New Jersey bakal menjadi panggung kolaborasi tidak biasa antara kedua tokoh penting tersebut.

“Tentu saja kami akan bersama presiden menikmati pertandingan final dan menyerahkan trofi kepada sang pemenang secara bersama-sama,” ujar Infantino seperti dilaporkan oleh ESPN. Hubungan erat antara Infantino dan Trump disinyalir menjadi katalis utama di balik keputusan yang terbilang berani ini.

Mendobrak Protokol Tradisional FIFA

Langkah menduetkan politisi dan petinggi sepak bola di podium juara merupakan sebuah anomali dalam sejarah modern turnamen ini. Pada dua edisi sebelumnya, yaitu Rusia 2018 dan Qatar 2022, Infantino selalu menjadi sosok tunggal yang memberikan trofi kepada kapten tim pemenang tanpa didampingi kepala negara tuan rumah di atas podium utama. Protokol ini diterapkan untuk menjaga netralitas olahraga dari intervensi politik praktis yang sering kali sensitif.

Namun, sejarah mencatat pengecualian. Keterlibatan kepala negara dalam seremoni juara sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya baru bagi dunia sepak bola. Ratu Elizabeth II pernah menyerahkan trofi Jules Rimet kepada kapten Inggris Bobby Moore pada tahun 1966 di Stadion Wembley. Selain itu, Raja Juan Carlos dari Spanyol juga tercatat menyerahkan trofi kepada kapten Italia Dino Zoff pada edisi Piala Dunia 1982.

Bedanya, kali ini pembagian panggung antara Infantino dan Trump dirancang sejak awal sebagai aksi duet kepemimpinan. Langkah ini dinilai banyak analis sebagai bentuk kompromi politik mengingat besarnya pengaruh Amerika Serikat dalam investasi infrastruktur turnamen kali ini.

Dampak Komersial dan Politik di Balik Layar

Piala Dunia 2026 akan menjadi edisi terbesar dalam sejarah dengan partisipasi 48 negara kontestan. Ekspansi ini membutuhkan dukungan logistik dan keamanan skala besar yang hanya bisa dijamin oleh otoritas tertinggi negara tuan rumah. Bagi FIFA, memberikan panggung kehormatan kepada Donald Trump adalah langkah strategis untuk mengamankan kelancaran birokrasi, visa, dan fasilitas keamanan super ketat di seluruh kota penyelenggara di AS.

Di sisi lain, Trump memanfaatkan momen olahraga terbesar di bumi ini sebagai penegasan posisi global Amerika Serikat. Dengan estimasi penonton final mencapai miliaran pasang mata di seluruh dunia, podium juara di New Jersey akan menjadi alat diplomasi publik yang luar biasa kuat.

Bayang-Bayang Kontroversi Piala Dunia Antarklub

Keputusan FIFA ini langsung memicu ingatan publik pada insiden menggelikan di final Piala Dunia Antarklub musim panas lalu. Saat itu, Chelsea berhasil keluar sebagai juara setelah menundukkan Paris Saint-Germain di stadion yang sama di New Jersey. Trump yang diundang menyerahkan piala justru enggan turun dari panggung utama dan ikut berpose dalam sesi foto resmi tim juara.

Bek kanan sekaligus kapten Chelsea, Reece James, mengaku sempat kebingungan dengan kehadiran sang presiden yang terus bertahan di atas panggung selama sesi perayaan gelar juara. Rekan setimnya, Cole Palmer, yang menjadi pahlawan kemenangan lewat torehan dua golnya, juga merasakan kebingungan serupa saat prosesi angkat piala.

“Mereka memberi tahu saya bahwa dia hanya akan menyerahkan trofi lalu keluar, tetapi ternyata dia memilih untuk tetap tinggal di sana bersama kami,” ungkap Reece James mengenang momen canggung tersebut.

Meskipun demikian, FIFA tampaknya tidak peduli dengan kritik publik maupun kebingungan para pemain di lapangan hijau. Kolaborasi di atas podium juara nanti diyakini bakal menjadi salah satu momen yang paling banyak disorot sepanjang sejarah turnamen akbar empat tahunan ini. Bagaimanapun juga, dinamika politik dan olahraga di tanah Amerika Serikat selalu menghadirkan drama yang sulit diprediksi hingga peluit panjang berbunyi.

Kini fokus pencinta sepak bola dunia akan terbagi dua. Mereka tidak hanya menanti taktik jenius di lapangan hijau, tetapi juga bersiap menyaksikan drama seremonial yang melibatkan dua tokoh paling berpengaruh di dunia tersebut.

(FI)

πŸ“²
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

πŸ’¬ Follow @journalartanews β†’
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda