GUADALAJARA — Pertandingan penentu kelayakan melaju ke fase gugur menyajikan drama taktis yang luar biasa di Estadio Guadalajara. Duel sengit Colombia vs DR Congo dalam lanjutan fase grup Piala Dunia berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan skuad Los Cafeteros setelah melalui perjuangan yang sangat melelahkan. Gol tunggal bek sayap Daniel Munoz pada menit ke-76 menjadi pembeda sekaligus memastikan langkah Kolombia melaju ke babak 32 besar dengan kepala tegak.
Kemenangan tipis ini menempatkan Kolombia kokoh di puncak klasemen Grup K dengan raihan sempurna enam poin dari dua laga awal. Di sisi lain, DR Congo yang tampil spartan masih berpeluang mendampingi Kolombia ke fase gugur jika mampu menundukkan Uzbekistan pada pertandingan penentu hari Minggu mendatang.
Ketangguhan Lionel Mpasi Redam Gempuran Kolombia
Sejak peluit pertama berbunyi, Kolombia langsung mengambil inisiatif serangan dan mengurung pertahanan wakil Afrika tengah tersebut. Skuad asuhan Nestor Lorenzo mencatatkan total 20 tembakan sepanjang pertandingan, namun mereka sempat dibuat frustrasi oleh penampilan heroik penjaga gawang DR Congo, Lionel Mpasi. Sang kiper tampil bak pahlawan di bawah guyuran tekanan tanpa henti.
Kiper asal klub Rodez AF (sebelumnya sempat membela Le Havre) tersebut tampil luar biasa di bawah mistar gawang. Mpasi bahkan melakukan lima penyelamatan gemilang hanya dalam 20 menit pertama laga berjalan. Dia mementahkan peluang emas Luis Diaz dan James Rodriguez dari jarak dekat.
Catatan statistik Opta menunjukkan bahwa aksi Mpasi ini menyamai rekor Warren Barrett saat membela Jamaika melawan Argentina pada Piala Dunia 1998 silam. Ketangguhan kiper berusia 31 tahun kelahiran Prancis ini memaksa babak pertama berakhir dengan skor kacamata. Kolombia frustrasi, sementara DR Congo mendapat angin segar untuk terus bertahan secara disiplin.
Perubahan Taktik Nestor Lorenzo di Babak Kedua
Melihat lini serangnya buntu, Nestor Lorenzo melakukan penyesuaian taktis di jeda antarparuh waktu. Aliran bola yang sebelumnya terlalu bertumpu pada area sentral mulai digeser melebar ke koridor sayap. Masuknya gelandang bertenaga segar membantu memecah konsentrasi bek DR Congo yang menumpuk di kotak penalti.
Dominasi Kolombia tidak mengendur sama sekali pada babak kedua. Transisi cepat dari lini tengah ke depan terus merepotkan barisan pertahanan lawan yang menerapkan taktik low block sangat rapat. DR Congo praktis hanya mengandalkan serangan balik lewat kecepatan Yoane Wissa, yang sayangnya sering terisolasi di depan.
“Kami tahu mereka akan bermain sangat dalam dan mengandalkan fisik kuat,” ujar Nestor Lorenzo dalam konferensi pers pascalaga. “Kuncinya adalah kesabaran. Kami terus memindahkan bola dengan cepat sampai ruang itu akhirnya terbuka.”
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.