JAKARTA — ancaman siber kian serius di saat perusahaan berlomba memakai cloud dan kecerdasan buatan atau AI. BDO Indonesia mengingatkan, teknologi yang mempercepat bisnis juga membuka pintu baru bagi pencurian data, penipuan, dan gangguan operasional yang mahal.
Peringatan itu datang setelah sederet insiden siber pada awal 2026, termasuk pembobolan sistem di sektor perbankan, kembali menegaskan satu hal sederhana: keamanan digital bukan urusan tim IT semata. Ujungnya menyentuh reputasi, kepercayaan pelanggan, sampai kelangsungan bisnis.
Cloud dan AI mempercepat bisnis, tapi celah ikut terbuka
Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia, Reza Aminy, mengatakan banyak insiden siber berawal dari sistem teknologi informasi yang sudah usang, tata kelola keamanan yang lemah, dan pengelolaan risiko vendor yang belum rapi. Menurut dia, masalah lama sering justru jadi pintu masuk serangan baru.
Di lingkungan cloud, fokus ancaman bergeser ke identitas. Saat kredensial bocor atau akun pegawai diambil alih, pelaku bisa masuk tanpa harus menembus pertahanan yang terlihat megah dari luar. Satu akun. Satu celah. Lalu data melayang.
“Biaya pemulihan jauh lebih mahal daripada biaya pencegahan,” ujar Reza dalam keterangan yang dikutip di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).
Pernyataan itu terdengar keras, tapi relevan. Banyak perusahaan masih menunda belanja keamanan karena dianggap menambah biaya. Padahal, saat serangan sudah terjadi, biaya yang muncul jauh lebih besar: pemulihan sistem, investigasi forensik, gangguan layanan, denda, hingga kehilangan pelanggan.
Kerugian bisa tembus ratusan miliar
BDO menyoroti dampak finansial yang tidak kecil. Dalam bahan yang dibagikan, perusahaan yang terdampak insiden siber bisa menanggung kerugian hingga Rp143 miliar yang dibebankan ke laba. Angka seperti ini bukan sekadar catatan akuntansi. Ia menggerus ruang gerak perusahaan untuk investasi, ekspansi, dan inovasi berikutnya.
Di banyak organisasi, kerugian siber juga tak langsung terlihat di laporan keuangan awal. Sistem mungkin tetap hidup, tetapi tim kerja melambat, layanan pelanggan tersendat, dan kepercayaan pasar ikut retak. Efeknya menular ke mana-mana.
Reza menilai serangan siber berkembang semakin cepat karena pelaku juga ikut memanfaatkan teknologi baru. AI, kata dia, menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi, AI bisa membantu produktivitas. Di sisi lain, AI memperluas kemampuan penjahat siber untuk menipu, menyamar, dan memalsukan jejak digital.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.