Jumat, 10 Juli 2026 WIB
BREAKING
INTERNASIONAL

Wamenbud: Tabuik jiwa masyarakat Pariaman

Prosesi puncak festival budaya Tabuik jiwa masyarakat Pariaman di Pantai Gandoriah Sumatera Barat
Wamenbud Giring Ganesha menyebut tradisi Tabuik Pariaman sebagai jiwa masyarakat Sumbar. (Ilustrasi: AI)

PARIAMAN — Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha menegaskan bahwa tradisi Tabuik di Kota Pariaman bukan sekadar perayaan tahunan biasa melainkan sudah menjadi jiwa masyarakat Sumatera Barat yang merekatkan nilai spiritualitas dan gotong royong. Kehadiran seni budaya bernilai tinggi ini terbukti sukses mendatangkan ratusan ribu wisatawan ke pesisir Pantai Gandoriah. Dampak ekonominya langsung dirasakan oleh pelaku usaha lokal lewat perputaran uang dari sektor pariwisata yang melonjak tajam dibanding penyelenggaraan tahun lalu.

Geliat ekonomi ini terlihat nyata di sepanjang garis pantai. Mulai dari penginapan yang penuh dipesan, warung makan yang kehabisan stok, hingga pedagang suvenir yang meraup untung berkali-kali lipat. Pesta budaya ini bukan lagi sekadar ritual adat, melainkan motor penggerak ekonomi riil masyarakat bawah.

Spiritualitas dan Semangat Gotong Royong Tradisi Tabuik

Saat memberikan sambutan pada puncak Pesona Budaya Tabuik Piaman 2026 di Pariaman hari Minggu, Giring Ganesha mengungkapkan rasa kagumnya terhadap kekuatan budaya lokal ini. Struktur menara kayu setinggi belasan meter dengan bobot ratusan kilogram tersebut hanya bisa berdiri dan diarak berkat kekuatan komunal warga. Proses pembuatan hingga pengarakan melibatkan ratusan pemuda yang bekerja tanpa pamrih.

“Ketika bicara soal tradisi Tabuik, ada rasa hangat yang muncul. Ini merupakan ekspresi budaya yang memadukan spiritualitas, seni, dan semangat gotong royong yang tidak lekang oleh waktu,” ujar Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha di hadapan lautan manusia yang memadati area pantai.

Sangat menakjubkan melihatnya langsung. Giring juga mengaitkan esensi kerukunan warga ini dengan visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kebudayaan sebagai pilar utama kekuatan karakter bangsa Indonesia. Menurutnya, tanah Sumatera Barat sejak dulu telah melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa yang berkarakter kuat seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, hingga Buya Hamka. Karakter luhur tersebut lahir dari rahim kebudayaan yang kuat, salah satunya terpelihara lewat upacara adat seperti ini.

Setengah Juta Wisatawan Padati Pantai Gandoriah

Puncak ritual kolosal ini ditandai dengan prosesi melarung dua struktur besar, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, ke tengah laut lepas saat matahari mulai terbenam. Prosesi adat hoyak ini memicu antusiasme luar biasa dari para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru daerah. Sorak-sorai penonton pecah mengiringi detik-detik pembuangan benda adat tersebut ke samudra.

Penjabat Wali Kota Pariaman Yota Balad mengonfirmasi adanya peningkatan signifikan pada jumlah kunjungan turis tahun ini. Agenda yang kembali masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata ini sukses menjaring animo global secara nyata. Pemerintah daerah mencatat pergerakan manusia yang luar biasa sejak pagi hari.

“Jumlah wisatawan mencapai lima ratus ribu orang,” kata Yota Balad menjelaskan volume kunjungan. Dia menambahkan bahwa para pelancong yang hadir tidak hanya berasal dari dalam negeri saja, melainkan ada juga turis asing dari Amerika Serikat hingga Belanda yang sengaja datang demi menyaksikan langsung momen sakral tersebut.

Dampak Ekonomi Riil Tradisi Tabuik Pariaman

Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi pihak yang paling diuntungkan dari gelaran kolosal ini. Pemerintah Kota Pariaman mencatat adanya kenaikan transaksi yang luar biasa di sekitar lokasi acara. Untuk memberikan gambaran peta ekonomi selama festival, berikut adalah estimasi perputaran uang pada sektor-sektor utama di sekitar Pantai Gandoriah selama pekan puncak perayaan:

Sektor Usaha Rata-rata Kenaikan Omzet Dampak Penyerapan Tenaga Kerja
Kuliner Lokal (Nasi Sek, Kuliner Laut) 300% – 400% Sangat Tinggi (Pekerja Harian Tambahan)
Penginapan & Homestay 100% (Okupansi Penuh) Tinggi (Sektor Jasa & Kebersihan)
Transportasi & Parkir 250% Sedang (Pemuda Setempat)
Kerajinan Tangan & Suvenir 150% Sedang (Perajin Rumah Tangga)

Angka-angka ini mempertegas bahwa tradisi Tabuik bukan sekadar tontonan estetik semata. Ada rantai nilai ekonomi yang menghidupi ribuan kepala keluarga di Pariaman. Hubungan timbal balik antara pelestarian budaya dan kesejahteraan masyarakat ini menjadi contoh ideal bagaimana kebudayaan dapat menghidupi masyarakatnya sendiri.

Pemerintah daerah kini mulai bersiap untuk merancang strategi pengelolaan zonasi pedagang yang lebih rapi untuk penyelenggaraan tahun depan. Langkah ini dinilai penting agar kenyamanan wisatawan tetap terjaga di tengah membeludaknya lautan manusia. Dinas Pariwisata setempat juga berencana memperpanjang durasi festival pendukung agar masa tinggal wisatawan di Pariaman menjadi lebih lama.

(AN)

📲
Ikuti JournalArta News di Telegram

Dapatkan berita terbaru Bangka Belitung & nasional langsung di Telegram Anda. Gratis, no spam.

💬 Follow @journalartanews →
Bagikan: Facebook Twitter Telegram

Artikel Untuk Anda