Senin, 6 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Inggris Ditahan Ghana 0-0 di Boston pada Laga Kedua Grup L

Inggris ditahan Ghana dalam laga Grup L Piala Dunia 2026
Inggris Vs Ghana. (Ilustrasi: AI)

Ucapan Tuchel itu menggambarkan satu masalah klasik Inggris: mereka bisa memegang kendali, tapi belum tentu tajam saat masuk kotak penalti. Dalam laga seperti ini, satu sentuhan lambat saja cukup mematikan momentum.

Peluang Harry Kane yang gagal mengubah cerita

Peluang emas Inggris datang di menit-menit akhir. Sundulan Nico O’Reilly membentur mistar, bola muntah jatuh ke kaki Harry Kane, dan sang kapten berdiri dalam posisi ideal untuk menuntaskan laga. Tapi tembakannya justru melambung di atas gawang yang sudah terbuka lebar.

Momen itu seperti rangkuman pertandingan. Inggris dekat dengan gol, lalu kehilangan ketenangan pada sentuhan terakhir. Untuk pemain sekaliber Kane, peluang seperti itu biasanya berujung angka. Kali ini tidak.

Di sisi lain, Ghana hampir saja mencuri kemenangan lewat serangan balik yang melibatkan pemain pengganti, Prince Adu. Ezri Konsa terlihat melakukan tekel yang ceroboh ketika Adu sudah berhadapan dalam situasi empat lawan empat. Wasit dan VAR memilih melanjutkan permainan.

Keputusan itu langsung memantik perdebatan. Micah Richards, yang menjadi analis BBC Sport, menilai insiden tersebut layak dipertimbangkan sebagai penalti.

“Di hari lain, itu bisa saja penalti,” kata Richards. Ia juga menyoroti kebutuhan Inggris untuk menjaga perlindungan di lini belakang saat ikut menyerang. Kalimatnya singkat, tapi tajam. Inggris memang menguasai bola, namun nyaris lengah di belakang.

Kenapa hasil ini penting bagi Inggris

Hasil imbang ini bukan bencana, tapi jelas jadi alarm. Inggris memang masih berada di jalur lolos ke babak berikutnya, namun target juara Grup L belum aman. Dalam turnamen seperti Piala Dunia, status juara grup sering menentukan lawan yang akan dihadapi di fase gugur. Satu poin yang hilang bisa berarti jalur yang jauh lebih berat.

Masalahnya bukan cuma skor. Yang lebih mengganggu adalah cara Inggris bermain. Mereka tampak nyaman saat lawan memberi ruang, tetapi tersendat saat harus membuka pertahanan yang disiplin. Itu pola yang berulang dari turnamen ke turnamen.

BBC Sport mencatat, laga kedua Inggris di beberapa turnamen besar memang sering menyulitkan mereka. Kali ini, Ghana mengambil peran sebagai tim yang sabar, rapat, dan disiplin. Inggris mendominasi angka, tapi tidak memenangi duel yang paling penting: duel di kotak penalti lawan.

Jude Bellingham, yang terpilih sebagai pemain terbaik laga versi BBC Sport, justru merendah. Ia menilai penghargaan itu seharusnya jatuh ke pemain Ghana yang bekerja keras menjaga area pertahanan. “Saya tidak pantas mendapatkannya,” kata Bellingham. “Seharusnya itu untuk salah satu pemain mereka.”

Pernyataan Bellingham menggarisbawahi kenyataan yang sudah terlihat di lapangan. Inggris punya bintang, punya bola, dan punya reputasi. Tapi malam itu, Ghana punya organisasi permainan yang lebih rapi.

Dengan empat poin dari dua pertandingan, Inggris masih memegang nasib sendiri. Mereka hanya perlu menuntaskan laga terakhir dengan lebih tajam. Kalau tidak, dominasi tanpa gol seperti di Boston bisa kembali jadi cerita lama yang terus berulang.

Ringkasan singkat: Inggris ditahan Ghana 0-0, Thomas Tuchel menyebut laga memang sulit, dan Harry Kane gagal memanfaatkan peluang emas di menit akhir. Inggris masih bisa lolos dari Grup L, tetapi perebutan posisi puncak belum selesai.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda