Pengguna di Riau dan Kepri membayar lebih mahal dibanding Sumatera Utara untuk semua jenis BBM nonsubsidi dan selisihnya berkisar Rp350 hingga Rp550 per liter.
Mengapa Harga Naik dan Turun Bersamaan?
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga mengacu pada formula yang ditetapkan pemerintah lewat Kepmen ESDM Nomor 245.K/MG.01/MEM.M/2022. Dua variabel utama yang dipakai: harga Mean of Platts Singapore (MOPS) dan kurs dolar AS terhadap rupiah.
“Evaluasi dilakukan setiap bulan secara berkala sesuai pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar,” kata Roberth.
Itulah kenapa dua tren berlawanan bisa terjadi sekaligus. Harga gasoline global naik sehingga Pertamax dan Pertamax Turbo ikut naik. Sebaliknya, harga diesel global melemah Dexlite dan Pertamina Dex pun turun. Bukan keputusan sepihak Pertamina, melainkan mengikuti mekanisme harga pasar internasional.
Kapan Harga Bisa Berubah Lagi?
Pertamina biasa mengevaluasi harga BBM nonsubsidi setiap akhir bulan. Potensi perubahan berikutnya paling cepat berlaku 1 Juli 2026, tergantung pergerakan harga minyak dunia dan kurs rupiah hingga penutupan Juni.
Sampai 26 Juni 2026, belum ada pengumuman resmi penyesuaian baru dari Pertamina Patra Niaga. Artinya, harga yang tercantum di atas masih berlaku di seluruh SPBU Pertamina.
Bagi pengguna BBM subsidi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam waktu dekat. Tapi pengguna Pertamax dan jenis nonsubsidi lain sebaiknya terus memantau rilis resmi Pertamina menjelang akhir bulan, terutama jika harga minyak dunia kembali bergejolak.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.