Minggu, 5 Juli 2026 WIB
BREAKING
TEKNOLOGI

Tesla Ajukan trademark Megapod, Pasar Data Center Sudah Padat

trademark Megapod Tesla untuk data center AI modular
trademark Megapod jadi langkah baru Tesla ke data center AI, tapi nama ini sudah dipakai dan pasar sudah sangat padat. (Ilustrasi: AI)

JAKARTA — trademark Megapod jadi langkah baru Tesla saat perusahaan Elon Musk itu mulai merangsek ke infrastruktur komputasi AI. Pengajuan merek itu muncul ketika Tesla belum punya produk komersial apa pun, tetapi sudah menulis arah yang cukup jelas: membangun paket data center modular yang bisa dipasang cepat dan dipakai untuk beban kerja kecerdasan buatan.

Di atas kertas, ide itu tampak rapi. Di lapangan, jalannya tidak mulus. Nama Megapod ternyata sudah dipakai pihak lain, pasar data center AI sudah sesak, dan Tesla juga harus berhadapan dengan kebiasaan Musk yang berkali-kali tersandung urusan merek dagang.

Isi pengajuan: satu kotak data center AI siap pakai

Dalam dokumen pengajuan merek yang bersifat intent-to-use, Tesla menjelaskan Megapod sebagai platform komputasi AI mandiri. Isinya bukan cuma server. Ada perangkat keras AI, peralatan jaringan, unit distribusi daya, sistem pendingin, sampai perangkat lunak yang dibungkus jadi satu paket.

Bahasa gampangnya begini: alih-alih pelanggan merakit sendiri server, kabel, pendingin, dan suplai listrik di lokasi, Tesla ingin menawarkan sistem plug-and-play. Konsepnya mirip paket jadi. Datang, pasang, nyalakan. Selesai.

Pola penamaan itu juga tidak asing buat Tesla. Perusahaan sudah lebih dulu memakai label “Mega” lewat Megapack, sistem baterai lengkap yang diproduksi di pabrik lalu dipasang cepat di lokasi pelanggan. Megapod, kalau benar meluncur, tampaknya hendak membawa logika yang sama ke dunia komputasi AI.

Masalah pertama: nama yang sudah dipakai orang lain

Di sini letak keruwetannya. Menurut laporan TechRadar Pro, Mitsubishi sudah memiliki produk bernama MegaPod dan memegang mereknya. Submer, perusahaan infrastruktur data center, juga menjual produk yang mereka sebut MegaPod dan mendeskripsikannya sebagai data center in a box. Nama yang dipilih Tesla jadi terasa terlalu dekat dengan produk yang sudah beredar.

Ini bukan kasus pertama bagi Musk. Tesla pernah kesulitan mengamankan merek Robotaxi karena dianggap terlalu generik. Cybercab juga sempat tertahan karena ada pihak lain yang lebih dulu mengajukan nama serupa. Jadi, soal merek dagang, jalan Tesla memang sering belok.

Halaman:123Semua Halaman

(PE)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda