MANOKWARI — Rp65,3 miliar mengalir ke Manokwari. Jumlah itu bukan omong kosong — itu uang tunai untuk memastikan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional XIV berlangsung sempurna di 18–28 Juni 2026 mendatang. Dari APBN hingga kas daerah, kedua tingkat pemerintahan bergandeng tangan menopang acara religius terbesar di Indonesia tahun ini.
Skala pendanaan itu mencerminkan betapa seriusnya persiapan. Kementerian Agama menggelontorkan Rp29,3 miliar melalui DIPA Kantor Wilayah Papua Barat. Pemerintah Provinsi Papua Barat menambah Rp41 miliar dari APBD — angka fantastis untuk anggaran daerah yang biasanya terbatas. “Dukungan pemerintah pusat disalurkan melalui DIPA Kantor Wilayah Kementerian Agama Papua Barat sebesar Rp29,3 miliar,” jelas Ketua Panitia Pesparawi Nasional XIV Jacob Fonataba saat menutup acara Minggu malam.
Strategi Pendanaan Berjenjang Sejak 2024
Tidak semua uang Provinsi Papua Barat keluar sekaligus. Pemerintah daerah telah merencanakan hal ini bertahun-tahun sebelumnya dengan hitungan cermat.
Tahun 2024, dialokasikan Rp5 miliar untuk tahap persiapan awal — studi kelayakan, koordinasi, dan perencanaan detail. Tahun berikutnya, 2025, pemerintah provinsi menambah hibah Rp10 miliar lagi. Baru memasuki 2026, tahun pelaksanaan sungguhan, paket terbesar dilepas: Rp26 miliar. Urutan ini bukan kebetulan. Strategi bertahap menjaga kas daerah tetap sehat sambil membangun momentum persiapan secara progresif.
Jacob menandaskan pentingnya koordinasi lintas level pemerintahan. “Sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi faktor penting yang mendukung suksesnya penyelenggaraan Pesparawi Nasional XIV di Manokwari,” katanya. Tanpa keselarasan itu, acara sebesar ini mudah berantakan.
Peserta Masif dari Seluruh Nusantara
Pesparawi Nasional XIV bukan event lokal. Ajang ini menarik 6.182 peserta dari 38 provinsi di Indonesia — hampir mencakup seluruh kepulauan nusantara. Peserta berasal dari paduan suara gereja, komunitas religius, hingga kelompok musik non-denominasi. Mereka akan tiba di Manokwari membawa lagu rohani masing-masing dengan harmoni dan interpretasi terbaik mereka.
Acara berlangsung selama 11 hari penuh tanpa henti. Kompetisi meliputi berbagai kategori paduan suara — mulai dari umum dewasa, remaja, anak-anak, hingga kelas khusus. Peserta tiba dengan pendamping, keluarga, dan delegasi institusi. Bayangkan ribuan orang berdatangan ke kota kecil di Papua Barat — logistik dan pengelolaan menjadi kompleks, memerlukan infrastruktur solid dan tim kerja rapi.
Momentum Ekonomi untuk Manokwari
Nilai acara ini melampaui rohani. Jacob tegas menggarisbawahi dampak ekonomi nyata bagi komunitas lokal. Ketika ribuan peserta dan rombongan mereka tiba, mereka membutuhkan segalanya — tempat menginap, makanan, transportasi lokal, kebutuhan sehari-hari. Efek domino ini tidak ringan.
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal merasakan lonjakan permintaan yang jarang terjadi. Rumah makan dan restoran bekerja ekstra shift. Penginapan — dari hotel berbintang hingga homestay sederhana — penuh sesak. Toko oleh-oleh dan kerajinan tangan lokal berjualan lebih laris dari biasanya. Bahkan sopir taksi dan ojek online mendapat bread and butter ekstra dari ribuan peserta yang perlu transportasi.
Sektor pariwisata Manokwari juga mendapat dorongan. Peserta yang datang dari luar Papua Barat pasti penasaran dengan destinasi alam dan budaya lokal. Beberapa akan memanfaatkan liburan mereka untuk menjelajahi danau, pantai, atau warisan budaya setempat. Ini peluang emas bagi pemandu wisata lokal dan bisnis perhotelan untuk membangun reputasi dan pertemanan jangka panjang.
Kepercayaan Penyelenggara Nasional pada Kapasitas Daerah
Kesuksesan Pesparawi Nasional XIV akan berbicara sendiri. Jika acara ini berjalan lancar, selesai tepat waktu, dan meninggalkan kesan positif, Manokwari dan Provinsi Papua Barat akan menjadi radar bagi penyelenggara event nasional dan internasional lainnya.
Kepercayaan itu tidak datang gratis. Harus dibuktikan melalui manajemen acara profesional, koordinasi yang rapi, dan pelayanan peserta yang memuaskan. Daerah yang mampu mengelola ribuan peserta dari berbagai latar belakang, menampung mereka dengan aman dan nyaman, terbukti memiliki kapasitas mengundang event besar lainnya — pameran, konferensi, turnamen olahraga, atau kompetisi seni tingkat nasional.
Posisi strategis Manokwari sebagai ibu kota Papua Barat, ditambah investasi besar-besaran dalam infrastruktur dan sumber daya manusia untuk Pesparawi XIV, akan membuka pintu kesempatan ekonomi jangka panjang bagi daerah. “Panitia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Papua Barat atas komitmen yang diberikan,” terang Jacob. Apresiasi itu adalah penyatuan tekad: Papua Barat siap bersaing di panggung nasional.
Tinggal menunggu Juni 2026 untuk melihat apakah Pesparawi Nasional XIV menjadi launching pad baru bagi Manokwari sebagai kota penyelenggara event bereputasi tinggi.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.