BANJARMASIN — Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) mendorong peran aktif PT Bank Kalsel untuk mendukung sektor pertanian melalui alokasi dana Corporate Social Responsibility (CSR). Bantuan ini diproyeksikan untuk pengembangan perkebunan kelapa dalam yang membutuhkan penanganan khusus pada lahan rawa.
Harapan tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi II, H Suripno Sumas, dan Sekretaris Komisi II, H Jahrian, dalam rapat kerja bersama pihak bank di Banjarmasin. Pengembangan komoditas ini dinilai krusial, terutama bagi Kabupaten Barito Kuala (Batola) yang memiliki rencana pengembangan lahan seluas 600 hektare.
Jahrian menjelaskan bahwa karakteristik lahan rawa di wilayah tersebut memerlukan perlakuan khusus agar tanaman kelapa dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal. Tantangan teknis di lapangan menjadi alasan utama mengapa dukungan pendanaan di luar anggaran pemerintah pusat sangat diperlukan.
Target Realisasi Lahan
Suripno Sumas, yang merupakan anggota DPRD Kalsel tiga periode, menekankan bahwa keberhasilan realisasi penanaman seluas 1.100 hektare menjadi langkah krusial. Keberhasilan ini diharapkan mampu menjadi pintu masuk untuk mencapai target perluasan hingga 5.000 hektare berikutnya.
Menurutnya, pembiayaan dari Kementerian Pertanian saat ini belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan operasional pengolahan lahan yang cukup menantang.
“Seperti hutan galam di Batola, tidak mudah untuk mengolah lahan buat penanaman kelapa dalam, kecuali mungkin dengan bantuan biaya,” ujar Suripno. Keterbatasan anggaran inilah yang membuat kolaborasi bersama institusi keuangan daerah menjadi sangat relevan.
Respons Bank Kalsel
Menanggapi aspirasi tersebut, Direktur Utama Bank Kalsel, H Fachrudin, menyatakan dukungan positif terhadap rencana pengembangan sektor pertanian ini. Meski demikian, penyaluran bantuan harus disesuaikan dengan alokasi anggaran yang tersedia di perusahaan.
Fachrudin mengungkapkan bahwa untuk alokasi dana CSR pada tahun 2026, anggaran tersebut saat ini sudah terbagi untuk berbagai program. Oleh karena itu, penyaluran bantuan untuk proyek kelapa dalam kemungkinan besar baru dapat direalisasikan pada tahun 2027.
Terkait kapasitas pendanaan, ia menjelaskan bahwa jatah CSR dari Bank Kalsel terbatas pada angka satu persen, kecuali terdapat alokasi tambahan dari pemerintah daerah sebesar lima persen.
Meskipun terdapat kendala pada jadwal penyaluran, pihak manajemen berkomitmen untuk mencari solusi agar target penanaman 1.100 hektare kelapa dalam di Kalimantan Selatan tidak mengalami kegagalan.
Kolaborasi ini menjadi ujian nyata bagi Bank Kalsel dalam mendukung diversifikasi ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan.

📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.