Antusiasme publik terhadap agenda olahraga ini tergolong tinggi. Tercatat ada 403 pelari yang ikut berpartisipasi menaklukkan rute sepanjang enam kilometer, dengan total pengunjung di lokasi festival mencapai kisaran 600 hingga 700 orang. Berikut adalah rincian profil peserta dan jangkauan dampak ekonomi dari festival perdana ini:
| Kategori Data Festival | Jumlah / Detail |
|---|---|
| Jumlah Pelari Terdaftar | 403 Orang |
| Total Pengunjung Festival | 600 – 700 Orang |
| UMKM Lokal yang Terlibat | 25 Stan Kuliner & Kerajinan |
| Panitia Mahasiswa Aktif | 139 Orang |
| Jarak Rute Lari | 6 Kilometer |
Peserta tidak hanya disuguhi jalur lari biasa yang monoton di jalan raya aspal yang panas. Mereka diajak melintasi jalanan pedesaan yang asri dengan pemandangan bentangan sawah hijau khas wilayah selatan Yogyakarta. Udara pagi yang bersih menjadi daya tarik utama yang membuat peserta betah bertahan hingga garis akhir.
Salah satu peserta lari asal Sleman, Kristiyono, memberikan apresiasi tinggi terhadap pemilihan rute tersebut. Menurutnya, jalur yang dipilih panitia sangat aman dan tidak mengganggu arus lalu lintas utama Bantul yang biasanya padat di akhir pekan.
“Saya senang kampus mempromosikan gaya hidup sehat dengan cara seru ini. Rutenya juga sangat ramah bagi pelari karena melewati jalan desa dan persawahan sehingga tidak terlalu mengganggu pengguna jalan lain,” tutur Kristiyono.
Menariknya, Kristiyono berlari dengan mengenakan kostum tokoh pewayangan Hanoman lengkap dengan riasan wajah putih dan ekor panjang. Langkah berani ini sengaja ia lakukan sebagai aksi teatrikal untuk mengenalkan karakter pahlawan lokal kepada generasi muda yang kini lebih akrab dengan budaya populer luar negeri. Sepanjang rute lari, kehadirannya menjadi magnet perhatian warga desa yang menonton di pinggir jalan.
Dampak Ekonomi Bagi UMKM Bantul
Kehadiran ratusan pelari dan pengunjung ini membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar area kampus UMY dan wilayah Bantul. Panitia menyediakan area khusus kuliner yang diisi oleh puluhan pedagang lokal, mulai dari penjual minuman tradisional jamu, makanan khas bantul seperti Geplak dan mendoan, hingga produk kerajinan tangan.
Perputaran uang selama acara berlangsung diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah dalam waktu setengah hari saja. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan olahraga rekreasi skala komunitas jika dikemas dengan manajemen event yang baik mampu menjadi mesin penggerak ekonomi yang efektif pascapandemi.
Selain lari santai, JalaRun Fest 2026 turut dimeriahkan oleh kompetisi kostum terbaik, panggung hiburan musik yang menampilkan musisi lokal Yogyakarta, serta pembagian berbagai hadiah menarik bagi para peserta yang berhasil menyelesaikan rute di bawah target waktu.
Ke depan, program studi Ilmu Komunikasi UMY berkomitmen untuk menjadikan festival olahraga berbasis budaya ini sebagai agenda tahunan. Penyelenggara menilai sinergi antara akademisi, masyarakat, dan pelaku industri kreatif lokal harus terus dirawat guna menciptakan ekosistem hidup sehat yang berkelanjutan di Yogyakarta.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.