KANDANGAN — Festival Bamboo Rafting HSS dibuka Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin bersama Bupati Hulu Sungai Selatan H. Syafrudin Noor di Alam Roh 7, Loksado, Ahad, sekaligus menerima Piagam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026 dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Pengakuan itu membuat Festival Bamboo Rafting Loksado resmi masuk kalender pariwisata nasional. Bagi warga HSS, status ini bukan sekadar seremonial. Ada taruhannya: arus wisatawan, perputaran uang di desa, dan peluang usaha di sekitar Loksado ikut bergeser naik.
Acara pembukaan berlangsung dengan suasana yang padat namun tertib. Setelah penyerahan piagam, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan stimulan kepada sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari paket sembako untuk kader PKK dan pendidik PAUD, perlengkapan sekolah bagi siswa kurang mampu dan penyandang disabilitas, hingga bantuan rehabilitasi sosial Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Langkah itu menegaskan satu hal. Festival ini bukan cuma soal hiburan di sungai. Ada pesan sosial yang ikut dibawa.
Festival Bamboo Rafting HSS masuk tiga unggulan Kalsel di KEN 2026
Masuknya Festival Bamboo Rafting Loksado ke KEN 2026 punya arti besar bagi Kalimantan Selatan. Pemerintah provinsi menyebut agenda ini sebagai salah satu dari tiga event unggulan daerah yang lolos seleksi KEN tahun depan. Posisi itu memberi panggung lebih luas untuk promosi, penguatan ekosistem wisata, dan pembenahan layanan di lapangan.
Bupati HSS H. Syafrudin Noor mengatakan keberhasilan itu menjadi dorongan besar bagi pemerintah daerah untuk terus meningkatkan kualitas sektor pariwisata. Menurut dia, Loksado punya bekal alam yang kuat dan juga nilai budaya yang tidak bisa dipisahkan dari identitas masyarakat setempat.
“Loksado dianugerahi alam yang luar biasa dan kini diakui sebagai bagian dari UNESCO Global Geopark Meratus. Tugas kita bersama adalah menjaga kelestarian ini. Kami berharap pariwisata HSS dapat terus maju, memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat tanpa kehilangan jati diri budayanya,” ujar Syafrudin.
Ucapan itu penting dibaca sebagai arah kebijakan. Pemerintah daerah ingin wisata tumbuh, tapi tidak memutus akar tradisi. Di Loksado, bambu, sungai, hutan, dan adat bukan ornamen. Itu inti pengalaman wisatanya.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.