Minggu, 28 Juni 2026 WIB
BREAKING
EKONOMI BISNIS

UMY gelar JalaRun Fest 2026 untuk dorong gaya hidup sehat

Peserta UMY gelar JalaRun Fest 2026 untuk dorong gaya hidup sehat melintasi rute pedesaan
UMY menggelar JalaRun Fest 2026 di Bantul untuk dorong gaya hidup sehat lewat olahraga lari rute pedesaan dan kampanye budaya lokal yang diikuti ratusan peserta. (Ilustrasi: AI)

BANTUL — Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menggelar JalaRun Fest 2026 di Kabupaten Bantul pada Minggu (28/6/2026). Kegiatan ini menjadi langkah nyata akademisi untuk mendorong masyarakat luas agar membudayakan olahraga lari yang dipadukan dengan unsur kebudayaan lokal.

Langkah ini membawa dampak positif bagi kesadaran kesehatan publik sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif di sekitar kampus. Perpaduan olahraga rekreasi dan kampanye budaya terbukti mampu menarik ratusan peserta lintas generasi untuk turun ke jalan. Kampanye kreatif seperti ini dinilai efektif memecah kejenuhan sosialisasi kesehatan yang selama ini cenderung kaku dan formal.

Pentingnya Menggabungkan Olahraga dan Identitas Budaya

Ketua Pelaksana JalaRun Fest 2026, Selly Defri Antari, menjelaskan bahwa konsep budaya yang diusung tidak terbatas pada seni tradisional saja. Makna budaya dalam festival ini juga mencakup upaya kolektif dalam membangun kebiasaan baru yang lebih sehat lewat olahraga lari. Pihak kampus ingin menciptakan ekosistem di mana olahraga bukan lagi sekadar kewajiban medis, melainkan gaya hidup yang menyenangkan dan berakar pada nilai-nilai kebersamaan lokal.

Festival ini menjadi ajang yang tidak hanya mengajak masyarakat berolahraga, tetapi juga membangun identitas melalui konsep budaya yang dihadirkan dalam setiap rangkaian kegiatan. Kami ingin punya acara yang memiliki identitas,” ujar Selly saat ditemui di lokasi acara, Bantul, Yogyakarta, Minggu (28/6/2026).

Acara ini merupakan hasil kolaborasi dan praktikum mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning). Proses persiapan yang memakan waktu satu bulan lebih ini digarap serius oleh 139 panitia dari kalangan mahasiswa kelas Komunikasi Korporat dan Manajemen Event.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMY, Dr. Takdir Ali Mukti, S.Sos., M.Si., yang turut hadir melepas para pelari, menyatakan apresiasi mendalam terhadap inisiatif mahasiswa. Menurutnya, pembelajaran di luar kelas seperti ini memberikan dampak ganda yang sangat nyata.

“Ini bukan sekadar tugas kuliah untuk mendapatkan nilai. Mahasiswa belajar langsung bagaimana mengelola konflik, menggaet sponsor, berkoordinasi dengan otoritas wilayah, hingga menggerakkan massa. Manfaatnya langsung dirasakan oleh masyarakat Bantul,” kata Takdir di sela-selas acara.

Rute Pedesaan dan Sensasi Kostum Unik Hanoman

Antusiasme publik terhadap agenda olahraga ini tergolong tinggi. Tercatat ada 403 pelari yang ikut berpartisipasi menaklukkan rute sepanjang enam kilometer, dengan total pengunjung di lokasi festival mencapai kisaran 600 hingga 700 orang. Berikut adalah rincian profil peserta dan jangkauan dampak ekonomi dari festival perdana ini:

Kategori Data Festival Jumlah / Detail
Jumlah Pelari Terdaftar 403 Orang
Total Pengunjung Festival 600 – 700 Orang
UMKM Lokal yang Terlibat 25 Stan Kuliner & Kerajinan
Panitia Mahasiswa Aktif 139 Orang
Jarak Rute Lari 6 Kilometer

Peserta tidak hanya disuguhi jalur lari biasa yang monoton di jalan raya aspal yang panas. Mereka diajak melintasi jalanan pedesaan yang asri dengan pemandangan bentangan sawah hijau khas wilayah selatan Yogyakarta. Udara pagi yang bersih menjadi daya tarik utama yang membuat peserta betah bertahan hingga garis akhir.

Salah satu peserta lari asal Sleman, Kristiyono, memberikan apresiasi tinggi terhadap pemilihan rute tersebut. Menurutnya, jalur yang dipilih panitia sangat aman dan tidak mengganggu arus lalu lintas utama Bantul yang biasanya padat di akhir pekan.

“Saya senang kampus mempromosikan gaya hidup sehat dengan cara seru ini. Rutenya juga sangat ramah bagi pelari karena melewati jalan desa dan persawahan sehingga tidak terlalu mengganggu pengguna jalan lain,” tutur Kristiyono.

Menariknya, Kristiyono berlari dengan mengenakan kostum tokoh pewayangan Hanoman lengkap dengan riasan wajah putih dan ekor panjang. Langkah berani ini sengaja ia lakukan sebagai aksi teatrikal untuk mengenalkan karakter pahlawan lokal kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan budaya populer luar negeri. Sepanjang rute lari, kehadirannya menjadi magnet perhatian warga desa yang menonton di pinggir jalan.

Dampak Ekonomi Bagi UMKM Bantul

Kehadiran ratusan pelari dan pengunjung ini membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar area kampus UMY dan wilayah Bantul. Panitia menyediakan area khusus kuliner yang diisi oleh puluhan pedagang lokal, mulai dari penjual minuman tradisional jamu, makanan khas bantul seperti Geplak dan mendoan, hingga produk kerajinan tangan.

Perputaran uang selama acara berlangsung diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah dalam waktu setengah hari saja. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan olahraga rekreasi skala komunitas jika dikemas dengan manajemen event yang baik mampu menjadi mesin penggerak ekonomi yang efektif pascapandemi.

Selain lari santai, JalaRun Fest 2026 turut dimeriahkan oleh kompetisi kostum terbaik, panggung hiburan musik yang menampilkan musisi lokal Yogyakarta, serta pembagian berbagai hadiah menarik bagi para peserta yang berhasil menyelesaikan rute di bawah target waktu.

Ke depan, program studi Ilmu Komunikasi UMY berkomitmen untuk menjadikan festival olahraga berbasis budaya ini sebagai agenda tahunan. Penyelenggara menilai sinergi antara akademisi, masyarakat, dan pelaku industri kreatif lokal harus terus dirawat guna menciptakan ekosistem hidup sehat yang berkelanjutan di Yogyakarta.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram