Jumat, 26 Juni 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Harga Minyak Dunia Jumat 26 Juni 2026: Brent Turun 2%, WTI Melemah

Harga Minyak Dunia Jumat 26 Juni 2026
Harga minyak dunia anjlok sekitar 2% pada Jumat, 26 Juni 2026, setelah lonjakan singkat awal pekan akibat insiden di perairan Oman terbukti tak bertahan lama. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA, JOURNALARTA.COMHarga minyak dunia anjlok sekitar 2% pada Jumat, 26 Juni 2026, setelah lonjakan singkat awal pekan akibat insiden di perairan Oman terbukti tak bertahan lama. Brent menyentuh $73,76 per barel, sementara WTI jatuh ke $70,43 per barel dan secara mingguan keduanya sudah tergerus hampir 8%.

Koreksi tajam ini langsung berdampak pada kalkulasi harga BBM dalam negeri yang sedang ditunggu jutaan konsumen Indonesia menjelang pengumuman Pertamina awal Juli.

Pasokan Pulih, Harga Berbalik

Penyebab utama pelemahan ini sederhana yaitu jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz yang sempat terganggu kini kembali normal. Kapal-kapal tanker yang tertahan sudah bergerak lagi. Saudi Aramco pun sudah membuka kembali aktivitas pemuatan di terminal Ras Tanura dan dua kapal VLCC raksasa siap mengangkut total sekitar 2 juta barel minyak mentah.

Pemulihan pasokan itu langsung memangkas premi risiko yang sempat mendongkrak harga. Sesi Kamis sebelumnya, harga sempat melonjak 2% menyusul laporan serangan proyektil di perairan Oman. Tapi begitu situasi reda, pelaku pasar tak menunggu lama untuk ambil untung.

Analis Sparta Commodities menyebut normalisasi arus kapal tanker sebagai faktor paling signifikan di balik koreksi ini. Tanpa gangguan pasokan nyata yang berkelanjutan, reli harga sulit dipertahankan.

Patokan Harga (per barel) Perubahan Persentase
Brent $73,76 ▼ $1,50 -1,99%
WTI $70,43 ▼ $1,49 -2,07%

Data per pukul 13.49 WIB, 26 Juni 2026.

China Belum Membantu

Dari sisi permintaan, situasinya juga tidak menggembirakan. China sebagai importir minyak terbesar di dunia belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan konsumsi yang berarti. Data terbaru masih menggambarkan penyerapan yang lesu, dan pasar sangat sensitif terhadap sinyal dari Beijing.

Tanpa dorongan permintaan dari China, kenaikan harga hanya bergantung pada sentimen sesaat. Itulah yang membuat reli kemarin langsung berbalik hari ini.

Analis ING menilai peningkatan arus kapal memang jadi sinyal positif bagi ketersediaan fisik minyak. Tapi selama belum ada konfirmasi pemulihan permintaan yang jelas, sentimen pasar akan cenderung melemah. Level support Brent kini diperhatikan di $72 per barel jika tembus, potensi meluncur ke $68 terbuka. Resistance berikutnya ada di $75, tapi butuh katalis besar dari sisi konsumsi untuk tembusnya. WTI diperkirakan bergerak di kisaran $68–72 per barel dalam beberapa hari ke depan.

Dampak ke BBM Dalam Negeri

Bagi konsumen Indonesia, pergerakan ini relevan langsung. Pertamina biasanya mengumumkan penyesuaian harga BBM non-subsidi menjelang awal bulan, dan pengumuman Juli 2026 diperkirakan keluar akhir Juni ini.

Jika Brent stabil di kisaran $70–75, ada peluang harga BBM non-subsidi turun tipis sekitar Rp100 hingga Rp200 per liter. Tapi ada variabel lain yang tak kalah penting: nilai tukar rupiah. Kurs saat ini masih bertahan di sekitar Rp16.300 per dolar AS. Jika rupiah menguat, beban impor BBM berkurang dan ruang penurunan harga makin lebar.

Untuk Pertalite dan Solar bersubsidi, harganya tidak langsung mengikuti fluktuasi harian pasar. Tapi penurunan harga minyak global tetap memberi efek positif bagi APBN dan beban subsidi energi yang harus ditanggung negara berkurang, dan itu memberi pemerintah lebih banyak ruang fiskal.

Keputusan final ada di tangan Pertamina dan pemerintah, dengan mempertimbangkan harga rata-rata minyak selama periode tertentu, bukan hanya pergerakan harian.

Kenapa Pekan Ini Volatil?

Dalam satu pekan, harga minyak sudah naik-turun hampir 8%. Ini bukan hal biasa. Pemicunya adalah kombinasi kejutan geopolitik dan insiden di Oman yang langsung menaikkan harga, disusul normalisasi cepat yang membalikkan semuanya.

Pola ini menunjukkan bahwa pasar saat ini sangat reaktif terhadap berita jangka pendek, tapi fundamental supply-demand yang lemah (pasokan cukup, permintaan China lesu) terus menarik harga kembali turun setiap kali ada lonjakan. Selama kondisi fundamental itu belum berubah, volatilitas seperti ini kemungkinan akan terus berlanjut.

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda