JAKARTA — Para ilmuwan berhasil mendeteksi sinyal gelombang gravitasi yang diyakini membawa bukti langsung pertama dari event horizon atau batas tanpa harapan di sekitar lubang hitam. Gelombang gravitasi yang dihasilkan dari tabrakan dahsyat dua lubang hitam raksasa ini membawa informasi dari wilayah yang selama ini mustahil untuk diamati secara langsung. Penemuan monumental tersebut membawa manusia selangkah lebih dekat ke tepi misteri terdalam alam semesta.
Selama ini, teori fisika menyebutkan bahwa gelombang gravitasi khusus yang disebut gelombang langsung (direct wave) dapat membawa karakteristik fisik dari batas event horizon. Teori tersebut kini bukan lagi sekadar coretan di atas kertas. Fisikawan teoretis dari Perimeter Institute Kanada, Sizheng Ma, mengonfirmasi keberhasilan deteksi sinyal langka tersebut kepada ScienceAlert.
“Event horizon bukanlah sesuatu yang bisa kita lihat langsung dengan cahaya, karena menurut definisinya, tidak ada yang bisa lolos dari sana. Tapi gelombang gravitasi memberi kita jalan pintas yang berbeda,” ujar Sizheng Ma.
Sinyal Langka dari Tabrakan GW190521
Ketika dua lubang hitam raksasa saling mengorbit dan akhirnya menyatu, proses ekstrem ini mengguncang ruang dan waktu di sekitar batas terluarnya. Sebagian dari getaran ruang-waktu ini merambat keluar sebagai gelombang gravitasi hingga akhirnya mencapai sensor detektor di Bumi. Sinyal yang berhasil ditangkap kali ini diberi kode GW190521, yang tercatat sebagai salah satu sinyal gelombang gravitasi paling bersih dan paling jelas yang pernah diterima sejauh ini oleh fasilitas LIGO dan Virgo.
Sinyal gelombang gravitasi sangatlah halus. Saat mencapai Bumi, distorsi ruang dan waktu yang ditimbulkannya bahkan lebih kecil dari lebar inti sebuah atom. Oleh karena itu, para peneliti membutuhkan peristiwa tabrakan berskala masif agar sensor di Bumi dapat mendeteksi getaran tersebut dengan presisi tinggi. Tabrakan yang menghasilkan GW190521 ini melibatkan dua lubang hitam dengan massa masing-masing sekitar 85 dan 66 kali lipat massa matahari, menghasilkan lubang hitam baru berukuran 142 kali massa matahari.
Awalnya, tim peneliti bersikap sangat hati-hati karena rumitnya data gelombang gravitasi sering kali memicu kesalahan deteksi (false positive). Namun, setelah melewati serangkaian analisis awal yang ketat, data tersebut menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Pola penurunan sinyal yang cepat dan berputar sangat dekat dengan horizon terbukti sangat cocok dengan model teoretis yang mereka susun.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.