NEW YORK — Petinju berbakat Jarod Boots Ennis tampil sangat dominan saat merebut kemenangan knockout (KO) pada ronde ketujuh atas Xander Zayas demi menyatukan sabuk juara WBA dan WBO di Brooklyn Center, New York. Pertarungan unifikasi kelas menengah junior ini menyajikan duel taktis tingkat tinggi yang berakhir klimaks.
Laga yang berlangsung pada Minggu siang WIB tersebut menjadi pembuktian sahih kehebatan sang jawara. Hasil manis ini memaksa Zayas menelan kekalahan perdana sepanjang karier profesionalnya. Rekor bertarung petinju asal Puerto Riko itu kini merosot menjadi 23-1.
Sebaliknya, sang pemenang memperpanjang rekor impresifnya menjadi 36 kemenangan tanpa kalah. Hebatnya lagi, 32 kemenangan di antaranya diselesaikan lewat jalur KO yang mengerikan.
## Dominasi Total Sejak Ronde Pertama
Sejak bel ronde pertama berbunyi, sang juara langsung mengambil inisiatif serangan. Jarod Boots Ennis tidak memberikan ruang bernapas bagi Zayas untuk mengembangkan permainan. Sebuah pukulan hook kiri telak dari sang petinju langsung menjatuhkan Zayas ke kanvas saat laga baru berjalan satu menit. Zayas tampak goyah namun berhasil bangkit sebelum hitungan wasit selesai.
Pertarungan sempat berjalan seimbang pada ronde ketiga dan keempat. Zayas mencoba bangkit dengan mengandalkan keunggulan jangkauan tangannya. Pukulan kanan Zayas beberapa kali sempat merepotkan dan memojokkan lawan ke tali ring. Pada fase ini, transisi bertahan ke menyerang dari Zayas sempat membuat sang lawan kewalahan menghadapi kombinasi pukulan satu-dua.
Namun, kendali permainan kembali direbut sepenuhnya pada ronde kelima. Sang juara mengubah strategi dengan menerapkan pressing ketat dan memotong sudut pergerakan lawan. Tekanan bertubi-tubi lewat kombinasi pukulan ke arah tubuh dan kepala memaksa Zayas kembali terjatuh untuk kedua kalinya dalam laga panas ini.
Puncaknya terjadi pada ronde ketujuh ketika waktu menyisakan 1 menit 49 detik. Kombinasi hook kiri yang sangat cepat dan keras mendarat telak di rahang Zayas. Pukulan itu meruntuhkan pertahanan sang penantang. Meski Zayas sempat bangkit sebelum hitungan wasit selesai, sang pengadil ring memutuskan untuk menghentikan laga demi keselamatan sang petinju yang sudah terlihat linglung.
## Perbandingan Statistik Ketiga Petinju
Keberhasilan mempertahankan rekor tak terkalahkan ini menegaskan posisi sang juara di puncak rantai makanan kelas menengah junior. Berikut adalah perbandingan rekor bertarung para petinju yang tampil gemilang di Brooklyn Center:
| Nama Petinju | Total Laga | Menang (KO) | Kalah | Imbang |
|---|---|---|---|---|
| Jarod Boots Ennis | 36 | 36 (32) | 0 | 0 |
| Xander Zayas | 24 | 23 (12) | 1 | 0 |
| Ben Whittaker | 13 | 12 (9) | 0 | 1 |
## Debut Manis Ben Whittaker di Amerika Serikat
Pada laga tambahan di tempat yang sama, bintang baru kelas berat ringan asal Inggris, Ben Whittaker, juga mencuri perhatian penonton yang memadati arena. Menjalani debutnya di Amerika Serikat, peraih medali perak Olimpiade Tokyo ini menang KO ronde kedua atas petinju gaek berusia 35 tahun, Richard Rivera. Whittaker memamerkan gaya bertarung yang menghibur sekaligus mematikan.
Laga baru berjalan 27 detik di ronde kedua saat kombinasi pukulan Whittaker mengirim Rivera ke kanvas untuk kedua kalinya. Wasit langsung menghentikan pertarungan setelah melihat Rivera tidak lagi mampu memberikan perlawanan sepadan. Kemenangan impresif ini membuat rekor bertarung Whittaker kini menjadi 12 kali menang, sekali imbang, tanpa kalah.
Promotor Matchroom Boxing, Eddie Hearn, menyatakan bahwa anak asuhnya tersebut kini hanya berjarak tiga pertarungan lagi untuk menantang sabuk juara dunia kelas berat ringan di kelas 175 pon. Pertarungan domestik besar melawan Joshua Buatsi atau petinju tangguh asal Skotlandia, Willy Hutchinson, kini tengah dijajaki untuk akhir tahun ini. Pertemuan sesama petinju Britania Raya dipastikan bakal menyedot animo luar biasa dari para pencinta olahraga baku hantam.
“Bagi saya pribadi, siapa pun lawan berikutnya tidak masalah. Yang terpenting adalah duel yang masuk akal dan bisa membawa saya ke tempat yang saya tuju,” tegas Whittaker kepada media setempat pasca-laga. Whittaker optimistis gaya bertarungnya yang flamboyan akan segera memikat publik tinju Amerika Serikat dalam waktu dekat.
Pertarungan unifikasi sabuk juara ini membuktikan bahwa persaingan di kelas menengah junior kini semakin memanas dengan kehadiran sang juara sejati baru. Langkah besar berikutnya dari sang pemegang sabuk ganda kini dinantikan oleh para penggemar tinju di seluruh dunia.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.