ARLINGTON — Tim nasional Argentina menutup fase grup dengan kemenangan meyakinkan setelah Lionel Messi mencatatkan sejarah Piala Dunia dengan tendangan bebas melengkung yang fantastis. Masuk sebagai pemain pengganti, La Pulga mengunci kemenangan 3-1 atas Yordania sekaligus menobatkan dirinya sebagai pesepak bola pertama yang selalu mencetak gol dalam tujuh laga Piala Dunia secara beruntun. Argentina tampil dominan sejak menit pertama meski melakukan rotasi besar-besaran.
Laga pamungkas Grup G yang berlangsung di Stadion Arlington ini sebenarnya tidak lagi menentukan bagi Albiceleste. Anak asuh Lionel Scaloni sudah menggenggam tiket fase gugur sebagai juara grup. Situasi ini membuat Scaloni memilih mengistirahatkan sang kapten di bangku cadangan pada awal laga guna menjaga kebugaran fisik sang megabintang.
Tanpa Messi sejak menit pertama, Argentina tetap mendominasi jalannya permainan dengan penguasaan bola mencapai 68 persen pada paruh pertama. Gol pembuka lahir pada menit ke-19 lewat eksekusi bola mati nan indah. Berawal dari pelanggaran keras Mohannad Abu Taha kepada Giovani Lo Celso di luar kotak penalti, gelandang asal Real Betis tersebut bangkit dan melepaskan tembakan melengkung ke pojok atas gawang Yazeed Abulaila.
Dominasi Babak Pertama dan Penalti Lautaro
Tekanan juara bertahan tidak mengendur setelah unggul satu gol. Aliran bola cepat dari kaki ke kaki yang dimotori oleh Alexis Mac Allister membuat barisan pertahanan Yordania kelimpungan. Lautaro Martinez nyaris menggandakan keunggulan saat sontekannya membentur mistar gawang setelah menerima umpan silang mendatar dari sayap kanan.
Kemelut dari bola muntah tersebut memicu pelanggaran keras Nizar Al-Rashdan terhadap bek Argentina, Marcos Senesi, di area terlarang. Wasit langsung menunjuk titik putih tanpa ragu setelah melihat posisi pelanggaran yang sangat jelas di depan gawang.
Lautaro Martinez yang maju sebagai algojo menjalankan tugasnya dengan dingin pada menit ke-26 untuk mengubah papan skor menjadi 2-0. Yordania yang sudah dipastikan tersingkir sempat memberikan perlawanan sengit di sisa babak pertama lewat serangan balik cepat, namun koordinasi lini belakang Argentina yang digalang Cristian Romero masih terlalu kokoh untuk ditembus.
| Statistik Pertandingan | Argentina | Yordania |
|---|---|---|
| Penguasaan Bola | 64% | 36% |
| Total Tembakan (Tepat Sasaran) | 18 (8) | 5 (2) |
| Pelanggaran | 11 | 16 |
| Tendangan Sudut | 7 | 2 |
Memasuki babak kedua, jalannya pertandingan sedikit melambat akibat perubahan taktik Argentina yang lebih menonjolkan aspek penguasaan area tengah. Argentina sempat mencetak gol ketiga melalui Lautaro, tetapi VAR menganulir gol tersebut karena sang striker sudah berdiri dalam posisi offside tipis saat menerima umpan terobosan. Tak lama berselang, sepakan keras penyerang Inter Milan itu kembali digagalkan oleh tiang gawang yang menyelamatkan Yordania dari kebobolan lebih banyak.
Sihir Instan Lionel Messi dari Bangku Cadangan
Yordania sempat mengejutkan publik Arlington pada menit ke-65. Melalui skema transisi positif yang sangat cepat, umpan silang akurat Ehsan Haddad berhasil disambar dengan sempurna oleh Mousa Tamari yang lolos dari kawalan ketat untuk memperkecil kedudukan menjadi 2-1. Gol ini sempat membakar semangat para pemain wakil Asia tersebut untuk keluar menyerang.
Melihat situasi lapangan yang mulai tidak kondusif, Scaloni langsung memasukkan Lionel Messi menggantikan Julian Alvarez. Keputusan ini terbukti krusial untuk menstabilkan mental bertanding armada Albiceleste. Kehadiran pemilik delapan gelar Ballon d’Or itu langsung mengembalikan kendali permainan ke tangan Argentina lewat visi bermainnya yang luar biasa.
Puncaknya terjadi pada menit ke-70 ketika Argentina mendapatkan hadiah tendangan bebas tepat di depan kotak penalti Yordania. Dengan ketenangan khasnya, Messi mengirimkan bola melengkung melewati pagar betis yang membuat kiper Yazeed Abulaila hanya terpaku melihat bola masuk ke pojok kanan gawang. Gol indah ini mengunci kemenangan menjadi 3-1 sekaligus melahirkan rekor bersejarah baru di panggung sepak bola dunia.
“Kami ingin menjaga ritme kemenangan dan memberi kesempatan kepada beberapa pemain yang kurang menit bermain. Kehadiran Leo (Messi) selalu memberikan dampak instan, tidak hanya taktis tetapi juga psikologis bagi tim di lapangan,” ujar Lionel Scaloni dalam konferensi pers usai pertandingan.
Ujian sesungguhnya kini telah menanti sang juara bertahan di fase gugur yang diprediksi akan berjalan jauh lebih ketat. Pada babak 32 besar nanti, anak asuh Lionel Scaloni dijadwalkan akan menantang kekuatan tak terduga Cape Verde yang lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.