Rabu, 24 Juni 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Papua Nugini Terapkan Larangan Impor Ayam Australia

Larangan impor ayam memicu pemeriksaan unggas di pelabuhan
Larangan impor ayam Papua Nugini terhadap produk Australia menyusul temuan flu burung H5N1 pada burung liar di Australia Barat. (Ilustrasi: AI)

PORT MORESBY β€” Papua Nugini memberlakukan larangan impor ayam terhadap produk unggas Australia setelah dua burung liar di Australia Barat dipastikan membawa virus flu burung H5N1. Kebijakan itu membuat aliran dagang ayam, telur, dan produk telur dari Australia ke pasar terbesar mereka di luar negeri ikut tersendat.

Larangan impor ayam berlaku untuk telur dan produk olahan

Badan Otoritas Pertanian dan Karantina Nasional Papua Nugini pada Senin menyatakan mereka menghentikan pembelian produk ayam asal Australia. Larangan impor ayam itu tidak hanya menyasar daging unggas, tetapi juga telur dan produk telur.

Keputusan ini muncul hanya beberapa hari setelah Australian Centre for Disease Preparedness mengonfirmasi temuan H5N1 pada burung liar di Australia. Pemerintah Australia, lewat Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan, menegaskan belum ada bukti virus itu menyebar atau menetap di Australia.

β€œKami terus memantau dengan saksama deteksi H5 bird flu pada satwa liar dan aktif bekerja untuk memberikan jaminan yang diperlukan kepada para mitra dagang,” kata Menteri Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia Julie Collins.

Kementerian itu juga menyebut Australia tetap bebas dari HPAI pada unggas sesuai standar internasional Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan. Artinya, temuan pada burung liar belum otomatis mengubah status keamanan produksi unggas nasional Australia.

Kenapa Papua Nugini bereaksi cepat

Papua Nugini adalah pembeli ayam terbesar Australia di luar negeri. Negara itu menyerap sekitar separuh dari total ekspor ayam Australia. Jadi, setiap gangguan di sisi kesehatan hewan langsung berimbas ke perdagangan.

Data pemerintah Australia menunjukkan produksi daging ayam pada 2024–25 mencapai 1,4 juta ton. Sebagian besar memang dikonsumsi di dalam negeri. Tapi ekspor tetap bernilai besar, terutama ke kawasan Pasifik dan Asia Tenggara.

Ekspor daging ayam Australia pada 2023–24 bahkan menyentuh rekor 133 juta dolar Australia. Sementara itu, ekspor telur dan produk telur mencapai 15,76 juta dolar Australia pada tahun anggaran 2022–23.

Dalam konteks seperti ini, satu temuan di alam liar saja cukup untuk memicu langkah hati-hati dari negara tujuan. Bagi pembeli besar seperti Papua Nugini, reputasi kesehatan unggas sama pentingnya dengan kelancaran pasokan.

Dampak ke industri unggas Australia

Langkah Papua Nugini datang di saat industri unggas Australia juga sedang waspada. Salah satu pemroses ayam terbesar, Ingham’s, pada pekan ini menutup akses non-esensial ke fasilitasnya di Australia Barat setelah deteksi virus tersebut.

Penutupan akses itu menunjukkan betapa sensitifnya industri ayam terhadap isu penyakit hewan. Sekali ada temuan positif, perusahaan harus bergerak cepat. Pemeriksaan tambahan, pembatasan akses, dan komunikasi ke mitra dagang menjadi prosedur yang tak bisa ditunda.

Departemen Pertanian Australia mengatakan pihaknya sedang berkomunikasi dengan Papua Nugini untuk menyelesaikan persoalan ini. Otoritas Australia juga menyebut beberapa kiriman harus dikembalikan ke Australia, tergantung pada kesepakatan yang dicapai.

Di lapangan, kebijakan seperti ini bisa memengaruhi jadwal pengiriman, biaya logistik, dan kontrak dagang. Untuk eksportir, satu penundaan saja sudah cukup untuk mengganggu arus kas. Untuk pembeli, risikonya ada pada pasokan dan harga.

Status Australia masih bebas pada produksi unggas

Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia menekankan bahwa deteksi pada burung liar tidak mengubah status bebas HPAI di sektor unggas produksi. Pemerintah Australia juga menyebut tidak ada bukti flu burung telah menyebar di daratan Australia atau menetap di sistem peternakan.

Itu alasan utama Canberra menilai larangan impor ayam dari Papua Nugini tidak perlu terjadi. Pemerintah berharap penjelasan teknis bisa meyakinkan mitra dagang bahwa temuan di alam liar berbeda dengan wabah pada peternakan komersial.

Meski begitu, kekhawatiran dari mitra dagang tetap nyata. Papua Nugini memilih menahan dulu risiko sebelum hasil pemeriksaan tambahan memberi kepastian lebih jauh. Langkah yang konservatif. Tapi efektif untuk mereka.

Australian Chicken Meat Federation belum memberi komentar rinci soal larangan itu. Chief executive asosiasi tersebut, May Wu, mengatakan belum berada pada posisi untuk menanggapi.

Di Australia, temuan flu burung pada satwa liar juga memunculkan pengawasan ekstra di beberapa negara bagian. Burung-burung mati lain di Australia Selatan dan Australia Barat sedang diuji, menambah perhatian pada penyebaran penyakit ini.

Situasi ini menunjukkan satu hal sederhana: perdagangan unggas internasional sangat bergantung pada kepercayaan. Begitu kepercayaan itu goyah, larangan impor ayam bisa muncul sangat cepat, bahkan ketika produsen utama menegaskan sistem peternakannya masih aman.

β€œKami terus bekerja erat dengan Papua Nugini untuk menyelesaikan persoalan ini,” kata Julie Collins. β€œAustralia tetap bebas dari HPAI pada unggas.”

(FI)

πŸ“²
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

πŸ’¬ Follow @journalartanews β†’
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda