Sabtu, 11 Juli 2026 WIB
BREAKING
OLAHRAGA

Drama Menit Akhir, Kanada Tekuk Afrika Selatan 1-0

Selebrasi emosional pemain timnas Kanada setelah berhasil mencetak gol kemenangan
Gol dramatis Stephen Eustáquio di injury time bawa Kanada tekuk Afrika Selatan 1-0. (Ilustrasi: AI)

LOS ANGELES — Gelaran Piala Dunia 2026 menghadirkan tinta emas baru bagi sepak bola Amerika Utara. Tim nasional Kanada sukses mengamankan tiket ke babak 16 besar untuk pertama kalinya sepanjang sejarah setelah menumbangkan Afrika Selatan dengan skor tipis 1-0.

Gol dramatis pada masa injury time memecah kebuntuan sekaligus mengakhiri penantian panjang publik Les Rouges. Bertanding di SoFi Stadium, California, pada Kamis waktu setempat, gol semata wayang Kanada lahir lewat sepakan voli melengkung Stephen Eustáquio pada menit ke-92. Gemuruh luar biasa langsung pecah dari puluhan ribu suporter yang memadati stadion megah tersebut.

Kemenangan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi sepak bola Kanada. Sejak pertama kali berpartisipasi di Piala Dunia pada edisi 1986 dan berlanjut di Qatar 2022, Kanada belum pernah sekalipun lolos dari fase grup. Status sebagai salah satu tuan rumah bersama edisi kali ini benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal oleh anak asuh Jesse Marsch.

## Dominasi Taktis Kanada yang Berujung Frustrasi

Sejak peluit pertama dibunyikan, Kanada langsung mengambil inisiatif serangan dengan garis pertahanan tinggi. Pendekatan taktis Jesse Marsch yang mengandalkan counter-pressing ketat membuat Afrika Selatan kesulitan mengembangkan permainan dari lini belakang. Kanada mencatatkan dominasi mutlak dengan penguasaan bola mencapai 62 persen sepanjang babak pertama.

Les Rouges melepaskan total 12 tembakan, di mana tujuh di antaranya mengarah tepat ke gawang Afrika Selatan yang dikawal ketat oleh Ronwen Williams. Namun, pertahanan rapat Bafana Bafana yang menerapkan blok rendah (*low block*) sempat membuat barisan depan Kanada frustrasi. Williams tampil luar biasa di bawah mistar dengan melakukan lima penyelamatan krusial pada paruh pertama.

Salah satu peluang emas didapat sebelum turun minum melalui skema tendangan sudut. Bek tengah Moise Bombito berhasil memenangi duel udara dan melepaskan sundulan tajam ke sudut kanan gawang. Beruntung bagi Afrika Selatan, bola masih bisa disapu secara heroik tepat di garis gawang oleh bek Aubrey Modiba yang berdiri di posisi tepat.

Ketegangan sempat meningkat di pinggir lapangan memasuki menit ke-40. Bek kanan Richie Laryea dijatuhkan di area terlarang setelah melakukan penetrasi cepat. Kendati demikian, wasit dan VAR mengabaikan tuntutan penalti tersebut. Keputusan ini memicu protes keras dari Jesse Marsch di area teknis hingga dirinya mendapatkan peringatan verbal dari ofisial keempat.

## Dampak Instan Alphonso Davies dan Momen Magis Eustáquio

Memasuki babak kedua, jalannya pertandingan tidak banyak berubah secara konseptual. Afrika Selatan tampak bermain sangat defensif dan cenderung mengulur waktu untuk mengamankan satu poin. Strategi pasif ini membuat kiper Ronwen Williams berulang kali disoraki oleh pendukung tuan rumah setiap kali menguasai bola.

Momen krusial yang mengubah dinamika permainan terjadi pada menit ke-75. Marsch memutuskan untuk memasukkan sang megabintang, Alphonso Davies, yang memulai laga dari bangku cadangan akibat pemulihan cedera hamstring. Pemain Bayern Munich tersebut langsung mengenakan ban kapten dan menempati pos sayap kiri.

Masuknya Davies memberikan dimensi serangan baru bagi Kanada. Kecepatan luar biasa dan kemampuan dribelnya memaksa lini pertahanan Afrika Selatan melebar. Kehadiran Davies juga memberikan ruang lebih bagi para gelandang Kanada untuk mengeksploitasi area tengah lapangan yang mulai kelelahan.

Statistik Pertandingan Kanada Afrika Selatan
Penguasaan Bola 59% 41%
Total Tembakan 18 4
Tembakan Tepat Sasaran 9 1
Penyelamatan Kiper 1 8

Kerja keras tuan rumah akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-92. Berawal dari skema serangan balik cepat di sisi kanan, umpan silang dikirimkan ke kotak penalti Afrika Selatan. Bola liar hasil sapuan yang tidak sempurna dari barisan belakang Bafana Bafana mengarah tepat ke arah Stephen Eustáquio.

Gelandang Los Angeles FC tersebut mengontrol bola dengan dadanya secara tenang sebelum melepaskan sepakan voli mendatar dengan punggung kaki kanan. Bola meluncur deras melewati sela-sela kaki bek lawan dan bersarang telak di pojok bawah gawang Williams yang sudah mati langkah. Skor 1-0 bertahan hingga peluit panjang ditiupkan.

## Tangisan dan Dedikasi Emosional di Lapangan

Kemenangan ini terasa sangat emosional bagi seluruh elemen tim Kanada. Air mata haru terlihat menetes dari wajah para pemain di lapangan. Pelatih Jesse Marsch bahkan tak kuasa menahan rasa bangganya saat berbicara di tengah lingkaran tim usai laga usai.

“Kalian adalah pahlawan Kanada hari ini. Pahlawan bagi anak-anak masa depan negara ini yang memainkan sepak bola,” ujar Marsch dengan suara bergetar di hadapan para pemainnya.

Marsch juga mendedikasikan kemenangan ini secara khusus untuk mendiang kedua orang tua Eustáquio yang telah berpulang dalam dua tahun terakhir. Sang gelandang dinilai layak mendapatkan momen indah ini setelah melewati masa-masa sulit dalam kehidupan pribadinya, sekaligus membuktikan loyalitas tanpa batas bagi lambang daun mapel di dada.

Di kubu lawan, pelatih gaek Afrika Selatan, Hugo Broos, mengisyaratkan bahwa ini merupakan turnamen besar terakhir dalam karier kepelatihannya. Pelatih berusia 74 tahun tersebut mengaku realistis dengan kekuatan timnya yang memang kalah secara kualitas individu dan kolektivitas bermain sepanjang laga.

Pada babak 16 besar nanti, Kanada dijadwalkan akan menantang pemenang laga antara Maroko melawan Belanda di Stadion NRG, Houston. Ujian yang jauh lebih berat kini menanti Les Rouges di fase gugur.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda