Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Diaspora Iran di Australia Retak, Warga Saling Curiga

Diaspora Iran di Australia diliputi kecurigaan politik
Diaspora Iran di Australia retak oleh tuduhan, trauma, dan kecurigaan politik yang memecah komunitas serta menguatkan rasa tidak aman. (Ilustrasi: AI)

MELBOURNE — diaspora Iran di Australia sedang retak, dengan sebagian warga saling menuduh pengkhianat, simpatisan rezim, hingga “blood-washer” di tengah trauma politik yang belum reda. Ketegangan itu paling terasa di komunitas Iran-Australia di Melbourne, tempat rasa aman berubah jadi rasa waswas.

Dampaknya bukan sekadar cekcok di ruang publik. Banyak orang kini menyaring teman, menahan bicara, dan menjaga jarak bahkan dari sesama perantau yang dulu dianggap satu keluarga besar.

Stigma “blood-washer” memecah diaspora Iran

Seorang analis data asal Melbourne, Sara, menjadi salah satu yang merasakan tekanan itu langsung. Identitasnya disamarkan demi keamanan. Ia mengaku diserang secara verbal oleh anggota komunitas Iran di Australia karena pandangan politiknya, termasuk dituduh sebagai “blood-washer” dan “pengkhianat”.

Dalam bahasa Persia, istilah “blood-washer” merujuk pada upaya menutup-nutupi kematian akibat penindasan brutal pemerintah Iran saat demonstrasi besar awal 2026. Namun, label itu juga dipakai untuk menyerang orang-orang yang tidak mendukung Reza Pahlavi, putra mantan raja Iran yang dipandang sebagian anti-rezim sebagai tokoh panutan.

Sara mengatakan dirinya dan keluarga tidak mendukung monarki, tapi juga menolak pemerintah. Sikap di tengah-tengah itu justru membuatnya jadi sasaran. “Saya paling banyak merasakan kesepian dari komunitas saya dalam beberapa bulan terakhir,” kata Sara.

Ia bukan orang baru dalam tekanan politik. Di Iran, Sara pernah ditangkap, diperiksa, dan diintimidasi oleh aparat. Orang tuanya serta beberapa kerabat juga sempat dipenjara karena sikap politik mereka. Tapi pengalaman itu tak membuat tuduhan dari lingkungan baru di Australia terasa lebih ringan.

Puncaknya terjadi dalam sebuah unjuk rasa di Melbourne. Seorang pendukung monarki berteriak di depan wajah Sara dan menuduhnya pengkhianat karena tak ikut meneriakkan nama Pahlavi. Sara mengaku membeku. Ia tak sempat bereaksi. Beruntung, orang di sekitarnya turun tangan sebelum situasi memburuk.

Trauma lama ikut terbawa ke Australia

Maryam, mahasiswi doktoral di Melbourne, juga memilih memakai nama samaran. Ia mengatakan hidupnya nyaman di kota itu, tapi latar belakang keluarganya sebagai pembangkang politik membuatnya sangat hati-hati dalam membangun relasi.

“Saya tak akan pernah mendekat pada siapa pun yang punya kaitan, sekecil apa pun, dengan pemerintah. Itu batas saya,” ujarnya.

Maryam tahu betul mengapa kehati-hatian itu begitu kuat. Keluarganya pernah dipenjara di Iran karena pandangan politik. Di negara asalnya, ia melihat sendiri bagaimana perbedaan pendapat bisa berujung pada ancaman nyata. Dalam suasana seperti itu, rasa percaya tumbuh sangat lambat. Kadang nyaris tak tumbuh sama sekali.

Ia menyebut masyarakat Iran, baik di dalam maupun luar negeri, terdorong oleh kemarahan dan keputusasaan yang panjang. “Tetangga bisa jadi musuh tetangga lain karena mereka tidak berbagi keyakinan politik yang sama,” katanya.

Kenyataan itu turut diperkuat oleh penilaian lembaga keamanan Australia. Aparat intelijen negara itu telah mengakui pemerintah Iran memakai pola transnational repression, yakni tekanan lintas negara untuk membungkam lawan politik dan keluarga mereka. Ancaman semacam ini membuat warga diaspora terus menengok ke belakang. Siapa yang mengawasi? Siapa yang melapor? Pertanyaan-pertanyaan itu hidup di kepala banyak orang.

Ruang digital memperbesar kecurigaan

Kambiz Razmara, pengacara sekaligus wakil presiden Australian Iranian Society of Victoria, menyebut ikatan budaya warga Iran di Australia masih kuat. Bahasa, puisi, dan makanan masih menjadi perekat. Tapi kohesi sosial dan politiknya rapuh.

Masalahnya, komunitas ini hidup di antara banyak lapis ketakutan: dugaan infiltrasi aktor bermusuhan, jaringan kriminal, sampai individu yang punya kaitan dengan negara. Bagi warga biasa, semua itu sulit diverifikasi. Namun, kecurigaan yang menyebar saja sudah cukup merusak hubungan sosial.

Razmara menilai budaya informan, represi politik, dan ketakutan yang dibawa dari kehidupan di bawah rezim otoriter masih ikut terbawa ke Australia. Dalam ruang demokrasi yang terbuka, sebagian orang justru belum terbiasa berdebat dengan sehat. Perbedaan pendapat cepat berubah jadi serangan personal.

“Banyak orang datang dari lingkungan tempat ketidaksetujuan politik punya konsekuensi nyata, kepercayaan pada institusi rendah, dan partisipasi demokratis terbatas,” kata Razmara.

Di internet, persoalan itu membesar. Media sosial memudahkan disinformasi, menyebarkan tuduhan dengan cepat, lalu mengubah konflik pribadi menjadi kampanye fitnah, doxxing, dan pengawasan. Luka psikologisnya tidak kecil. Diam-diam. Dalam.

Maryam menggambarkan jarak emosional dengan keluarganya di Iran sebagai beban yang terus menekan. Rumah orang tuanya masih punya sambungan telepon rumah, yang sempat sangat berguna saat Iran mengalami pemadaman internet hampir tiga bulan. Tapi biaya menelepon luar negeri mahal, jadi percakapan biasanya singkat.

“Dalam semenit bicara, Anda tidak bisa bilang apa-apa, jadi kami pada dasarnya berbohong: ‘Saya baik-baik saja, bagaimana denganmu?’ ‘Saya baik-baik saja.’ ‘Oke, tidak ada bom, ya!’ ‘Ya, sampai jumpa,’” katanya getir.

Ia hidup dengan beban kuliah beasiswa, tekanan finansial, terapi, dan obat penenang. Teman-temannya ada, tapi tak selalu bisa memahami sepenuhnya apa yang ia hadapi. Jarak 12.000 kilometer membuat semua terasa lebih berat. Dan lebih sunyi.

Razmara menegaskan, yang paling menyakitkan bagi banyak warga Iran di Australia bukan hanya konflik politik di negeri asal. Yang lebih melukai justru kecurigaan di negara tempat mereka mencari aman. “Eksekusi terus berlanjut. Para pembangkang menghilang. Keluarga hidup dalam putus asa dan kelelahan. Tapi kisah mereka jarang tinggal lama di ruang publik,” ujarnya.

Focus keyword: diaspora Iran kini bukan cuma soal identitas perantau. Ia juga soal bagaimana trauma rezim otoriter bisa merembet jauh, memecah solidaritas, dan meninggalkan orang-orang yang seharusnya saling menopang justru saling menjauh.

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda