Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Menteri Bahlil: Mini LNG Plant Tuban kurangi impor LPG

Mini LNG Plant Tuban kurangi impor LPG dan pasok industri
Mini LNG Plant Tuban disebut Bahlil bisa menekan impor LPG. (Ilustrasi: AI)
Produk Kapasitas
LPG 9.800 ton per tahun
Gas kondensat 19.600 barel per tahun
CO2 liquid 21.000 ton per tahun
CNG 6 MMscfd

Di sisi lain, kapasitas ini juga memperlihatkan bahwa fasilitas pengolahan gas seperti ini tidak berdiri untuk satu pasar saja. Ada beberapa komoditas yang bisa keluar dari satu lokasi produksi. Itu penting bagi pelaku industri yang butuh kepastian suplai bahan baku dari sumber yang lebih dekat.

Pasokan diarahkan untuk industri Jawa Timur

Bahlil menyebut komoditas dari Mini LNG Plant itu akan diserap sektor industri di Jawa Timur. Infrastruktur penyimpanan dan output produksi dirancang untuk mendukung rantai pasok LNG berbasis transportasi darat.

“Nah ini sangat membantu industri dalam rangka memberikan kepastian terhadap bahan baku,” ucapnya.

Kalimat itu punya bobot besar bagi industri. Soalnya, pasokan energi yang stabil sering jadi penentu ritme produksi pabrik. Bila bahan baku energi tersendat, jadwal produksi ikut terganggu. Kalau pasokan lebih pasti, biaya perencanaan pun lebih mudah dihitung.

Jawa Timur juga menjadi wilayah penting dalam peta industri nasional. Banyak kawasan manufaktur, pengolahan, dan logistik bertumpu pada ketersediaan energi yang cukup. Fasilitas seperti Mini LNG Plant Tuban bisa berperan sebagai penyangga pasokan di wilayah itu, bukan hanya sebagai proyek infrastruktur energi biasa.

Kenapa proyek ini penting untuk industri dan devisa

Pemerintah berkali-kali menekankan perlunya menekan impor energi. Dalam kesempatan terpisah di Jakarta pada hari yang sama, Bahlil juga menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia pada impor LPG dan bensin. CNBC Indonesia melaporkan, ia menyebut impor LPG masih menyedot devisa besar karena produksi nasional belum menutup kebutuhan.

Data yang disampaikan Bahlil konsisten dengan pernyataan di Tuban. Konsumsi LPG nasional berada di kisaran 8,5 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri baru sekitar 1,8 juta hingga 1,9 juta ton. Perbedaan angka di dua sumber itu masih berada di kisaran yang sama dan sama-sama menunjukkan gap besar yang harus ditutup impor.

Dalam konteks ini, proyek seperti Mini LNG Plant bukan cuma bicara soal tambahan produksi. Ada dampak ke neraca perdagangan energi, tekanan terhadap devisa, dan ketahanan pasokan untuk rumah tangga serta industri. Saat kapasitas domestik naik, ruang untuk impor turun pelan-pelan.

Halaman:123Semua Halaman

(AP)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda