MAKKAH — Pakt Mecca yang diteken Saudi Arabia, Turki, dan Pakistan pada Jumat dibaca banyak pengamat bukan sebagai janji saling berperang, melainkan sebagai penahan laju dominasi Iran dan Israel di kawasan. Perjanjian pertahanan itu ditandatangani di Makkah oleh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.
Pakistan lewat kementerian luar negerinya menyebut serangan terhadap satu anggota akan dipandang sebagai serangan terhadap semua. Tapi para analis cepat memberi catatan: kerja pakta ini, setidaknya pada tahap awal, lebih dekat ke pencegahan ketimbang aliansi tempur model NATO.
Pakt Mecca dan pesan yang ingin dikirim ke Iran
Dokumen yang disebut Mecca Joint Defense Agreement itu dimaksudkan untuk memperkuat daya tangkal kolektif atas tindakan agresi, di saat kawasan masih dibayangi perang Iran dan rangkaian serangan balasan yang menyulut kekhawatiran baru. Dalam praktiknya, kata para pengamat, posisi Saudi Arabia di tengah konflik membuat Riyadh ingin menambah lapisan perlindungan.
Dania Thafer, direktur eksekutif think tank Gulf International Forum di Washington, mengatakan kepada DW bahwa arrangement ini adalah bentuk deterrence yang elastis. “If you look at the parties in this agreement, you have Saudi Arabia, which is in the middle of this conflict.
But you also have Turkey and Pakistan, who both have relations with Iran and both have relations with the US. So I think it’s an extra layer of deterrence, if you will, for Saudi Arabia,” kata Thafer.
Ia juga menyebut Saudi Arabia sedang melihat pendekatan deterrence berlapis untuk menghadapi ancaman regional yang muncul satu per satu.
Kamran Bokhari, peneliti senior di Middle East Policy Council, juga menilai kerja sama ini akan berjalan bertahap. Target jangka pendeknya, kata dia kepada DW, adalah kawasan yang lebih stabil. Baru setelah itu, fokusnya bisa bergeser ke kerja sama pertahanan yang lebih konkret.
Kenapa Israel ikut terseret dalam pembacaan pakta
Meski naskah pakta tidak menunjuk satu negara tertentu, pembacaan politiknya mengarah ke dua nama: Iran dan Israel. Itu tak lepas dari posisi tiga penandatangan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.