Pandangan itu sejalan dengan arah pengembangan kawasan heritage yang tidak berhenti pada pelestarian bangunan atau penanda sejarah. Festival membawa pendekatan yang lebih hidup. Sejarah dipasang berdampingan dengan aktivitas ekonomi. Identitas kota bertemu kebutuhan warga. Dan di titik itu, UMKM mendapat ruang yang lebih luas untuk tampil.
Depok Lama diposisikan sebagai tujuan wisata baru
Pemerintah Kota Depok sebelumnya juga menyebut kawasan Heritage Depok Lama akan diproyeksikan sebagai tujuan wisata baru. Dalam kerangka itu, festival menjadi salah satu pintu awal untuk memperkenalkan kawasan, menarik kunjungan, dan menguji seberapa besar minat publik terhadap kombinasi wisata sejarah dan ekonomi kreatif.
Chandra berharap masyarakat tidak hanya datang, tapi juga terlibat aktif dalam setiap kegiatan yang ada. “Datang, lihat, pelajari, dan rasakan. Kita dukung UMKM kita, kita kenali sejarah kita. Dari situ, kita bangun rasa memiliki terhadap kota ini,” ujarnya.
Seruan itu menegaskan bahwa festival ini tidak berdiri sendiri. Ia dipakai sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara budaya dan ekonomi, serta antara warga dengan identitas kotanya. Kalau dukungan publik terjaga, acara seperti ini bisa menjadi mesin kecil yang terus berputar untuk pelaku usaha lokal.
Festival Heritage Depok Lama 2026 juga memperlihatkan satu hal sederhana: ketika sejarah dibuka dalam format yang mudah dinikmati, warga lebih mudah datang. Ketika warga datang, UMKM ikut bergerak. Dan ketika UMKM bergerak, denyut ekonomi lokal pun terasa. Di Depok, itu terlihat dari satu festival yang baru pertama digelar, tapi sudah memberi tempat bagi bazar, studio sejarah, dan cerita kota yang ingin terus hidup.
Sumber: ANTARA, laporan Feru Lantara.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.