BOSTON β Inggris ditahan Ghana 0-0 pada laga kedua Grup L Piala Dunia 2026 di Boston, Sabtu waktu setempat, setelah tim asuhan Thomas Tuchel kesulitan membongkar pertahanan rapat lawan meski menguasai bola hampir sepanjang pertandingan.
Hasil ini membuat Inggris belum mengunci posisi teratas grup. Mereka memang sudah mengoleksi empat poin dari dua laga, tetapi peluang finis sebagai juara grup masih harus mereka pastikan pada partai terakhir melawan Panama.
Inggris ditahan Ghana setelah dominasi bola tak berbuah gol
Laga ini kembali memperlihatkan pola yang membuat Inggris sering tersandung pada pertandingan kedua turnamen besar. Mengutip laporan BBC Sport, Inggris mencatat 80 persen penguasaan bola dan melepaskan lebih banyak operan daripada Ghana, namun ritme serangan mereka terlalu lambat untuk benar-benar merobek blok bertahan lawan.
Selama 35 menit awal, Inggris sempat unggul sekitar 190 operan dari Ghana. Angka itu terdengar meyakinkan, tapi di lapangan ceritanya berbeda. Anak-anak asuh Tuchel baru benar-benar menciptakan peluang bersih saat Declan Rice menyambut umpan silang Noni Madueke, sayangnya sundulannya melayang di atas mistar.
Ghana datang dengan rencana yang jelas. Mereka tidak malu bertahan dalam, merapatkan jarak antarlini, lalu menunggu momen untuk mematahkan serangan. Cara seperti ini sering membuat tim besar frustrasi. Inggris mengalaminya langsung.
Thomas Tuchel akui Ghana sulit ditembus
Usai laga, Thomas Tuchel tak menyembunyikan bahwa duel ini memang bakal berat. Ia menyebut Ghana tampil fisik dan sangat berkomitmen.
βSaya tidak frustrasi. Saya sudah melihat ini akan menjadi pertandingan yang sulit. Ghana fisik dan sangat berkomitmen. Mereka sulit ditembus,β kata Tuchel kepada BBC Sport.
Pelatih asal Jerman itu juga menilai Inggris sempat menemukan ritme di akhir babak, tetapi kelelahan ikut memengaruhi kualitas keputusan di sepertiga akhir lapangan. Ia menambahkan bahwa timnya sebenarnya sudah punya cukup tembakan, umpan silang, dan satu peluang besar lewat Harry Kane.
βAnda harus sabar, tapi pada momen yang tepat juga harus berani. Kami hanya kebobolan dua peluang berbahaya,β ujarnya.
Ucapan Tuchel itu menggambarkan satu masalah klasik Inggris: mereka bisa memegang kendali, tapi belum tentu tajam saat masuk kotak penalti. Dalam laga seperti ini, satu sentuhan lambat saja cukup mematikan momentum.
Peluang Harry Kane yang gagal mengubah cerita
Peluang emas Inggris datang di menit-menit akhir. Sundulan Nico OβReilly membentur mistar, bola muntah jatuh ke kaki Harry Kane, dan sang kapten berdiri dalam posisi ideal untuk menuntaskan laga. Tapi tembakannya justru melambung di atas gawang yang sudah terbuka lebar.
Momen itu seperti rangkuman pertandingan. Inggris dekat dengan gol, lalu kehilangan ketenangan pada sentuhan terakhir. Untuk pemain sekaliber Kane, peluang seperti itu biasanya berujung angka. Kali ini tidak.
Di sisi lain, Ghana hampir saja mencuri kemenangan lewat serangan balik yang melibatkan pemain pengganti, Prince Adu. Ezri Konsa terlihat melakukan tekel yang ceroboh ketika Adu sudah berhadapan dalam situasi empat lawan empat. Wasit dan VAR memilih melanjutkan permainan.
Keputusan itu langsung memantik perdebatan. Micah Richards, yang menjadi analis BBC Sport, menilai insiden tersebut layak dipertimbangkan sebagai penalti.
βDi hari lain, itu bisa saja penalti,β kata Richards. Ia juga menyoroti kebutuhan Inggris untuk menjaga perlindungan di lini belakang saat ikut menyerang. Kalimatnya singkat, tapi tajam. Inggris memang menguasai bola, namun nyaris lengah di belakang.
Kenapa hasil ini penting bagi Inggris
Hasil imbang ini bukan bencana, tapi jelas jadi alarm. Inggris memang masih berada di jalur lolos ke babak berikutnya, namun target juara Grup L belum aman. Dalam turnamen seperti Piala Dunia, status juara grup sering menentukan lawan yang akan dihadapi di fase gugur. Satu poin yang hilang bisa berarti jalur yang jauh lebih berat.
Masalahnya bukan cuma skor. Yang lebih mengganggu adalah cara Inggris bermain. Mereka tampak nyaman saat lawan memberi ruang, tetapi tersendat saat harus membuka pertahanan yang disiplin. Itu pola yang berulang dari turnamen ke turnamen.
BBC Sport mencatat, laga kedua Inggris di beberapa turnamen besar memang sering menyulitkan mereka. Kali ini, Ghana mengambil peran sebagai tim yang sabar, rapat, dan disiplin. Inggris mendominasi angka, tapi tidak memenangi duel yang paling penting: duel di kotak penalti lawan.
Jude Bellingham, yang terpilih sebagai pemain terbaik laga versi BBC Sport, justru merendah. Ia menilai penghargaan itu seharusnya jatuh ke pemain Ghana yang bekerja keras menjaga area pertahanan. βSaya tidak pantas mendapatkannya,β kata Bellingham. βSeharusnya itu untuk salah satu pemain mereka.β
Pernyataan Bellingham menggarisbawahi kenyataan yang sudah terlihat di lapangan. Inggris punya bintang, punya bola, dan punya reputasi. Tapi malam itu, Ghana punya organisasi permainan yang lebih rapi.
Dengan empat poin dari dua pertandingan, Inggris masih memegang nasib sendiri. Mereka hanya perlu menuntaskan laga terakhir dengan lebih tajam. Kalau tidak, dominasi tanpa gol seperti di Boston bisa kembali jadi cerita lama yang terus berulang.
Ringkasan singkat: Inggris ditahan Ghana 0-0, Thomas Tuchel menyebut laga memang sulit, dan Harry Kane gagal memanfaatkan peluang emas di menit akhir. Inggris masih bisa lolos dari Grup L, tetapi perebutan posisi puncak belum selesai.
π Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.