Minggu, 2 Agustus 2026 WIB
BREAKING
BUDAYA

Queer: Pengertian, Budaya LGBTQ+, dan Tokoh yang Perlu Dipahami dengan Hati-hati

Bendera pelangi Pride berkibar di langit biru — simbol budaya LGBTQ+
Queer: Pengertian, Budaya LGBTQ+, dan Tokoh yang Perlu Dipahami dengan Hati-hati

Kata queer pernah dilempar sebagai ejekan. Kini banyak orang memakai istilah itu untuk menamai diri, komunitas, dan cara berpikir tentang seksualitas serta gender yang menolak kotak terlalu sempit.

Bendera pelangi Pride berkibar di langit biru — simbol budaya LGBTQ+
Bendera pelangi Pride. Foto: Benson Kua / Wikimedia Commons, CC BY-SA 2.0.

LGBT — lesbian, gay, biseksual, transgender — tetap akrab di ruang publik. Queer tidak otomatis menggantikannya. Ia lebih sering menjadi payung, identitas tersendiri, atau kerangka kritik terhadap norma yang menganggap heteroseksualitas dan gender biner sebagai satu-satunya pola yang wajar.

Pengertian queer

Menurut Merriam-Webster, queer merujuk pada orang atau kelompok yang ketertarikan seksual maupun hubungan romantisnya tidak terbatas pada kerangka identitas gender atau orientasi yang kaku. Definisi kamus hanyalah titik awal. Makna queer hidup di komunitas, di ruang akademik, dan dalam sejarah perjuangan hak.

Tamsin Spargo dalam Foucault and Queer Theory (1999) menekankan bahwa queer tidak menunjuk satu identitas gender tertentu. Istilah itu membuka ruang bagi siapa saja yang terpinggirkan karena orientasi atau praktik seksualnya. Harry Benshoff dan Sean Griffin, dalam Queer Cinema: The Film Reader (2004), membingkai queer sebagai teori yang menolak gagasan esensial atau biologis tentang gender dan seksualitas sebagai sesuatu yang tetap dan “alami”. Mereka melihat keduanya sebagai konstruksi sosial yang bisa bergerak.

Penting membedakan teori dari stereotip. Queer tidak berarti seseorang “tanpa gender”, tidak pula berarti orientasinya “tidak tetap” secara otomatis. Banyak orang queer memiliki identitas yang jelas bagi diri mereka sendiri — gay, lesbian, biseksual, transgender, non-biner, atau queer sebagai label mandiri. Yang ditolak teori queer justru anggapan bahwa hanya ada satu cara “benar” menjadi laki-laki atau perempuan, atau bahwa hanya hubungan lawan jenis yang sah secara sosial.

Di ruang publik, queer sering berfungsi sebagai payung bagi spektrum LGBTQ+. Seseorang bisa gay dan merasa nyaman di bawah payung queer; orang lain memilih queer justru karena merasa kategori tunggal tidak cukup menggambarkan pengalaman mereka. Kedua pilihan itu sah. Yang tidak akurat adalah menyamakan seluruh komunitas queer dengan satu pola perilaku.

Budaya queer dan LGBTQ+

Budaya queer — yang di ruang sehari-hari sering disebut budaya LGBTQ+ — tumbuh dari kebutuhan eksistensi, saling jaga, dan perjuangan hak. Ia bukan “gaya hidup tunggal”, melainkan jaringan praktik: berkumpul, menulis, berparade, membuat seni, dan membangun ruang aman ketika keluarga atau institusi gagal memberi perlindungan.

Sejarah organisasi modern sering dimulai dari kelompok kecil yang berani. Mattachine Society, yang digagas Harry Hay pada awal 1950-an di Amerika Serikat, memberi ruang bagi pria gay untuk bertemu dan membicarakan pengalaman yang saat itu dianggap berbahaya jika terbuka. Di New York tahun 1980, klub sastra The Violet Quill mengumpulkan tujuh penulis gay yang ingin menempatkan pengalaman mereka sebagai narasi manusia biasa — bukan sensasi “nakal”.

Di era digital, komunitas daring menjadi jembatan. Penelitian Chana Etengoff dan Colette Daiute (2015) mencatat bagaimana pria gay memanfaatkan jaringan online untuk menghadapi ketegangan antara keluarga, agama, dan identitas. Di Indonesia, ruang digital juga dipakai banyak orang untuk saling mendukung dan menantang stigma — meskipun tekanan sosial tetap nyata.

