JAKARTA, JOURNALARTA.COM – Live shopping bukan lagi sekadar cara belanja murah. Data survei Jakpat yang dirilis IndoTelko pada paruh pertama 2025 mencatat awareness live shopping naik ke 85%, dari 80% di tahun sebelumnya, artinya delapan dari sepuluh orang Indonesia kini sudah mengenal format belanja ini.
Yang bergeser bukan hanya angkanya. Motivasi konsumen ikut berubah. Kalau dulu orang masuk siaran langsung karena tergiur diskon, sekarang mereka hadir untuk ditemani nonton sambil rebahan, ngobrol di kolom komentar, atau sekadar menghilangkan bosan. Fenomena ini yang oleh pelaku industri disebut shoppertainment hiburan dan transaksi yang melebur jadi satu.
Dari Diskon ke Koneksi
TikTok Shop, Shopee Live, dan Tokopedia Play kini berfungsi seperti televisi bagi generasi Z dan ibu-ibu rumah tangga. Platformnya berbeda, tapi polanya sama seperti host yang mengobrol, produk yang diperagakan secara langsung, dan momen flash sale yang memicu FOMO.
Pergeseran ini nyata. Survei Jakpat menunjukkan konsumen yang aktif menonton live shopping tak melulu menunggu harga terendah. Mereka mencari experience host yang lucu, demo produk yang informatif, dan perasaan jadi bagian dari komunitas. Transaksi terjadi sebagai efek samping dari keterlibatan emosional itu.
Bagi brand dan UMKM, ini mengubah cara berhitung. Biaya produksi konten bukan lagi pengeluaran tambahan — itu investasi utama.
Empat Elemen yang Bikin Live Shopping Berhasil
Berdasarkan pola yang berkembang di platform, ada empat komponen yang membuat siaran live shopping efektif menggerakkan transaksi:
| Elemen | Fungsi | Contoh Eksekusi |
|---|---|---|
| Entertainment | Jaga penonton tetap di sesi | Games, giveaway, prank produk |
| Education | Bangun kepercayaan | Demo langsung, tips penggunaan, sesi tanya jawab |
| Emotion | Ciptakan koneksi | Storytelling host, interaksi komentar, cerita personal |
| Urgency | Picu keputusan beli | Flash sale 60 detik, voucher kuota terbatas |
Keempat elemen ini bukan formula kaku. Tapi brand yang berhasil di live shopping biasanya punya minimal tiga dari empat komponen berjalan bersamaan dalam satu sesi.
Peluang Nyata untuk UMKM
Kabar baiknya, format ini tidak membutuhkan budget raksasa. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dan karakter.
Host tidak harus jago jualan tapi mereka harus enak ditonton. Kemampuan mengobrol, selera humor, dan cara merespons komentar secara natural jauh lebih menentukan retensi penonton dibanding kemampuan pitching produk yang terlatih formal.
Jadwal tayang yang rutin juga krusial. Otak penonton bekerja berdasarkan kebiasaan. Ketika mereka tahu setiap Rabu pukul 20.00 ada siaran dari toko tertentu, mereka akan memasukkannya ke rutinitas malam seperti menonton acara TV favorit dulu.
Strategi lain yang terbukti memperluas jangkauan adalah kolaborasi dengan micro influencer sebagai co-host. Audiens mereka yang loyal punya potensi besar untuk bermigrasi menjadi pembeli baru. Biayanya jauh lebih terjangkau dibanding endorsement konvensional, dan dampaknya bisa langsung terukur lewat konversi di sesi live.
Satu produk, satu cerita itu prinsip yang mulai banyak diadopsi. Bukan sekadar memamerkan lipstik, tapi membahas “lipstik yang tahan masker seharian di kantor”. Konteks membuat produk terasa relevan, dan relevansi menggerakkan keputusan beli lebih efektif dari sekadar menyebut harga.
Ke Mana Tren Ini Menuju
Angka 85% awareness bukan titik puncak. Penetrasi internet dan penggunaan smartphone di Indonesia masih terus naik, terutama di kota-kota tier dua dan tiga. Pasar yang belum tersentuh live shopping masih sangat besar.
Yang menarik, tren ini tidak bergantung pada satu platform. Ketika TikTok Shop sempat diguncang regulasi di sejumlah negara pada 2023, Shopee Live dan Instagram Live justru menyerap penggunanya. Ekosistemnya sudah terlalu besar untuk bergantung pada satu pintu.
Bagi konsumen, implikasinya sederhana: pengalaman belanja akan semakin personal dan interaktif. Bagi pelaku usaha, pesannya lebih mendesak ketimbang jualan tanpa konten dan koneksi emosional akan semakin sulit bersaing, berapapun harga yang ditawarkan.
Catatan redaksi: Data berasal dari survei Jakpat untuk IndoTelko, paruh pertama 2025. Persentase awareness dapat bervariasi berdasarkan segmen usia dan wilayah.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.