JAKARTA — Indonesia Masih Menarik bagi investor global karena pasar domestik, posisi strategis, dan ruang pertumbuhan sektor pariwisata dinilai belum habis. Pendiri Artha Graha Network, Tomy Winata, menyampaikan penilaian itu saat dunia usaha masih membaca arah ekonomi global, nilai tukar, dan dinamika geopolitik yang bergerak cepat.
Taruhannya cukup dekat dengan pembaca. Ketika investor menahan ekspansi, lapangan kerja, proyek baru, sampai belanja usaha ikut melambat. Namun Tomy melihat Indonesia masih punya alasan kuat untuk tetap dipercaya sebagai tujuan investasi jangka panjang.
Pengusaha nasional itu menilai ketidakpastian ekonomi global tidak otomatis mengikis prospek Indonesia. Tantangan tetap ada. Rupiah bisa berfluktuasi, pasar bisa berubah, dan keputusan bisnis perlu lebih hati-hati. Tapi menurut dia, siklus seperti itu tidak membuat peluang hilang.
“Bukan hanya Bali. Bali dan Indonesia semuanya prospek. Yang penting kita ikuti aturan,” ujar Tomy Winata dalam keterangan tertulis, Sabtu (20/6).
Indonesia Masih Menarik di Mata Investor
Tomy mengatakan pelaku usaha perlu menjaga cara pandang yang realistis, bukan sekadar optimistis. Ia menyebut dunia usaha pada dasarnya membaca peluang dari perubahan yang terjadi, lalu menimbang apakah peluang itu bisa dikerjakan dengan kemampuan yang ada.
“Kita pedagang melihat kesempatan, melihat kemungkinan dan melihat sesuatu yang saya kira akan muncul lebih baik,” imbuh dia.
Pernyataan itu muncul ketika pelaku pasar global masih menghadapi kombinasi tekanan yang tidak ringan: ketidakpastian suku bunga, perubahan arus modal, dan risiko geopolitik di sejumlah kawasan. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, sentimen global kerap memengaruhi nilai tukar, biaya pendanaan, dan minat investor terhadap aset domestik.
Namun daya tarik Indonesia tidak hanya ditentukan oleh satu indikator. Ada pasar konsumen yang besar, kebutuhan infrastruktur yang masih terbuka, sumber daya alam, serta potensi jasa dan pariwisata. Faktor-faktor itu membuat investor jangka panjang biasanya melihat Indonesia bukan sebagai pasar sesaat, melainkan lokasi untuk membangun kapasitas usaha.
Soalnya sederhana. Bila permintaan domestik tetap hidup dan aturan main jelas, pelaku usaha punya dasar untuk menghitung risiko. Dari situ keputusan investasi bisa berjalan lebih terukur.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.