Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
LIFESTYLE

Jenis Baterai Kendaraan Listrik 2026 Lengkap: LFP, NMC, Solid-State, Sodium-Ion

Jenis Baterai Kendaraan Listrik 2026 Lengkap
Jenis Baterai Kendaraan Listrik 2026. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALARTA.COMBaterai jadi komponen paling mahal di mobil listrik, bahkan menyumbang sampai 40 persen dari total harga unit. Itulah kenapa perlombaan teknologi baterai EV memanas jelang 2026 produsen berebut bikin baterai yang lebih murah, aman, dan jarak tempuh jauh.

Empat jenis baterai kendaraan listrik 2026 kini bersaing di pasar global: LFP, NMC, solid-state, dan sodium-ion. Masing-masing punya nyawa sendiri. Ada yang fokus murah, ada yang kejar jarak tempuh, ada pula yang masih di meja uji coba.

Journalarta merangkum datanya dari IEA, CATL, GM, dan Toyota. Semua berbasis fakta, tanpa spekulasi.

Empat Jenis Baterai Kendaraan Listrik 2026

Mulai dari yang paling laris: Lithium Iron Phosphate (LFP). Komposisinya lithium, besi, dan fosfat tanpa nikel maupun kobalt. Harganya paling murah, sekitar 52 dolar AS per kWh untuk sel low-end, dibanding rata-rata lithium-ion 74 dolar AS per kWh pada 2025.

LFP juga relatif aman. “LFP tidak menghasilkan oksigen sendiri untuk api,” kata seorang analis Telemetry. Artinya risiko thermal runaway alias kebakaran lebih rendah. Umurnya pun naik 40 persen dalam lima tahun terakhir.

Tapi ada harga yang dibayar. Energy density LFP lebih rendah dari NMC, jadi jarak tempuhnya lebih pendek. Performa di cuaca dingin juga lemah. Meski begitu, tiga dari empat EV di China pada 2024 sudah memakai LFP. GM bahkan mengimpor sel dari CATL untuk Chevrolet Bolt 2027.

Lalu ada NMC (Nickel Manganese Cobalt). Keunggulannya jelas: energy density tinggi, jarak tempuh jauh. Banyak dipakai EV premium dan truk komersial. Kelemahannya juga jelas — mahal karena kandungan nikel dan kobalt. Kobalt sendiri kerap diselimuti isu etika tambang, dan potensi thermal runaway-nya lebih tinggi dibanding LFP.

Solid-State, Bintang yang Belum Naik Panggung

Inilah yang paling dinanti. Solid-State Battery (SSB) memakai elektrolit padat dari keramik atau sulfide, bukan cairan. Hasilnya: energy density 50 persen lebih tinggi dari lithium-ion biasa, dan jauh lebih aman karena tak ada cairan mudah terbakar.

Soal jarak tempuh, klaimnya bikin melongo. Changan menyebut 1.500 km versi CLTC. Toyota menargetkan 600 mil pada akhir 2026. Samsung bahkan mengklaim umur baterai bisa tembus 20 tahun dengan degradasi minim setelah 1.000 siklus lebih.

Masalahnya, sebagian besar masih di tahap uji coba. Dongfeng baru akan memulai produksi massal sel solid-state 350 Wh/kg pada 2026. Toyota, Mercedes, dan Stellantis bersama Factorial Energy juga sudah menguji di mobil. Produksi massal penuh diprediksi 2027-2028.

Penghambat utamanya teknis: dendrite, struktur mikro lithium yang bisa memicu korsleting. Biaya produksinya pun masih mahal.

Sodium-Ion: Murah dan Tahan Dingin

Halaman:12Semua Halaman

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda