BANDUNG — pemerataan investasi di Jawa Barat didorong agar tak menumpuk di satu wilayah, saat realisasi investasi provinsi ini pada 2025 dilaporkan sudah hampir menyentuh Rp300 triliun. Ketua Komisi III DPRD Jawa Barat, Jajang Rohana, menyebut capaian itu penting dijaga, tetapi manfaatnya harus menyebar ke lebih banyak daerah.
Jajang menyampaikan dorongan itu di Bandung, Minggu. Ia menilai capaian investasi yang melampaui target tidak boleh membuat pemerintah daerah lengah, karena pekerjaan berikutnya justru memastikan modal yang masuk menghasilkan pemerataan pembangunan, bukan sekadar angka besar di laporan tahunan.
Pemerataan investasi Jabar jadi fokus DPRD
Menurut Jajang, kunci agar arus modal tetap tumbuh ada pada kemudahan perizinan, kepastian hukum, dan iklim usaha yang stabil. Tiga hal itu, kata dia, menentukan apakah investor bertahan atau justru mengalihkan modal ke daerah lain yang dinilai lebih siap.
“Oleh karena itu, supaya tidak turun berarti nilai investasinya harus ditingkatkan kemudahan kepastian iklim investasi,” ujar Jajang.
Ia juga menekankan pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas tenaga kerja. Dua faktor ini sering jadi penentu lokasi investasi, terutama untuk industri yang butuh rantai pasok lancar dan buruh terampil. Jika akses jalan, logistik, dan sumber daya manusia tertinggal, investor cenderung berkumpul di wilayah yang sudah lebih matang.
“Lalu infrastruktur dan tenaga kerjanya juga harus ditingkatkan kembali,” kata dia.
Realisasi hampir Rp300 triliun, target terlampaui
Jajang menyebut realisasi investasi Jawa Barat pada 2025 sudah melampaui target pemerintah daerah, dengan nilai hampir Rp300 triliun. Angka itu, menurut dia, ikut mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Barat lebih tinggi dibandingkan 2024.
“Terkait investasi, ini melampaui daripada target. Ini juga membuat pertumbuhan ekonomi meningkat lebih tinggi dari tahun 2024,” ujarnya.
Bagi dunia usaha, capaian itu memberi sinyal bahwa Jawa Barat masih menarik. Bagi masyarakat, efeknya diharapkan terasa melalui pembukaan lapangan kerja, aktivitas industri yang lebih hidup, dan peningkatan permintaan pada sektor pendukung seperti perdagangan, transportasi, serta jasa logistik.
📝 Tinggalkan Komentar
Komentar sebagai . Ditinjau admin sebelum tampil.