Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Kementan perkuat ketahanan pangan di Papua Pegunungan

Kementan perkuat ketahanan pangan di Papua Pegunungan lewat cetak sawah
Kementan perkuat ketahanan pangan di Papua Pegunungan lewat cetak sawah 2.000 hektare pada 2026. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat program cetak sawah baru seluas 2.000 hektare di Provinsi Papua Pegunungan yang ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2026. Langkah taktis ini diambil pemerintah untuk memangkas ketergantungan pasokan logistik antarpulau sekaligus mengamankan pasokan pangan di wilayah timur Indonesia.

Dampak langsung dari program ini adalah terciptanya pusat produksi padi mandiri di dataran tinggi Papua. Selama ini, pasokan beras untuk wilayah pegunungan tengah sangat bergantung pada pengiriman udara dan jalur darat yang ekstrem dari pesisir. Dengan adanya sawah mandiri, biaya logistik pangan yang tinggi bisa ditekan secara signifikan, sehingga harga beras di tingkat konsumen lokal menjadi lebih stabil.

Komitmen nyata ini ditandai dengan aksi tanam padi perdana oleh para petani lokal di Kampung Perabaga, Distrik Piramid, Kabupaten Jayawijaya. Penanaman perdana tersebut menjadi pembuka bagi pengerjaan fisik cetak sawah baru seluas 1.910 hektare yang sedang digenjot Kementan sepanjang tahun ini.

Melibatkan Hak Ulayat dan Masyarakat Adat

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Hermanto, menegaskan bahwa seluruh proses pembukaan lahan baru ini berjalan tanpa konflik agraria. Pihaknya mengutamakan dialog erat dengan para tokoh adat setempat agar proyek strategis nasional ini mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

“Saya melihat luar biasa semangat mama-mama dan kakak-kakak semua untuk mengelola sawahnya. Program cetak sawah yang diprogramkan pemerintah saat sekarang ini sesungguhnya adalah dari masyarakat untuk masyarakat,” ujar Hermanto saat meninjau langsung kegiatan tanam perdana di Jayawijaya, Sabtu.

Hermanto menjamin tidak ada aksi penyerobotan lahan dalam proyek ketahanan pangan ini. Hubungan harmonis dengan pemilik tanah ulayat menjadi kunci utama keberlanjutan program pertanian di Papua Pegunungan.

“Tidak ada perampasan atau pengambilalihan hak ulayat. Semua yang kita kerjakan sudah disepakati bersama oleh tokoh adat, masyarakat adat, dan petani semua,” ucapnya dengan tegas.

Target Sawah Baru 2.000 Hektare

Proyek cetak sawah di wilayah ini bukan baru dimulai dari nol. Sebelumnya, Kementan telah sukses merampungkan fase awal pembukaan lahan sawah produktif seluas 90 hektare yang kini sudah mulai dipanen oleh masyarakat sekitar.

Sisa target sebesar 1.910 hektare akan diselesaikan secara bertahap hingga genap menyentuh angka 2.000 hektare pada tahun 2026. Untuk mendukung produktivitas para petani, pemerintah pusat mengucurkan bantuan sarana produksi pertanian secara lengkap.

Jenis Bantuan Kementan Fungsi dan Manfaat untuk Petani
Benih Padi Unggul Menjamin produktivitas hasil panen tinggi di dataran tinggi
Pupuk Dolomit Memperbaiki tingkat keasaman (pH) tanah di lahan baru
Alat & Mesin Pertanian Mempercepat proses olah tanah dan masa panen (mekanisasi)
Subsidi BBM Meringankan biaya operasional pompa air dan traktor petani

“Khusus untuk Papua Pegunungan ini, kita berikan prioritas untuk bisa membangun pertaniannya, terutama pangannya. Makanya saya sampai dua kali datang ke sini dalam waktu sebulan,” tambah Hermanto.

Mimpi Besar Swasembada Pangan Tanpa Ongkos Kirim Mahal

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sebelumnya menekankan bahwa pengembangan lumbung pangan di wilayah Papua merupakan bagian dari visi besar mewujudkan kemandirian pangan nasional secara merata. Papua dinilai memiliki potensi tanah yang subur dan sumber air melimpah yang belum dioptimalkan secara baik.

Menurut Amran, swasembada pangan regional akan menjadi tameng terkuat Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis iklim global. Mengirim bahan pangan melintasi lautan dinilai sudah tidak efisien lagi di tengah lonjakan biaya bahan bakar.

“Mimpi kita adalah seluruh pulau di Indonesia swasembada pangan. Dengan begitu, tidak perlu lagi pengangkutan pangan antarpulau. Ini adalah solusi permanen untuk mengatasi persoalan inflasi,” pungkas Amran.

Pemerintah berharap masyarakat Jayawijaya konsisten merawat sawah baru ini. Keberhasilan program ini bakal diukur dari indeks pertanaman yang diharapkan bisa naik dari satu kali setahun menjadi dua kali setahun.

(ZA)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda