Bau tanah basah dan tawa riuh anak-anak TK Bumi Patra memecah suasana pagi di Pondok Ranji dan Cempaka Putih. Pertamina Foundation sengaja memilih momentum Hari Anak Nasional tahun ini untuk membawa pesan lingkungan langsung ke ruang kelas mereka. Sebanyak 75 siswa dan 77 orang tua dilibatkan dalam misi besar: menanamkan kesadaran ekologis sebelum anak-anak mengenal apa itu polusi secara teori.
Kegiatan yang mengusung tema “Aku dan Orang Tuaku Peduli Bumi” ini memang bukan sekadar seremonial. Di TK Bumi Patra I Pondok Ranji, sebanyak 57 siswa dan 54 orang tua bahu-membahu belajar memilah sampah.
Sementara di TK Bumi Patra II Cempaka Putih, 18 siswa bersama 23 orang tua mengikuti jejak yang sama. Keterlibatan aktif orang tua menjadi kunci.
Pertamina ingin pola hidup ramah lingkungan tidak berhenti di gerbang sekolah, melainkan dibawa pulang hingga menjadi rutinitas harian di meja makan rumah masing-masing.
Belajar Menjadi Pahlawan Cilik
Narasi “Pahlawan Cilik Penyelamat Bumi” menjadi benang merah sepanjang acara. Begitu anak-anak masuk ke area kegiatan, mereka langsung diajak mengikuti “Senam Go Green Ceria”. Gerakannya lincah. Wajah-wajah mungil itu tampak antusias mengikuti instruktur yang memadukan gerakan tubuh dengan pesan-pesan kelestarian alam.
Usai melemaskan otot, suasana mendadak fokus saat edukasi pemilahan sampah dimulai. Bukan dengan ceramah panjang, panitia menggunakan media visual yang memikat mata bocah-bocah ini. Mereka pun langsung praktik lewat simulasi estafet.
Tiga wadah warna-warni berjajar: hijau untuk sampah organik, kuning buat anorganik, dan merah khusus sampah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Anak-anak ini berlari kecil, memegang botol atau sisa daun, lalu memasukkannya ke wadah yang tepat.
Riuh tepuk tangan orang tua memecah keheningan tiap kali seorang anak berhasil memasukkan sampah ke keranjang yang benar.
Kreativitas menjadi senjata berikutnya dalam sesi “Kreasi dari Daun Kering”. Di meja-meja kayu, berserakan ranting dan daun gugur yang biasanya hanya jadi sampah halaman. Di tangan para siswa dan orang tua, benda-benda itu berubah bentuk.
Ada yang merangkai daun menjadi sayap kupu-kupu, badan kapal, bahkan gerbong kereta api. Sederhana, tapi sarat makna. Mereka belajar bahwa limbah punya nilai seni jika disentuh dengan imajinasi.
Membentuk Kebiasaan dari Rumah
Pihak penyelenggara sadar betul bahwa teori di sekolah bakal menguap tanpa praktik nyata di keseharian. Karena itu, Pertamina Foundation mendorong orang tua untuk mulai disiplin dengan hal-hal kecil. Mulai dari kebiasaan mematikan lampu yang tidak perlu, mematikan keran saat tidak dipakai, hingga kewajiban membawa botol minum sendiri dan kantong belanja guna ulang setiap kali bepergian.
Bagi anak usia dini, meniru orang tua adalah metode belajar paling ampuh. Ketika ibu atau ayah mulai terbiasa memisahkan sampah plastik dari sisa makanan di dapur, anak akan merekamnya sebagai norma. Begitu pula dengan penggunaan transportasi umum. Langkah-langkah kecil ini, kalau konsisten dilakukan, bakal jadi pondasi karakter anak saat beranjak dewasa nanti.
Aksi lapangan ditutup dengan sentuhan fisik pada tanah. Siswa-siswi diajak merawat tanaman yang mereka bawa dari rumah masing-masing. Mereka menyiram bibit dengan penuh hati-hati, memastikan air terserap akar dengan baik.
Di sudut halaman sekolah, pohon-pohon semangka yang tumbuh subur melalui program SAMUSAPO—Satu Murid Satu Pohon—menjadi pengingat visual. Pohon-pohon itu bukan cuma penghijau halaman, tapi simbol tanggung jawab yang dititipkan kepada tangan-tangan mungil tersebut.
Harapan besar digantungkan pada setiap benih yang disiram hari itu. Pertamina Foundation ingin interaksi antara orang tua dan anak dalam momen belajar ini tidak sekadar jadi memori sesaat.
Hubungan emosional yang terjalin saat mereka memilah sampah atau menempel daun kering menjadi perekat yang kuat.
Saat anak merasa menjaga bumi adalah aktivitas yang menyenangkan bersama orang tersayang, kepedulian lingkungan bukan lagi menjadi beban, melainkan bagian dari identitas mereka sebagai generasi penerus bangsa.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.