Di sektor pendidikan, tantangannya juga nyata. Mahasiswa kini mudah memakai AI untuk menulis tugas. Guru dan dosen pun perlu menilai ulang cara mengajar, cara menguji, dan cara membangun nalar kritis. Kalau tidak, kampus bisa menghasilkan lulusan yang jago memakai alat, tapi lemah memahami dampaknya.
Prabowo, dalam konteks itu, menaruh beban kajian ke pundak para guru besar dan profesor. Ia ingin ada kelompok yang tidak hanya terpukau oleh capaian teknologi, tetapi juga berani mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman. Siapa yang bertanggung jawab kalau AI salah? Bagaimana jika sistem makin otonom? Sampai sejauh mana negara harus ikut mengatur?
Peran akademisi, bukan sekadar penonton
Prabowo menilai perkembangan AI yang semakin canggih menunjukkan bahwa manusia telah menciptakan teknologi yang mampu melampaui berbagai kemampuan manusia di sejumlah bidang. Ia mencontohkan mesin yang sudah bisa mengalahkan juara catur dunia dan menghasilkan karya-karya dengan kompleksitas tinggi.
“Mesin sekarang bisa buat karya-karya luar biasa,” ujarnya.
Dari sana, pesan utamanya makin jelas. Akademisi tidak boleh hanya jadi penonton di pinggir lapangan. Mereka diminta ikut masuk ke ruang yang lebih sulit: menimbang manfaat, menghitung risiko, lalu menyusun pagar etika dan tata kelola yang masuk akal.
Di banyak negara maju, debat semacam ini memang sudah rutin. Pemerintah, kampus, dan industri duduk bersama membahas AI governance, batas penggunaan data, sertifikasi sistem, dan perlindungan publik. Indonesia pun akan menghadapi kebutuhan serupa, apalagi jika teknologi itu makin masuk ke layanan kesehatan, pendidikan, keuangan, sampai pertahanan.
Kalau kajian akademik berjalan serius, hasilnya bisa membantu negara mengambil posisi yang lebih aman. Bukan anti-teknologi. Jauh dari itu. Yang dibutuhkan adalah pemanfaatan yang hati-hati, terukur, dan tidak latah mengejar tren.
Prabowo menutup pesannya dengan meminta peran lebih besar dari komunitas ilmiah. “Ini nanti para guru besar, para profesor yang harus mendalami itu,” katanya.
Pernyataan itu bisa dibaca sebagai sinyal awal: Indonesia ingin maju di bidang teknologi, tapi tidak mau buta terhadap risikonya. Soalnya, di depan mata, AI dan nuklir bukan sekadar topik masa depan. Keduanya sudah ada di sini. Tinggal bagaimana negara, kampus, dan industri menyiapkan aturan main yang tidak terlambat.
Ringkasan singkat:
1. Prabowo mengingatkan risiko AI dan nuklir saat menutup forum sains di Jakarta.
2. Ia meminta akademisi mengkaji dampak, bahaya, dan tata kelola teknologi masa depan.
3. Peringatan ini penting karena AI makin masuk ke pendidikan, kesehatan, industri, dan layanan publik di Indonesia.
FAQ singkat
Apa inti pernyataan Prabowo? Ia menegaskan teknologi punya dua sisi: bermanfaat, tapi juga bisa berbahaya jika tak dikendalikan.
Kenapa AI disorot? Karena pengembangannya sangat cepat dan mulai memengaruhi banyak sektor kehidupan.
Siapa yang diminta bertindak? Guru besar, profesor, dan komunitas akademik diminta mendalami dampaknya.
Kutipan penutup: “Ini nanti para guru besar, para profesor yang harus mendalami itu,” kata Prabowo.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.