JAKARTA — Gen NANOG terbukti punya peran penting dalam pembentukan embrio manusia pada tahap sangat awal, menurut studi yang dilaporkan The Verge. Tim internasional yang dipimpin biologi perkembangan Kathy Niakan dari University of Cambridge menemukan, saat gen ini dimatikan lewat base editing, embrio normal kehilangan arah dan gagal membentuk sel-sel dasar yang seharusnya menjadi janin.
Temuan ini penting karena selama ini bukti kuat soal NANOG datang dari eksperimen pada tikus. Kini, peneliti melihat pola serupa pada manusia, meski dengan perbedaan mekanisme yang tidak kecil. Artinya, pemahaman tentang hari-hari pertama kehidupan manusia belum bisa diserahkan pada model hewan saja.
Gen NANOG dan kerja awal embrio manusia
Pada masa paling dini, satu sel membelah jadi dua, lalu empat, lalu puluhan. Di fase ini, embrio bergerak sangat cepat sambil menerima sinyal genetik yang saling mengatur. NANOG masuk ke panggung sejak awal. Gen ini mengkode protein yang juga disebut NANOG, sebuah faktor transkripsi yang bertugas mengatur gen mana yang aktif dan mana yang diam.
Ibaratnya, NANOG seperti pengatur distribusi di dalam sel. Ia memastikan bahan baku protein hadir pada waktu yang pas dan dalam jumlah yang sesuai. Jika kendali itu goyah, sel bisa salah arah. Dalam studi ini, saat NANOG dinonaktifkan, sel pluripoten epiblast tidak bisa berubah menjadi sel punca sebagaimana mestinya. Sel-sel itu justru terdorong membentuk jaringan pendukung seperti kantung kuning telur atau sel plasenta.
Dengan kata lain, embrio seakan “bingung” memilih jalur pembangunan. Energi biologisnya lari ke sistem penopang, bukan ke blok penyusun fetus.
Mengapa peneliti memilih base editing
Para peneliti tidak memakai pendekatan pemotongan DNA ala CRISPR/Cas9 yang memutus untai ganda. Mereka memilih base editing, teknik yang hanya mengubah satu huruf basa dalam kode genetik. Perubahan kecil ini dianggap lebih presisi dan mengurangi risiko perubahan DNA tak diinginkan, seperti rearrangement genom atau efek samping di lokasi lain.
Pendekatan itu masih tergolong baru dalam riset embrio manusia. Sejauh ini, banyak studi base editing dilakukan pada embrio tripronukleus, yakni embrio yang tidak layak untuk IVF dan biasanya memang tidak dipakai dalam prosedur reproduksi. Masalahnya, embrio seperti itu punya kelainan kromosom dan perkembangan, sehingga tidak mewakili embrio manusia normal.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.