Senin, 29 Juni 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Prancis Buktikan Nuklir Mampu Menurunkan Emisi dalam Skala Nasional

Prancis Buktikan Nuklir Mampu Menurunkan Emisi dalam Skala Nasional
Energi nuklir Prancis mengubah sistem listrik negara itu dalam skala besar. Foto: JournalArta

PARIS, JOURNALARTA.COM – Energi nuklir Prancis mengubah sistem listrik negara itu dalam skala besar. Pada 2024, Prancis menutup tahun dengan sekitar 67 persen listrik dari tenaga nuklir dan sekitar 95 persen pembangkitannya berasal dari sumber rendah karbon.

Hasil itu penting bukan cuma untuk Paris. Di saat banyak negara masih menimbang cara menekan emisi tanpa membuat listrik sering padam atau mahal, Prancis justru sudah lama menaruh taruhan besar pada reaktor nuklir. Dampaknya terasa sampai hari ini: emisi sektor kelistrikan mereka jauh di bawah rata-rata dunia dan Prancis menjadi eksportir listrik bersih terbesar di Eropa.

Meski mahal di awal, hasilnya besar

Transformasi itu bermula setelah krisis minyak 1973. Saat harga energi melonjak dan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dianggap terlalu berisiko, pemerintah Prancis meluncurkan Messmer Plan, program besar-besaran untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir.

Dalam waktu relatif singkat, puluhan reaktor berdiri dan menjadi tulang punggung sistem kelistrikan nasional. Our World in Data menyebut Prancis membangun armada nuklirnya dalam sekitar 15 tahun. Proses itu memang menuntut biaya besar dan keputusan politik yang tegas, tapi hasilnya bertahan puluhan tahun.

“France built its nuclear fleet in around 15 years and now has one of the cleanest electricity grids in the world,” tulis Our World in Data dalam analisisnya mengenai sistem energi Prancis.

Bagi Prancis, itu bukan sekadar urusan teknologi. Ini soal keamanan energi. Negara itu tak ingin terlalu bergantung pada pasar minyak dan gas yang rentan gejolak. Pilihan pada nuklir memberi pasokan yang stabil dan relatif minim emisi dalam jangka panjang.

Emisi listrik Prancis jauh di bawah rata-rata dunia

Data operator jaringan listrik nasional Prancis, RTE, mencatat intensitas karbon sistem kelistrikan Prancis pada 2024 hanya sekitar 21,7 gram CO₂ per kilowatt-jam. Bandingkan dengan rata-rata global yang menurut Our World in Data berada di kisaran 472 gram CO₂ per kilowatt-jam.

Selisihnya sangat jauh. Artinya, listrik yang keluar dari sistem Prancis menghasilkan emisi yang hanya sebagian kecil dari rata-rata dunia. Ini juga menjelaskan mengapa Prancis sering dijadikan contoh saat negara lain mencari jalan transisi energi yang tetap menjaga pasokan listrik besar dan stabil.

Komposisi listrik rendah karbon Prancis tidak hanya datang dari nuklir. Tenaga air, angin, surya, dan sumber rendah karbon lain ikut menopang sistem. Namun, nuklir tetap jadi fondasi utamanya. Tanpa armada reaktor itu, angka 95 persen listrik rendah karbon nyaris mustahil tercapai.

Keberhasilan ini juga mengubah posisi Prancis di pasar energi Eropa. Pada 2024, negara tersebut mencatat ekspor listrik bersih sebesar 89 TWh, rekor tertinggi dalam sejarah sistem kelistrikannya. Ekspor itu berarti Prancis bukan cuma memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga menyuplai tetangga-tetangganya ketika mereka kekurangan daya.

Pelajaran untuk transisi energi global

Pengalaman Prancis sering dipakai dalam debat besar soal masa depan energi. Sebagian negara menilai nuklir terlalu mahal dan terlalu rumit dari sisi limbah serta risiko keselamatan. Tapi Prancis menunjukkan satu hal yang sulit dibantah: ketika dibangun konsisten dan dijalankan dalam skala nasional, nuklir bisa memangkas emisi listrik dengan cepat dan menjaga keandalan sistem.

Pendiri Environmental Progress, Michael Shellenberger, menyebut capaian itu sebagai salah satu keberhasilan terbesar dalam sejarah dekarbonisasi modern. Ia menilai laju penurunan emisi listrik Prancis layak jadi contoh bagi negara-negara lain yang masih bergulat dengan kebutuhan listrik tinggi dan target iklim yang makin ketat.

“France decarbonized its electricity sector faster than any large country in history,” ujar Shellenberger dalam beberapa kesempatan saat membahas transisi energi global.

Buat pembaca di luar Prancis, data ini punya pesan yang jelas. Transisi energi bukan cuma soal menambah panel surya atau turbin angin. Butuh keputusan kebijakan yang tahan lama, investasi besar, dan keberanian memilih sumber listrik yang bisa menopang sistem dalam puluhan tahun. Prancis sudah lebih dulu mengambil jalan itu, dan hasilnya kini terlihat di angka emisi yang sangat rendah.

Di tengah naiknya kebutuhan listrik untuk industri, rumah tangga, dan pusat data, kisah Prancis memberi gambaran bahwa energi nuklir masih punya tempat penting dalam peta dekarbonisasi. Bukan tanpa kontroversi. Tapi hasilnya nyata. Stabil, rendah emisi, dan besar skalanya.

“Keberhasilan Prancis menunjukkan bahwa dekarbonisasi cepat bukan mimpi,” kata Michael Shellenberger.(KBO Babel)

(RE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda