Minggu, 28 Juni 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

Kalsel kemarin dari Festival Bamboo Rafting hingga UMKM

Kalsel kemarin sorot Festival Bamboo Rafting dan UMKM
Kalsel kemarin dirangkum dari Festival Bamboo Rafting hingga UMKM. (Ilustrasi: AI)

TANJUNG — Kalsel kemarin diwarnai rangkaian kabar ekonomi dan kesejahteraan rakyat pada Sabtu, 27 Juni, mulai dari pembukaan bazar UMKM di Festival Bamboo Rafting oleh Ketua Dekranasda Hulu Sungai Selatan hingga langkah Pemkot Banjarmasin bersama Bank Kalsel memperluas akses permodalan bagi pelaku usaha kecil.

Rangkuman ini penting karena menggambarkan dua hal yang berjalan beriringan di Kalimantan Selatan: promosi ekonomi daerah lewat ajang wisata dan penguatan ekosistem usaha kecil lewat akses modal, pendidikan, serta pembinaan sumber daya manusia. Isinya memang ringkas, tapi dampaknya langsung terasa bagi warga, pelaku usaha, dan calon tenaga kerja muda di daerah.

Kalsel kemarin: Festival Bamboo Rafting jadi etalase UMKM

Di Hulu Sungai Selatan, Ketua Dekranasda setempat membuka bazar UMKM dalam gelaran Festival Bamboo Rafting. Kegiatan ini menempatkan produk lokal di ruang yang dekat dengan publik, tepat di tengah arus wisata dan kegiatan budaya yang biasanya menarik banyak perhatian warga.

Bagi pelaku usaha kecil, pola seperti ini punya arti jelas. Mereka tidak hanya menjual barang, tetapi juga bertemu calon pembeli baru, menguji minat pasar, dan membangun jejaring yang sering kali lebih berharga daripada sekadar transaksi satu hari. Dari kerajinan, makanan olahan, sampai produk rumah tangga, bazar semacam ini memberi panggung yang jarang didapat di hari biasa.

Festival Bamboo Rafting sendiri selama ini dikenal sebagai ruang yang menggabungkan wisata sungai, budaya lokal, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, pembukaan bazar UMKM di ajang tersebut bukan sekadar pelengkap acara. Ia menjadi pintu agar perputaran uang di sekitar festival ikut mengalir ke pelaku usaha kecil setempat.

Model seperti ini juga relevan bagi pembaca yang tinggal di luar Kalsel. Banyak daerah di Indonesia mulai mengandalkan festival lokal untuk menggerakkan ekonomi mikro. Ujungnya sederhana: pengunjung datang, produk lokal ikut laku, dan pelaku UMKM mendapat tempat lebih luas untuk dikenal.

Beasiswa Tabalong Smart dan pesan untuk penerimanya

Masih dalam rangkuman Kalsel kemarin, para penerima beasiswa Tabalong Smart juga mendapat pesan agar ikut berkontribusi bagi pembangunan daerah. Pesan ini menegaskan bahwa bantuan pendidikan tidak berhenti pada pembayaran biaya kuliah atau dukungan belajar semata.

Daerah berharap penerima beasiswa kelak kembali dengan kemampuan yang lebih baik. Mereka diharapkan mengisi ruang pembangunan, baik lewat sektor pemerintahan, dunia usaha, pendidikan, maupun layanan publik. Pola pikir seperti ini penting, terutama untuk daerah yang ingin menahan talenta mudanya agar tidak seluruhnya keluar setelah lulus.

Bagi keluarga penerima, beasiswa jelas meringankan beban. Bagi pemerintah daerah, investasi ini punya tujuan jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi efeknya bisa muncul beberapa tahun ke depan saat para penerima mulai bekerja dan membawa pengalaman dari bangku kuliah ke lapangan.

Tabalong sendiri kerap menempatkan pendidikan sebagai bagian dari pembangunan manusia. Karena itu, beasiswa seperti Tabalong Smart tidak berdiri sendiri. Ia terkait langsung dengan kebutuhan daerah untuk menyiapkan sumber daya manusia yang siap pakai dan punya ikatan dengan daerah asal.

Tim listrik SMKN 1 Paringin dan bekal untuk generasi muda

Dari Balangan, tim listrik SMKN 1 Paringin meraih penghargaan internasional. Kabar ini memberi sinyal bahwa kompetensi siswa vokasi di daerah tidak kalah bersaing ketika diberi ruang untuk menunjukkan kemampuan.

Pencapaian semacam ini biasanya lahir dari kombinasi latihan, pembinaan, dan disiplin. Sekolah vokasi memang dirancang untuk menyiapkan siswa masuk ke dunia kerja lebih cepat, dan capaian internasional memberi bukti bahwa kerja keras di ruang praktik bisa menghasilkan pengakuan yang lebih luas.

Untuk masyarakat, keberhasilan ini juga membawa pesan yang lebih praktis: sekolah di daerah mampu mencetak talenta yang kuat jika didukung fasilitas, guru, dan kesempatan kompetisi. Ini penting, sebab kebutuhan tenaga teknis di banyak sektor masih tinggi. Lulusan yang terampil akan selalu dicari.

Di titik ini, kabar dari SMKN 1 Paringin menjadi pengingat bahwa pembangunan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh modal uang. Modal keterampilan sama pentingnya. Bahkan sering lebih langka.

YABN bekali mahasiswa IBFL kelola kecemasan

Rangkaian Kalsel kemarin juga memuat kegiatan YABN yang membekali mahasiswa IBFL untuk mengelola kecemasan dan siap menghadapi masa depan. Topik ini terasa dekat dengan banyak mahasiswa, terutama mereka yang sedang berhadapan dengan tekanan akademik, tuntutan keluarga, dan kekhawatiran soal pekerjaan setelah lulus.

Pembekalan semacam ini menunjukkan bahwa isu kesejahteraan mahasiswa tidak melulu soal uang kuliah atau fasilitas kampus. Ada sisi psikologis yang perlu dijaga. Tanpa kesiapan mental, mahasiswa bisa kesulitan memanfaatkan peluang yang sebenarnya tersedia.

Bagi pembaca muda, pesan dari agenda ini sederhana tapi penting: kemampuan teknis harus berjalan bersama ketahanan mental. Dunia kerja sekarang menuntut keduanya. Orang yang pintar saja belum cukup, dan orang yang berani saja juga belum tentu tahan menghadapi tekanan.

Program pembekalan seperti ini juga membantu kampus dan lembaga pembina menyiapkan lulusan yang lebih siap masuk ke lingkungan kerja. Dari sudut pandang pembangunan manusia, kegiatan semacam ini punya nilai yang besar meski sering tidak tampak dalam angka ekonomi harian.

Bank Kalsel dan Pemkot Banjarmasin dorong akses modal UMKM

Di Banjarmasin, Pemkot Banjarmasin bersama Bank Kalsel memperluas akses permodalan bagi UMKM. Ini mungkin jadi kabar yang paling langsung dirasakan pelaku usaha kecil, sebab modal masih menjadi salah satu hambatan utama bagi banyak usaha mikro untuk tumbuh lebih cepat.

Akses pembiayaan yang lebih terbuka berarti pelaku usaha punya peluang membeli bahan baku, menambah stok, memperbaiki alat produksi, atau memperluas pemasaran. Tanpa modal yang cukup, usaha kecil sering terjebak di skala yang sama selama bertahun-tahun. Berputar di situ-situ saja.

Kerja sama pemerintah daerah dan bank daerah juga penting karena keduanya punya peran yang saling melengkapi. Pemerintah daerah memahami kebutuhan warganya, sedangkan bank menyediakan skema pembiayaan yang lebih terstruktur. Jika jalur ini berjalan rapi, UMKM punya peluang naik kelas tanpa harus bergantung pada sumber dana yang mahal.

Bagi warga Banjarmasin, langkah ini bisa berarti lebih banyak usaha lokal yang bertahan dan berkembang. Bagi daerah, dampaknya lebih luas: perputaran ekonomi kecil yang sehat akan memperkuat pasar domestik, membuka lapangan kerja, dan menambah daya tahan ekonomi saat situasi melambat.

Itulah benang merah Kalsel kemarin. Dari festival wisata, beasiswa, prestasi siswa vokasi, pembekalan mahasiswa, sampai penguatan modal UMKM, semuanya mengarah pada satu tujuan yang sama: ekonomi daerah yang bergerak, didukung manusia yang lebih siap. Seperti rangkuman ANTARA, kabar-kabar ini kecil jika berdiri sendiri, tapi bersama-sama membentuk gambaran yang cukup jelas tentang arah pembangunan di Kalimantan Selatan.

(AP)

Tag: Banjarmasin Bank Kalsel Dekranasda Festival Bamboo Rafting Kalimantan Selatan Tabalong Smart UMKM
📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Artikel Untuk Anda