Bahlil menyebut penggunaan CNG berpotensi lebih murah sekitar 30% sampai 40% dibandingkan LPG. Dengan selisih biaya seperti itu, pemerintah melihat CNG bukan hanya pilihan teknis, tetapi juga instrumen untuk menahan kenaikan subsidi energi dalam jangka panjang. Bila distribusinya siap, rumah tangga dan pelaku usaha kecil bisa mendapat opsi yang lebih efisien.
Namun, jalan menuju pemakaian luas tidak pendek. Infrastruktur, jaringan distribusi, dan kebiasaan pengguna masih perlu disesuaikan. Itu sebabnya uji coba bertahap menjadi penting. Pemerintah tampaknya tidak ingin tergesa-gesa, tapi juga tidak mau menunggu terlalu lama saat tekanan impor terus membesar.
B50 ditargetkan pada Juli 2026
Di jalur lain, pemerintah mempercepat implementasi biodiesel B50 yang ditargetkan mulai beredar pada Juli 2026. Kebijakan ini diarahkan untuk mengurangi impor solar dan meningkatkan penyerapan bahan baku dalam negeri berbasis minyak sawit. Jika berjalan sesuai jadwal, B50 akan menjadi salah satu pilar penting dalam strategi pengurangan impor energi.
Bahlil mengatakan, “Besok Juli akan kita resmikan B50. Itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita.” Pernyataan itu menegaskan ambisi pemerintah untuk menekan impor bahan bakar fosil yang selama ini masih membebani neraca perdagangan.
Dengan B50, pemerintah berharap konsumsi solar bisa semakin banyak ditopang sumber daya domestik. Dampaknya tidak cuma pada energi. Industri sawit juga mendapat permintaan tambahan, yang berarti ada efek lanjutan pada nilai tambah di dalam negeri dan penyerapan ekonomi daerah penghasil.
Meski begitu, keberhasilan B50 tetap bergantung pada kesiapan produksi, pasokan bahan baku, dan distribusi di lapangan. Program sebesar ini butuh koordinasi rapat antara kementerian, badan usaha, dan rantai pasok. Kalau salah satu simpul tersendat, jadwal implementasi bisa bergeser.
Masih buka opsi impor minyak mentah
Di saat fokus utama diarahkan ke penguatan pasokan dalam negeri, pemerintah tetap membuka opsi diversifikasi sumber impor energi. Salah satunya melalui kajian potensi impor minyak mentah dari Rusia yang sedang ditelaah lembaga teknis di bawah Kementerian ESDM. Langkah ini dipandang sebagai cadangan strategi jika pasar energi global kembali terganggu.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.