KANDANGAN — Bazar UMKM yang menjadi rangkaian Festival Bamboo Rafting 2026 di Komplek Wisata Alam Roh 7, Loksado, dibuka Ketua Dekranasda Hulu Sungai Selatan (HSS) Hj. Mustaidah Syafrudin Noor, Jumat. Kegiatan ini menghadirkan 30 tenant yang memamerkan produk unggulan daerah, mulai dari kuliner khas hingga karya kreatif warga.
Pembukaan bazar itu memberi satu pesan jelas: festival wisata tak berhenti pada tontonan. Ada urusan yang lebih besar di belakangnya. Perputaran uang di tingkat lokal, ruang promosi bagi pelaku usaha kecil, dan peluang agar produk Loksado tidak hanya dikenal saat acara berlangsung, tapi juga sesudahnya.
Bazar UMKM jadi ruang jualan dan panggung promosi
Dalam laporan Ketua Pelaksana yang disampaikan Kepala Disporapar HSS Doddy Puryandhani, bazar tahun ini diisi 30 tenant. Mereka membawa ragam produk yang mewakili wajah ekonomi kreatif HSS. Kuliner tradisional, kerajinan, dan produk olahan daerah tampil berdampingan di area wisata alam yang selama ini identik dengan arung jeram bambu.
Susunan seperti ini penting. Pengunjung festival datang untuk menikmati suasana, lalu berhenti di stan yang menarik perhatian mereka. Satu porsi makanan khas bisa berujung pada pesanan ulang. Sebuah kerajinan kecil bisa memancing percakapan, foto, lalu promosi dari mulut ke mulut. Bagi UMKM, pola sederhana seperti itu sering lebih efektif daripada iklan mahal.
Mustaidah menegaskan bahwa festival bukan sekadar hiburan tahunan atau ajang seremonial. Menurut dia, momentum ini harus dipakai untuk menunjukkan kekayaan budaya lokal dan kreativitas masyarakat melalui produk-produk terbaik agar makin dikenal luas. Nada pesannya tegas. Loksado tidak boleh hanya dikenal karena alamnya.
Dorongan agar pelaku usaha naik kelas
Di hadapan para pelaku usaha, Mustaidah meminta UMKM di Loksado terus maju dan berdaya saing. Ia menekankan tiga langkah yang perlu ditempuh: terus belajar, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi digital dalam pemasaran. Cara lama masih penting, tapi pasar sekarang bergerak lebih cepat. Pembeli mencari produk lewat gawai, bukan hanya lewat etalase fisik.
Kalau pelaku usaha lokal ingin menjangkau pelanggan di luar daerah, mereka harus hadir di ruang digital. Foto produk perlu rapi. Nama usaha perlu jelas. Kontak pemesanan harus mudah ditemukan. Hal sederhana seperti itu sering menentukan apakah pembeli jadi bertransaksi atau sekadar lewat. Mustaidah mendorong jejaring yang lebih luas agar UMKM mampu menjadi penggerak utama ekonomi masyarakat.
Pesan ini relevan untuk banyak daerah wisata di Indonesia, termasuk HSS. Festival bisa ramai selama beberapa hari, tapi manfaat ekonominya baru terasa panjang jika para pelaku usaha punya saluran penjualan yang hidup setelah panggung dibongkar. Di titik itu, teknologi digital bukan lagi pelengkap. Ia berubah jadi alat bertahan.
Bambu Loksado dan peluang produk bernilai tambah
Mustaidah juga menyoroti bambu, ikon Loksado yang sudah lama melekat pada identitas wilayah tersebut. Menurut dia, kreativitas dan inovasi bisa membuat bambu tidak berhenti sebagai atraksi wisata olahraga arus deras. Bahan itu bisa diolah menjadi produk ekonomi yang lebih bernilai, dari suvenir, perabot kecil, sampai barang pakai yang punya pasar lebih luas.
Gagasan itu masuk akal. Bambu tumbuh melimpah, mudah dibentuk, dan punya citra ramah lingkungan. Bila dikelola dengan desain yang baik, bahan ini bisa naik kelas dari objek wisata menjadi sumber pendapatan. Yang dibutuhkan tinggal satu: keberanian pelaku usaha untuk mengolah ide menjadi produk yang layak jual. Di sana letak tantangannya.
Apresiasi juga datang dari Mustaidah kepada Disporapar HSS dan seluruh warga yang bergotong royong menyukseskan acara. Ia berharap gelaran ini membawa manfaat dan berkah besar bagi ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Ucapan itu menutup pembukaan dengan nada yang hangat, tapi isinya tetap serius: festival harus memberi efek nyata, bukan sekadar meriah di foto.
Dukungan lintas pihak dan efek kunjungan wisata
Acara ini turut dihadiri Wakil Ketua Dekranasda sekaligus Wakil Ketua TP PKK HSS Hj. Misnawati Suriani, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta sejumlah perwakilan organisasi perangkat daerah. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa urusan UMKM tidak berdiri sendiri. Ada kerja lintas dinas, lintas program, dan lintas kepentingan yang harus bergerak searah.
Daya tarik festival juga meluas ke luar daerah. Perwakilan duta wisata dari beberapa kabupaten tetangga hadir, bahkan Kepala Disporapar Kabupaten Tanah Bumbu datang langsung ke lokasi. Arus pengunjung dari daerah lain biasanya membawa efek ganda: stan lebih ramai, promosi meluas, dan citra destinasi ikut terangkat. Bagi HSS, ini sinyal baik bahwa Loksado punya magnet yang tak kecil.
Ke depan, tantangannya ada pada konsistensi. Bazar seperti ini perlu terus dibenahi dari sisi kurasi produk, kemasan, ruang promosi, dan pendampingan usaha. Jika semua itu jalan, Festival Bamboo Rafting bukan cuma agenda tahunan. Ia bisa menjadi pintu masuk bagi UMKM HSS untuk naik kelas, memperluas pasar, dan menjadikan bambu sebagai sumber ekonomi yang lebih tahan lama.
Ringkasan singkat
1. Ketua Dekranasda HSS Hj. Mustaidah Syafrudin Noor membuka Bazar UMKM dan Ekonomi Kreatif dalam Festival Bamboo Rafting 2026 di Loksado.
2. Sebanyak 30 tenant ikut memamerkan produk lokal, dari kuliner khas hingga produk kreatif daerah.
3. Mustaidah mendorong UMKM memanfaatkan teknologi digital dan mengolah bambu Loksado menjadi produk bernilai tambah.
FAQ singkat
Apa yang dibuka? Bazar UMKM dan Ekonomi Kreatif bagian dari Festival Bamboo Rafting 2026.
Di mana lokasinya? Komplek Wisata Alam Roh 7, Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Berapa tenant yang ikut? Tercatat 30 tenant.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.