Kerumunan Parade Pride New York 2018 dengan bendera pelangi
NYC Pride Parade 2018. Foto: FULBERT / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Parade kebanggaan (pride) adalah wajah publik yang paling dikenal. Acara luar ruang itu merayakan penerimaan sosial, pencapaian hukum, dan solidaritas generasi. Pride Month setiap Juni menandai warisan Juni 1969, ketika penggerebekan polisi di Stonewall Inn, Greenwich Village, New York, memicu perlawanan yang kini dikenang sebagai titik balik gerakan pembebasan gay modern. Bukan satu malam yang “menciptakan” seluruh gerakan, tetapi Stonewall menjadi simbol yang terus diulang di seluruh dunia.

Fasad Stonewall Inn di New York dengan bendera Pride, April 2019
Stonewall Inn, New York, April 2019. Foto: Antigng / Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Budaya biseksual sering terpinggirkan bahkan di dalam komunitas LGBTQ+. Daniel Welzer-Lang (2008) menunjuk monoseksisme — anggapan bahwa orang hanya “benar-benar” tertarik pada satu gender — sebagai sumber penghapusan dan bifobia. Membaca queer dengan jujur berarti mengakui bahwa spektrum itu tidak homogen, dan bahwa diskriminasi bisa datang dari luar maupun dari dalam kelompok.

Representasi lewat film, buku, musik, dan seni tetap menjadi jalur sosialisasi. Gerakan queercore sejak pertengahan 1980-an, misalnya, lahir dari cabang punk dengan semangat do-it-yourself: zine, musik, tulisan, dan film yang mengkritik cara masyarakat memosisikan orang non-heteroseksual sebagai “kelainan”.

Konteks militer Amerika Serikat menambah lapisan lain. Setelah pencabutan kebijakan Don’t Ask, Don’t Tell, personel LGBTQ+ tetap menghadapi urusan administratif yang rumit: penyesuaian dokumen, kata ganti, dan akses layanan medis yang sesuai identitas. Kebijakan yang “membuka pintu” belum otomatis menghapus hambatan sehari-hari — catatan yang relevan kapan pun negara mengklaim sudah “inklusif”.

Spanduk Delhi Queer Pride 2010 di tengah peserta parade
Delhi Queer Pride 2010. Foto: Ramesh Lalwani / Wikimedia Commons, CC BY 2.0.

Tokoh: hati-hati dengan label sejarah

Soal tokoh, kehati-hatian lebih penting daripada daftar selebritas. Banyak sumber populer — termasuk tulisan edukasi yang menginspirasi artikel ini — menyebut William Shakespeare, Raja Richard I, Julius Caesar, atau Leonardo da Vinci sebagai “contoh queer”. Sejarawan memang memperdebatkan soneta Shakespeare, kedekatan Richard dengan Philip II dari Prancis, atau kehidupan pribadi da Vinci. Namun menempelkan label identitas modern pada tokoh abad lampau sering bersifat spekulatif dan anakronistik. Yang lebih bertanggung jawab adalah mengatakan: bukti sejarah menunjukkan spektrum keinginan dan relasi yang lebih kompleks daripada mitos heteroseksual tunggal — tanpa memaksa kepastian yang tidak dimiliki arsip.

Tokoh modern yang terdokumentasi memberi pijakan lebih kokoh. Oscar Wilde dihukum di Inggris Victoria karena hubungan sesama jenis — kasus yang membentuk imajinasi publik tentang hukuman dan stigma. Di Amerika Serikat, Marsha P. Johnson dan Sylvia Rivera dikenang sebagai aktivis era Stonewall yang memperjuangkan orang transgender dan mereka yang paling rentan. Harvey Milk, anggota dewan kota San Francisco yang terbunuh pada 1978, menjadi simbol keterbukaan politik. Audre Lorde menulis tentang persimpangan ras, gender, dan seksualitas dengan bahasa yang masih dibaca di kampus hingga hari ini.

Memahami queer bukan soal menghafal akronim. Ia soal membaca bagaimana bahasa, hukum, seni, dan komunitas saling membentuk. Ketika istilah yang dulu melukai direbut kembali sebagai identitas atau kerangka kritik, yang terjadi bukan “tren”, melainkan negosiasi panjang tentang siapa yang boleh hidup tanpa takut.

Artikel ini ditulis ulang secara mandiri dengan inspirasi struktur topik dari Kompas.com/Skola (18 April 2022) tentang pengertian queer, budaya, dan tokoh. Fakta kamus, teori, dan sejarah diverifikasi ulang; stereotip yang menyesatkan dihindari. Foto: Wikimedia Commons (CC).

(YF)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda