Sabtu, 25 Juli 2026 WIB
BREAKING
NASIONAL

Pertamina Foundation: Hari Anak Nasional Jadi Momen Tepat Tanamkan Jaga Bumi Sejak Dini

Anak-anak dan orang tua memilah sampah ke wadah hijau, kuning, dan merah di sekolah TK Bumi Patra
Kegiatan pemilahan sampah interaktif menjadi salah satu highlight Hari Anak Nasional di TK Bumi Patra yang diselenggarakan Pertamina Foundation. (Ilustrasi: AI)

Bau tanah basah dan tawa riuh anak-anak TK Bumi Patra memecah suasana pagi di Pondok Ranji dan Cempaka Putih. Pertamina Foundation sengaja memilih momentum Hari Anak Nasional tahun ini untuk membawa pesan lingkungan langsung ke ruang kelas mereka. Sebanyak 75 siswa dan 77 orang tua dilibatkan dalam misi besar: menanamkan kesadaran ekologis sebelum anak-anak mengenal apa itu polusi secara teori.

Kegiatan yang mengusung tema “Aku dan Orang Tuaku Peduli Bumi” ini memang bukan sekadar seremonial. Di TK Bumi Patra I Pondok Ranji, sebanyak 57 siswa dan 54 orang tua bahu-membahu belajar memilah sampah.

Sementara di TK Bumi Patra II Cempaka Putih, 18 siswa bersama 23 orang tua mengikuti jejak yang sama. Keterlibatan aktif orang tua menjadi kunci.

Pertamina ingin pola hidup ramah lingkungan tidak berhenti di gerbang sekolah, melainkan dibawa pulang hingga menjadi rutinitas harian di meja makan rumah masing-masing.

Belajar Menjadi Pahlawan Cilik

Narasi “Pahlawan Cilik Penyelamat Bumi” menjadi benang merah sepanjang acara. Begitu anak-anak masuk ke area kegiatan, mereka langsung diajak mengikuti “Senam Go Green Ceria”. Gerakannya lincah. Wajah-wajah mungil itu tampak antusias mengikuti instruktur yang memadukan gerakan tubuh dengan pesan-pesan kelestarian alam.

Usai melemaskan otot, suasana mendadak fokus saat edukasi pemilahan sampah dimulai. Bukan dengan ceramah panjang, panitia menggunakan media visual yang memikat mata bocah-bocah ini. Mereka pun langsung praktik lewat simulasi estafet.

Tiga wadah warna-warni berjajar: hijau untuk sampah organik, kuning buat anorganik, dan merah khusus sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Anak-anak ini berlari kecil, memegang botol atau sisa daun, lalu memasukkannya ke wadah yang tepat.

Riuh tepuk tangan orang tua memecah keheningan tiap kali seorang anak berhasil memasukkan sampah ke keranjang yang benar.

Kreativitas menjadi senjata berikutnya dalam sesi “Kreasi dari Daun Kering”. Di meja-meja kayu, berserakan ranting dan daun gugur yang biasanya hanya jadi sampah halaman. Di tangan para siswa dan orang tua, benda-benda itu berubah bentuk.

Halaman:12Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda