Jumat, 26 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Asteroid Donaldjohanson Ternyata Berputar Tak Biasa, Kata NASA

Asteroid Donaldjohanson berputar tak biasa di sabuk asteroid
Asteroid Donaldjohanson yang dipotret Lucy NASA berputar tak biasa, punya jejak air cair, dan menyimpan petunjuk tabrakan purba. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — asteroid Donaldjohanson ternyata berputar tak seperti asteroid biasa. Wahana Lucy milik NASA menemukan batu ruang angkasa berbentuk kacang ini bergoyang saat berputar, menyimpan jejak tabrakan purba, dan masih membawa tanda pernah bersentuhan dengan air cair.

Temuan itu datang dari lintasan dekat Lucy pada 20 April 2025, ketika wahana melintas hanya sekitar 650 mil dari Donaldjohanson saat menuju kelompok asteroid Trojan Jupiter. Hasil pengamatan pertama dari jarak dekat itu memberi gambaran yang jauh lebih rinci dibanding pengamatan dari Bumi, mulai dari bentuk ganda, permukaan berlekuk, sampai pola rotasi yang rumit.

Peneliti melaporkan hasil awalnya pada 18 Juni di jurnal Science. Bagi tim misi, flyby ini bukan sekadar “pemanasan” sebelum Lucy bertemu asteroid Trojan berikutnya pada 12 Agustus 2027, saat mendekati Eurybates. Tapi data dari Donaldjohanson memberi bonus besar: bahan pembanding baru untuk memahami sejarah pembentukan asteroid di Tata Surya.

Asteroid Donaldjohanson dan rotasi yang tidak biasa

Selama ini, pengamatan dari Bumi menunjukkan pola kecerahan yang berulang setiap 10,5 hari. Dari situ, para astronom menduga Donaldjohanson hanya memanjang dan berputar sederhana. Lucy membantah dugaan itu.

Lewat pengukuran dekat, para ilmuwan melihat asteroid ini tidak berotasi seperti gasing yang stabil pada satu sumbu. Donaldjohanson justru berperilaku seperti gasing yang oleng. Ia berputar ujung ke ujung setiap 10,5 hari, sambil bergoyang maju-mundur di sekitar sumbu panjangnya setiap 26,5 hari.

Perilaku itu penting. Rotasi yang tidak stabil dapat memberi petunjuk tentang komposisi bagian dalam, sejarah tumbukan, dan perubahan bentuk permukaan dari waktu ke waktu. Bagi ilmuwan, detail kecil semacam ini sering jadi kunci.

Bentuk kacang dan jejak tabrakan purba

Lucy juga memperlihatkan bahwa asteroid Donaldjohanson bukan satu bongkah utuh. Benda ini terdiri dari dua lobus yang saling terhubung oleh leher sempit. Para peneliti menyebut bentuk seperti ini sebagai bilobat.

Bentuk itu kemungkinan lahir dari dua fragmen hasil tabrakan besar yang perlahan saling mendekat, lalu menyatu karena gravitasi sendiri. Asteroid ini diperkirakan terbentuk sekitar 155 juta tahun lalu. Dalam skala Tata Surya, itu masih muda. Sangat muda.

Sesudah terbentuk, Donaldjohanson diyakini berputar setidaknya 10 kali lebih cepat daripada sekarang. Namun dalam 20 juta sampai 60 juta tahun terakhir, putaran itu melambat perlahan. Saat spin melambat, keseimbangan antara gaya sentrifugal dan gravitasi berubah. Batu-batu lepas dan puing di permukaan bergeser menuruni lereng, ikut membentuk tampilan kawah yang tampak lebih halus pada sejumlah bagian.

Penyebab pelambatan ini diduga kuat adalah efek YORP, dorongan sangat kecil yang muncul dari radiasi matahari. Cahaya Matahari memanaskan permukaan asteroid, lalu permukaan memancarkan kembali energi itu sebagai radiasi inframerah. Dorongannya kecil sekali. Tapi terus-menerus, jutaan tahun tanpa henti. Karena bentuk Donaldjohanson tidak simetris, dorongan kecil itu tidak saling meniadakan dan pelan-pelan memutar asteroid ini ke arah lain.

Asteroid Donaldjohanson dan jejak air cair

Di saat Lucy melintas dengan kecepatan sekitar 30.000 mph, instrumennya mendeteksi mineral lempung kaya besi di permukaan Donaldjohanson. Ini petunjuk penting. Mineral seperti itu hanya bisa terbentuk jika ada air cair, meski hanya sebentar.

Para peneliti menilai kontak airnya tidak berlangsung lama. Kalau air bertahan lama, kandungan besi dalam mineral lempung biasanya akan tergantikan oleh unsur lain, seperti magnesium. Karena lempung di Donaldjohanson tetap kaya besi, ilmuwan menyimpulkan air cair pernah hadir, tapi dalam periode singkat.

Kondisi itu berbeda dengan asteroid Bennu dan Ryugu. Keduanya memiliki lempung kaya magnesium, tanda bahwa mereka kemungkinan mengalami paparan air lebih lama, bahkan mungkin berlangsung jutaan tahun saat masih menjadi bagian dari tubuh induk yang lebih besar.

Perbandingan ini penting karena memberi gambaran bahwa benda-benda kecil di Tata Surya tidak lahir dari kisah yang sama. Sebagian terbentuk di lingkungan berbeda, pada waktu berbeda, lalu bermigrasi ke wilayah sekarang. Donaldjohanson sendiri tetap berada di sabuk asteroid utama sejak terbentuk, sementara Bennu dan Ryugu kemudian berpindah ke orbit dekat Bumi.

Mengapa temuan ini penting untuk ilmuwan

Lucy memang sedang menuju asteroid Trojan Jupiter, tetapi Donaldjohanson memberi latihan nyata untuk sistem wahana dan operasi misi. Dalam proses itu, ilmuwan justru memperoleh objek studi baru yang belum pernah dilihat sedekat ini.

“Penting bagi ilmuwan untuk membandingkan Donaldjohanson dengan asteroid seperti Bennu dan Ryugu, yang tampak mirip, karena setiap perbedaan kecil adalah petunjuk lain tentang kisah asal-usul kita,” kata Simone Marchi, wakil peneliti utama misi Lucy sekaligus penulis utama studi di kantor Southwest Research Institute, Boulder, Colorado.

Perbandingan semacam ini membantu ilmuwan menelusuri bagaimana benda kecil di Tata Surya terbentuk, berubah, dan menyimpan air. Dari sana, gambaran besar soal bahan pembentuk planet ikut terbuka. Bukan cuma soal asteroid. Soal awal mula lingkungan kosmik yang akhirnya melahirkan Bumi juga.

Lucy masih punya banyak target di depan. Namun untuk saat ini, satu fakta sudah jelas: asteroid Donaldjohanson menyimpan sejarah yang jauh lebih rumit daripada bentuk kacang bercabang yang terlihat di citranya. Dan angka yang paling mengesankan tetap sama — lintasan dekatnya hanya 650 mil dari wahana NASA itu.

(FI)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda